Yang Cerdas dan Dekat dengan Allah Ar Rahman

Yang Cerdas dan Dekat dengan Allah Ar Rahman

Category : Cerita , Featured

FATHINA ZULFA RAHMANIA

Catatan hati ini kami persembahkan bagi buah hati kami tercinta, Fathina Zulfa Rahmania. Semoga engkau menjadi wanita cerdas yang dekat dengan Allah Ar Rahman.

KELAHIRAN

24 oktober 2008.

Hari ini telah lewat 4 hari dari waktu yang diperkirakan dokter tentang kelahiran jabang bayiku. Belum ada tanda-tanda. Ku tak merasa hal yang aneh. Sedikit kram di perut kuanggap sebagai akibat dari persenggamaan kami tadi pagi. Memang itu yang biasa terjadi setelah kami berhubungan di masa akhir kehamilanku. Dokter pernah mewanti-wanti jika sampai akhir pekan ini bayiku belum juga lahir, hanya ada dua cara, induksi atau caesar. Ya Allah…ku selalu berdoa agar dimudahkan dalam proses persalinan.

Sebelum berangkat kerja mas berpesan..”jangan lupa ya say sms aku kalo ada apa2, kalo gak bisa telpon kantor aja..”

09.00

Perutku sakit..ku pergi kekamar mandi untuk BAB..ku melihat sedikit flek di celanaku. Ku masih berfikir ini hal biasa. Karena sebelumnya ku juga pernah mengalami keluarnya flek seperti ini. Kata dokter itu akibat bayiku bertambah besar, sehingga ada pergesekan dengan rahim. Namun ku mulai memakai pembalut. Sekedar jaga-jaga, mungkin ini darah pertanda bayiku akan lahir.

Ku sms mas ferry..”mas, ku mulai keluar darah.mas siap2 aja ya kalo ku minta pulang. Paling nanti sore baru mulai melahirkan.” Alhamdulillah smsku sampai, padahal biasanya susah, dan mas langsung telepon.

Kunyatakan bahwa ku baik2 saja. Sakitnya masih bisa ditanggulangi, mas siap2 aja habis sholat jumat pulang.

Kupakai balsem di perutku. Rasanya mulas seperti mau BAB. Ku bawa tidur biar g kerasa sakit. Sakitnya reda sebentar..kemudian sakit lagi.. Kata buku, awalnya 30 menit sekali dan Cuma sebentar2, ini akan berlangsung hingga 8 jam. Kalau sudah setiap 10 menit sekali atau lebih cepat, berarti waktu melahirkan sudah dekat. Ku lihat jam di Hpku 09.10.sakitnya mereda kemudian 09.15 sakit lagi. Semakin lama semakin cepat. Tapi ku anggap mungkin karena menahan sakit, makanya ku tidak bisa menghitung waktu dengan benar.

09.15

Ku ke kamar mandi, pipis lagi, darahnya semakin banyak. Bukan Cuma flek, berarti memang hari ini ku akan melahirkan. Ku kembali lagi ke kamar. Ku sms mas lagi. “mas, darahnya semakin banyak, bukan Cuma flek.”

Mas telpon lagi dan tanya apa ku mau dipanggilin mba hasanah buat temenin aku, dan mas bilang akan pulang segera. Ku Cuma pikir akan ngerepotin banget kalo mba hasanah ke sini. Ku juga gak bisa ngeladenin, biar ku sendiri aja ngerasain sakit. Ku bilang gak usah bilang mba hasanah tapi mas usahain cepet pulang.

09.45

Ku dah bolak-balik terus ke kamar mandi. Sekarang g Cuma pipis yang keluar, tapi juga kotoran. Langkahku dah gontai , sambil nahan sakit. Tapi ku gak mau pipis or BAB di kasur, kasihan mas, bingung bersihinnya, lagian juga jorok banget kali.

Kali ini, ku ke kamar mandi lagi, rasanya mau BAB banget, dengan merinding ku jongkok, ku ngeden, gak ada kotoran yang keluar. Tapi rasanya mules banget. Ku ngeden lagi, tapi gak kuat2, inget kata orang, ku takut bayiku lahir di kamar mandi. Gak ada juga kotoran yang keluar. Tapi ku tetap mules, akhirnya kungeden kuat2. Tiba2 …tus…  ada bunyi meletus, wah air ketubannya sudah pecah.

10.00

Mas koq belum sampe juga ya. Ku inget, motor mas kan dipinjem anak IQRO tadi pagi, jadi mungkin mas gak bisa cepet2. Ku telepon mas…dengan suara pelan, ku Cuma bisa bilang…”mas..cepetan”.

Rasanya tambah mules.ku bolak2 kamar mandi, sekarang murni kaya mo BAB. Ku pegang anusku, sudah g ada kotoran yang mau keluar, tapi koq kaya ada bulatan sebesar bola yang mau keluar. Ku bingung..di kamar mandi ku telepon mas lagi….”mas,,, cepetan, dah gak kuat lagi nih”.mas malah mau ngajakin ngorol..langsung kututup teleponnya. Gak kuat kali buat ngobrol2 gitu.

Ku balik ke kamar…ku telepon ukhti mitha, temenku yang juga bidan. Ku Cuma bilang “ukh, bisa ke rumah ana sekarang gak, kayaknya sudah mau keluar sekarang bayinya”. Ukhti mitha menyanggupi.

10.15

Mas akhirnya sampe..ku Cuma bisa mengeliat aja di kasur. Sudah gak kuat jalan. Kepala bayi sudah kerasa mendesak untuk keluar lewat Mrs.V ku. Ku Cuma bisa tidur miring sambil menahan  sambil merinding menahan sakit biar bayinya bisa tunggu bidan datang. Ku g mau anakku lahir g ada tenaga ahli yang nolong..bingung..kalo terjadi apa2 kan kita g bisa ngapa2in. ku kasih no klinik ke mas. Mas langsung telepon.

Mas keluar, banyak ibu2 tetangga yang datang. Mereka melihatku sambil berusaha memanggil bantuan. Ku bilang bidannya sudah di jalan bu. Mereka juga kelihatan panik. Darah yang keluar sudah banyak, memenuhi kasur.

Mas masuk, bilang gak lama lagi bidannya datang.mas suruh ku sabar. Ku tetap nahan. Kalau ku coba dengan posisi terlentang, kerasa banget kepalanya sudah bersiap menerobos lubang Mrs Vku. Gak tahu sudah selebar apa sekarang. Yang jelas ku juga takut Mrs Vku robek dan gak ada yang nolong dan pendarahan.

10.30

Mitha datang..ibu2 diminta keluar, tinggal mas aku dan mitha yang ada di kamr. Tanpa panjang lebar ku langsung dengan posisi mengangkang. Ku kasihan sama bayinya,selain itu juga sakit banget. Ku mau cepat selesai.

Sampe ku disuruh sabar dulu sama mitha. Gak lama dia pake hanskoon, suruh ku posisi mengangkang lebar dan kepala agak diangkat. Wah..gak kuat lagi ngangkat kepala…ku minta mas ambil bantal buat ganjel kepala aku.

Kasihan juga ku lihat mas panik dan berusaha tenangin aku. Dia bolak2 aja. Jauh dari rencana kami yang sebelumnya mau merekam peristiwa bersejarah ini.

Ku siap, mitha siap, dan ku mulai mengejan.satu kali…dua kali…tiga kali..seperti ada bola yang keluar dari Mrs V aku dan setelah itu ada buntutnya. Tak ada suara apapun..hingga suara tangisan itu keluar.bayiku…mas mencium keningku dan mengucapkan “terimakasi ya di, kamu sudah jadi ibu sekarang.”

Mitha memotong tali pusat yang menghubungkan ku dan bayiku. Membungkus bayiku dan…sayup2 ku dengar mas mengazankannya.air mataku mengalir..penuh haru..anakku akhirnya lahir…aku jadi ibu…pikiranku menerawang, ingat ibuku..ibu mertuaku..dan ibu2 yang lain. Sungguh berat perjuangan para ibu.

Kemudian perutku dipijat2 agak plasenta yang tersisa keluar dari rahimku. Setelah itu sudah..ku heran, tak di jahit.kata mitha Mrs Vku tak robek, hebat, elastis.

Alhamdulillah nak…kelahiranmu dipermudah Allah..bahkan sampai ummi tidak harus dijahit… terimakasih ibu2ku atas doa kalian.

Ibu2 tetangga berhamburan masuk..semua mengucap hamdalah dan meneteskan air mata bahagia. Bahkan ibu amad mengucapkan selamat sambil mencium keningku. Ummi Habib langsung meraih dan menggendong bayiku. Aku sangat bersyukur diberikan tetangga yang sangat baik. Hingga walau jauh dari orangtua, ku masih bisa melahirkan dengan selamat di sini..


Leave a Reply