Think Before You Think

Think Before You Think

Category : Featured , Semua , Wawasan

Saya memohon ampun kepada Allah, dan selayaknya kita pun memohon  ampun kepadaNya atas segala khilaf kata dan perbuatan, karena manusia memang tempatnya khilaf dan lupa. Bagaimana tidak? Rasulullah saw Al Ma’shum (yang dijaga dari dosa) saja beristighfar 70x dalam sehari[i] atau bahkan dalam riwayat yang lain sampai dengan 100x dalam sehari[ii]. Bagaimana dengan kita? Bahkan terkadang kita lupa ada Allah yang pengawasannya lebih dekat dari urat leher[iii]. Astaghfirullah.

 

Tak ada yang patut disombongkan dari pribadi kita sebagai manusia, bahkan ilmu yang ada di dunia ini hanya sekedar celupan jari kita di lautan yang luas… Allah lah yang berhak memakai baju kesombongan, dan bukannya kita manusia yang dapat Allah hinakan atau muliakan dalam sekejap…[iv]

 

Ikhwah fillah, saudaraku yang dimuliakan Allah.

Izinkan saya mecurahkan isi hati dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat bermakna dan bermanfaat untuk kita semua, terutama kepada saya yang mengungkapkan. Karena apalah arti berbicara apabila tidak terdapat kebaikan di dalamnya, dan bahkan dapat menjerumuskan kita dalam kema’shiyatan kepada Allah SWT. “Katakanlah yang benar atau diam”. Tulisan ini sebagiannya juga pernah saya sampaikan dalam khutbah Jumat di Flinders University.

 

Saudaraku yang diberkahi Allah,

Allah SWT berkali-kali menyebut akal dalam Al Quran, dan bahkan memerintahkan dan atau meminta kita untuk mempergunakannya, seperti: Afala ta’qiluun, afala tatadabbaruun, liqowmiy ya’qiluun, dsb. Akal inilah yang memang menjadikan kita berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal ini, kita akan mendapatkan kebaikan dan keberkahan, namun di sisi lain, akal juga dapat menjerumuskan kepada kezhaliman… Masya Allah.

 

THINK BEFORE YOU THINK

 

Saudaraku, berfikirlah sebelum kita berfikir atas sesuatu. Memang mudah sekali terlintas fikiran dan mudah sekali kita tergoda untuk melakukannya. Dari fikiran inilah banyak keluarga yang retak, organisasi yang hancur, dan negara yang rusak…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK THAT YOU CANNOT CHANGE.

 

Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap optimis terhadap masa depan. Disaat kondisi yang terjepit saat perang Khandaq (kondisi badai, lapar, dan dikepung musuh dari segenap penjuru selama berminggu-minggu), Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa Romawi dan Persia akan diktaklukkan[v]. Dan isyarat itu baru terwujudkan setelah 8 abad Rasulullah saw menyampaikan sabdanya. Adalah fitrah manusia dan menjadi sunnatullah perubahan itu. Siapa yang membantu kita merangkak, duduk, berdiri, berjalan, bahkan berlari? Adalah kita sendiri yang berupaya dan Allah yang mengqabulkannya. Kita berusaha dan Allah yang mewujudkannya. Tapi kalaulah kita diam dan hanya bersuara sana-sini, mimpi besar itu takkan pernah tercapai.

 

Bertahap saudaraku, bertahap… Siapa sangka komputer sebesar ruangan dapat berubah menjadi laptop seperti sekarang atau iPad yang lebih mungil lagi. Siapa kira kita dapat mengetahui apa yan terjadi di belahan bumi yang lain melalui dunia maya dalam sekejap. Bertahap saudaraku, bertahap…

Yang terpenting kita MULAI DARI DIRI SENDIRI, MULAI DARI YANG TERKECIL, DAN MULAI DARI SEKARANG[vi]. Manfaat apa yang dapat kita berikan bagi ummat (bukan hanya Islam tentunya, karena Islam rahmatan lil ‘alamiin), bukannya menunggu dan terlalu lama dalam pembahasan…

 

Perubahan itu dimulai dari diri sendiri, lantas darinya perubahan itu dimulai. Ummat Islam memiliki izzah (kemuliaan) di waktu lalu adalah karena kedekatan dan ketaqwaan mereka kepada Allah. Dari pribadi-pribadi yang unggul itulah masyarakat terwarnai dan akhirnya berubah, dan dari kumpulan masyarakat itulah akhirnya satu bangsa menjadi berjaya. Bagaimana ketika membaca kisah Umar ra sebagai seorang khalifah tidak memiliki baju yang memadai bahkan untuk dirinya sendiri[vii], bagaimana kisah masyarakat Umar bin Abdul Azis yang tidak mau dikategorikan miskin dan bahkan Baitul Mal kesulitan untuk mebagikan zakat yang berlimpah, bagaimana imam Ahmad mempertahankan aqidahnya di depan penguasa yang hendak membunuhnya? Adalah ketaqwaan jawabannya.. Mereka telah terbiasa bekerja profesional di siang hari, dan menjadi rahib di malam hari. Quran menjadi teman setianya, tahajud menjadi sarana mendekatkan dirinya, puasa menjadi benteng hawa nafsunya…. Mereka tahu ada Allah yang menyertai mereka… Sabar tatkala kesulitan melanda, Syukur tatkala kebahagiaan tiba… Jawabannya, mereka telah memiliki akal yang menuntun mereka kepada kebenaran, karena akal mereka dituntun oleh hati yang telah bersih suci… Bagaimana dengan kita… Mari kita berubah… Think before you think you cannot change.

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK NEGATIVELY OF ANYONE.

 

Saudaraku, jauhilah prasangka, karena dari prasangka itulah asy syaithan melakukan upayanya menjerumuskan kita.. Allah swt telah memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka. Prasangka akan membawa kepada kehancuran, suami yang selalu mencuriai istrinya akan berakhir dengan keretakan rumah tangga, orang tua yang mencurigai anaknya, akan berakhir dengan pemutusan silaturahim, satu anggota organisasi mencurigai satu anggota organisasi yang lain akan berujung pada kehancuran organisasi tersebut. Banyaklah kisahnya tak perlu saya sebutkan.

 

Dalam Islam kita diajarkan untuk memberitahu istri kita apabila kita hendak pulang ke rumah. Ada dua kebaikan di dalamnya, pertama memberikan kesempatan istri kita untuk berhias dan memberikan pemahaman kepada istri kita bahwa kita tak mencurigai sedikitpun apa yang dilakukannya di dalam rumah. Bagaimana dengan kita? Saat kita dengar istri kita menelpon dengan sorang laki-laki, kita lantas curiga… membuka pintu dengan cepat seakan hendak memergokinya dan sebagainya. Berprasanka baik itu tak ada habisnya, bahkan apabila kita menemukan seribu indikasi tertentu atas saudara kita, kita harus mencari satu alasan untuk berprasangka baik terhadapnya.

 

Yang saya maksudkan disini bukanlah waspada, karena bersikap waspada menjadi bagian dari Islam. Waspada berarti melakukan pembenahan dalam diri organisasi, masyarakat, atau bangsa. Membenahi pemahamannya sehingga tidak terpengaruh dengan pemahaman luar dan sebagainya. Ilmu menjadi jawabannya. Semakin banyak ilmu yang dimiliki oleh seseorang, semakin bijaklah seseorang tersebut dalam mengambil keputusan, semakin bijak dalam memandang sesuatu. Semakin kuatlah pertahanan yang dimilikinya. Karena itulah Islam memerintahkan kita untuk menuntut ilmu. Tidak merasa cukup atas ilmu, terlebih lagi ilmu agama, karena yang kita miliki belum seberapa. Pertanyaan sederhana yang mungkin semua muslim belum tahu, apa bedanya najis dengan hadats? Bagaimana lalu jika pertanyaannya menyangkut aqidah? Akan semakin sulit bagi seseorang yang belum memiliki pemahaman mendalam terhadapnya untuk menangkis dan mempertahankannya… Masya Allah…

 

Hal terpenting berikutnya dari bagian ini adalah mengupayakan agar saudara kita tidak terjebak atas prasangka yang negatif terhadap kita. Dalam satu kisah, tatkala Rasulullah saw berjalan berdua dengan istrinya Ummu Salamah di malam yang gelap selepas sholat isya (saat itu belum ada penerangan jalan), berpapasanlah dengan cepat dua orang sahabat. Saat itu, Rasulullah saw memanggil kedua sahabat itu mendekat dan memberitahukan bahwa ia saat itu sedang berjalan dengan istrinya. Sahabat pun bingung, dan mempertanyakan kenapa Rasulullah menyampaikan hal tersebut karena mereka tahu ia adalah Rasulullah saw yang tak mungkin berma’shiyat. Rasululla menjelaskan bahwa ia lakukan itu agar syaithan tak mengambil kesempatan untuk melakukan tipu dayanya menerbarkan prasangka buruk.

 

Tabayunlah, cek dan ricek kebenaran informasi tersebut… Jangan sampai kita menjadi bagian penyebar fitnah, penyebar kedengkian… Kalaupun benar adanya, simpanlah itu, karena Allah akan menutup aib kita apabila kita berupaya menutup aib orang lain. Nasehatilah ia tidak di depan publik, berbicralah dengannya dari hati kehati. Kalaupun ia tidak mau berubah, niscaya akan kita dapati hikmah dibaliknya… Subhanallah… Think before you think negatively of anyone…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK THAT EVERYONE IS GENERALLY THE SAME.

 

Ketika kita dapati seseorang dalam satu organisasi melakukan perbuatan ma’shiyat, belum tentu semua orang dalam organisasi tersebut melakukan hal yang sama. Hal inilah yang terjadi ketika Islam diidentikan dengan terorisme. Seperti yang dosen saya (Pure Australian) di Uni Adelaide menceritakan tentang perlakuan terhadap orang Islam di Adelaide pasca serangan 11 September. Ada muslimah yang dilempar telur, ditarik jilbabnya dan seterusnya. Itulah yang terjadi ketika kita meng generalisir suatu hal… kehancuran dan permusuhan…

 

Buktikan saja sendiri, niscaya akan kau dapati bahwa mereka insya Allah ada bedanya…. Kita hanya bisa dapati tipikal kesukaan dan tingkah laku anggota satu organisasi tapi kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa semua anggotanya memiliki kelakuan dan keinginan yang sama…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK YOU CAN DO ALL BY YOURSELF.

 

Mobil hanya akan berjalan baik apabila ada Setir, Mesin, Oli, Ban, Bensin, dan seterusnya. Semuanya bekerja sama untuk berjalan. KH Zainuddin MZ pernah mencontohkan bahwa tangan yang satu apabila gatal, maka ia memerlukan tangan yang lain untuk membantu menggaruknya. Begitulah, kita diciptakan Allah saling bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan berbeda satu sama lain untuk bahu membahu mewujudkan kejayaan Islam. Rindu saat Islam berjaya di setiap lini ilmu pengetahuan, bahkan menjadi pionirnya.

 

Perdebatan hanya akan menimbulkan kerugian. Diskusi yang membangun itu yang diperlukan. Siapa saja dalam satu organisasi yang memiliki satu keahlian, dapat membaginya dengan yang lain. Niscaya, cahaya kebahagiaan dan cita-cita yang didamba Insya Allah dapat segera tercapai. Mari kita bangun kembali TPA-TPA di sekitar kediaman kita, jika tidak ada yang menggerakkan kita yang mulai, minta dukungan dari MIIAS, Ibu-ibu bahu membahu buat PKK di setiap unit untuk kesejahteraan ibu-ibu, bengkel atau tukang cukur, dan semua difasilitasi MIIAS… insya Allah dengan upaya ini dapat membiasakan kita berfikir produktif dan bermanfaat dengan berjamaah.

 

Ibarat motor, perlu ada perbaikan, tune up, dan sebagainya hingga ia dapat berjalan dengan mulus di jalan. Beraneka ragam peristiwa yang terjadi di kehidupan kita menyebabkan kita kadang lemah iman, futur (para sahabat dikatakan futur apabila tidak membaca satu Juz Al Quran dalam satu hari, dan umar merasa dirinya futur tatkala ketinggalan rakaat shalat berjamaah. Lalu futur kita?

 

Masihkah kita merasa aman dengan kebaikan yang kita miliki sekarang? Padahal Umar ra yang telah dijamin masuk surga menyatakan dirinya akan sangat baagia tatkala Kebaikan dirinya sama dengan keburukan dirinya? Lalu bagaimana dengan kita? Masihkah kita angkuh dengan titel yang kita miliki, gelar yang kita raih, jabatan yang kita duduki, ilmu yang kita punya? Semuanya akan percuma tatkala itu tak membantu menghantarkan kita ke surganya. Akal cerdas yang kita miliki takkan berarti tanpa ilmu dan iman yang kian bertambah. Berapa banyak sudah bukti orang-orang berilmu tanpa keimanan yang akhirnya menjatuhkan dirinya dalam lembah kehinaan namun kita masih tidak mau berfikir…

 

THINK saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK…

 

Milis bukanlah sarana utama menambah ilmu, karena di dalamnya menurut yang saya amati berasal dari banyak sumber, yang mengakibatkan kita bingung untuk bersikap atau mengambil kesimpulan mana yang benar. Mengapa? Karena dasar pemahaman kita belum kuat.

 

Dalam mengkaji ilmu. Seharusnyalah kita mengikuti teladan Nabi Musa as yang memilih 12 orang naqib (yang memiliki ilmu lebih) untuk menuntun para sahabatnya dalam tiap kelompok[viii]. Yang mempersaudarakan satu muhajirin dengan satu anshar. Mengikuti salafus shalih seperti Syafii yang mengahi dari satu syaikh ke satu syaikh yang lain, tidak pada saat yang bersamaan. Karena setiap guru memiliki konsep yang berbeda, karena memiliki tahapan ilmu atau bahkan metodologi penyampaian yang berbeda. Bukankah kita dalam melakukan riset selalu hanya diawasi satu orang supervisor yang mengarahkan kita?

 

Lalu? Solusinya adalah kembalilah mengaji seperti seharusnya, dari satu guru yang memberikan pemahamannya atas satu ilmu, baru kepada yang lain. Jadikanlah rujukan-rujukan yang lain layaknya referensi bukan saran utama. Bukan begitu? Nah, dengan momentum ini saya mengajak diri saya untuk ikut bagian dalam berbagai pengajian… Kalau mau dengan saya setiap Sabtu, Maghrib berjamaah sampai satu jam selepas Isya di Payneham. Di situ akan dibahas dasar utama kita memahami Islam, Al Quran dan Kitabus Sunnah (Fiqh Sunnah) dan penekanan materi dasar keislaman. Saya menyebutnya liqo (pertemuan) karena bahasa liqo adalah bahasa Arab yang bahkan orang NU seperti saya mempergunakannya atau kalau mendengarkan radio Asy Syafiiyyah anda akan mendengarkan kata tersebut.

 

Atau saudaraku, ikutilah pengajian-pengajian lain yang ada di sekitar anda yang setidaknya diselenggarakan oleh MIIAS. Subhanallah, semangat organisasi ini berdakwah sungguh sangat luar biasa. Lalu mengapa kita tidak mencobanya dan membuktikan tudingan-tudingan miring atasnya… Pembuktian atas sesuatu akan meningkatkan kepercayaan kita terhadap sesuatu.

 

Terakhir, berhati-hatilah, semangatlah dan think before you think. Ayo semangat mengaji.

Ikhwah fillah, Ila liqo (sampai ketemu dalam pertemuan), insya Allah…

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”[ix]

 

Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thariq.

 

Adelaide, September 2011

Ferry Taufik Saleh

 

 



[i] Riyadhus Shalihin, HR Bukhari, Hadits ke 1870

[ii] Riyadhus Shalihin, HR Muslim, Hadits ke 1869

[iii] Quran Surah Qaaf ayat 16

[iv] Quran Surah Ali Imran ayat 26-27

[v] Shafiyurrahman al Mubarakfury, Rahiqul Makhtum

[vi] KH. Abdullah Gymnastiar, 3M

[vii] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin

[viii] Al Quran Surah Al Maaidah ayat 12

[ix] Al Quran Surah Al Fath ayat 29


Leave a Reply