Studi Analitis Singkat Atas Konsep Da’wah Imam Asy Syahid Hasan Al Banna Dalam Muqoddimah Risalah Ta’lim

Studi Analitis Singkat Atas Konsep Da’wah Imam Asy Syahid Hasan Al Banna Dalam Muqoddimah Risalah Ta’lim

Category : Semua , Wawasan

Ferry Taufik Saleh

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang mempergilirkan Siang dengan Malam, yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, yang Maha Esa, yang benar janji-janjiNya, yang menolong hamba-hambaNya, yang menguatkan jundi-jundiNya, dan yang menaklukkan musuh-musuhNya sendirian.

Sholawat dan salam tercurah kepada uswatun hasanah, Rasulullah saw, yang berperangai agung, yang tiada bandingan, teladan bagi para pencari ilmu, da’i, dan mujahid yang berjuang di jalan Allah.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33)

Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, mujaddid di masanya, telah menyebarluaskan ide pemikiran dan konsepnya mengenai da’wah Islam di muka bumi. Disambut baik dengan telah banyaknya ikhwah di seluruh dunia bergabung ke dalam jama’ah yang dibentuknya, “Ikhwanul Muslimin (IM)”. Konsepnya mengenai dakwah telah banyak tersebar dalam berbagai tulisan beliau, salah satu diantaranya adalah Risalah Ta’lim.

Risalah Ta’lim, peninggalan paling berharga Hasan Al Banna, merupakan buah pandang yang bernash dan jitu terhadap perjalanan sejarah, realitas umat, dan pemahamannya yang akurat tentana nash-nash syariat. Risalah Ta’lim terdiri atas muqoddimah, dua bagian sub judul; ‘Rukun-rukun bai’at’ dan ‘kewajiban-kewajiban Seorang Mujahid’, dan penutup. Dalam dua bagian ini, Risalah Ta’lim merinci segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap pribadi muslim dewasa ini, agar tidak mengulangi sejarah masa lalu, disamping memjelaskan petunjuk-petunjuk untuk meniti masa depan. Dengan begitu Risalah Ta’lim telah menetapkan starting point bagi setiap muslim untuk mencapai posisi, ‘hanya kalimat Allahlah yang tertinggi’ di bumi ini. Bahkan Risalah Ta’lim memberikan kunci untuk membuka pintu ‘dunia di tangan kaum muslimin’ jika mereka pandai beramal dan bergerak, insyallah. Memperhatikan risalah ini dari muqoddimah hingga penutup, dapatlah dipahami bahwa Risalah Ta’lim bersifat praktis.

Ustadz Hasan Al Banna sadar bahwa tidak semua orang muslim dewasa ini memiliki kesediaan untuk mewujudkan sikap komitmen atas keislaman yang tertinggi. Untuk tujuan itulah beliau membuat peringkat-peringkat keterikatannya kepada dakwah. Sungguh, Islam tidak akan bangkit dengan kelompok semacam ini.

Sungguh dengan memahami risalah ini maka ia akan mengenal dakwah ikhwan. Barang siapa tidak berpegang teguh dengannya maka ia bukan golongan IM, meskipun ia mengibarkan panjinya dan menda’wahkan diri dengannya. Berikut adalah studi analitis singkat terhadap muqoddimah Risalah Ta’lim, dengan sebelumnya menuliskan apa yang beliau sampaikan dalam muqoddimah tersebut.

Risalah Ta’lim

Oleh: Imam Syahid Hassan Al-Banna

Bismillahirrahmanirrahim

 

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada imamnya para muttaqin, pemimpin para mujahid, junjungan kami Muhammad saw.; sebagai nabi yang ummi. juga semoga tercurahkan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari Kiamat. Amma ba’du.

 

Inilah risalahku untuk ikhwah mujahidin dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang telah beriman kepada keluhuran dakwahnya dan kepada validitas fikrahnya. Mereka memiliki tekad yang tulus untuk hidup bersamanya dan mati atas namanya. Kepada mereka sajalah uraian ringkas ini kupersembahkan. Ia bukan pelajaran-pelajaran yang harus dihafal, tetapi merupakan petunjuk-petunjuk yang harus diamalkan. Marilah beraktivitas, wahai saudaraku yang berhati tulus!

 

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah : 105)

 

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al Anaam : 153)

 

Adapun selain mereka, kami sediakan untuknya ceramah-ceramah, buku-buku, makalah-makalah, dan training-training. Masing-masing dari mereka memiliki program yang sesuai dengan tuntutannya, dari semuanya dijanjikan oleh Allah pahala yang baik.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hasan Al-Banna

Pembahasan

Imam Asy Syahid Hasan Al Banna memulai Risalah Ta’limnya dengan pujian kepada Allah swt dan sholawat serta salam atas Rasulullah Muhammad saw, keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya yang istiqomah di jalan da’wah, hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah swt yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya adalah pemegang kunci keberhasilan dakwah, karena hanya dengan bersama Allah dakwah ini berhasil.

Mengikuti keteladanan Rasulullah saw dalam setiap langkah perbuatannya merupakan sebuah keniscayaan, karena Rasulullah saw adalah teladan yang terbaik dalam segala hal. Karena itulah, setiap mujahid dakwah hendaklah mengikuti segala sunnah Rasulullah saw, seperti yang dikehendaki Imam Asy Syahid Hasan Al Banna seperti yang tertuang dalam seruannya, Allahu Ghayatuna (Allah Tujuan Kami), Ar Rasul Qudwatuna (Rasul Teladan Kami), Al Quraan Dusturuna (Al Quran Pedoman Hidup Kami), Al Jihaadu Sabiiluna (Jihad Jalan Juang Kami), dan Al Mautu fii Sabilillah Asma Amanina (Mati di Jalan Allah adalah Cita-cita Kami Tertinggi).

Risalah Ta’lim ini ditujukan kepada Ikhwan mujahidin yang siap hidup dan mati di dalam jama’ah IM. Asy Syatibi memberi definisi tentang yang dimaksud jama’ah, yaitu:

1. Orang-orang Islam yang berhimpun dalam satu urusan.
2. Mayoritas orang-orang Islam

3. Kumpulan ulama mujtahidin.
4. Jama’atul muslimin jika berhimpun di bawah komando seorang amir (pemimpin).
5. Para sahabat yang diridhoi Allah dan tentu pada kondisi yang khusus.

6. Suatu jama’ah akan terbentuk bila ada musyawarah

 

Barangsiapa menolak ketaatan (membangkang) dan meninggalkan jama’ah lalu mati maka matinya jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah panji (bendera) nasionalisme (kebangsaan atau kesukuan) yang menyeru kepada fanatisme atau bersikap marah (emosi) karena mempertahankan fanatisme (golongan) lalu terbunuh maka tewasnya pun jahiliyah. (HR. An-Nasaa’i)

 

Memberikan kesetiaan baik ketika hidup, maupun mati dalam keadaan berjama’ah adalah hal yang harus dipahami oleh setiap muslim. Karena apabila kesetiaan itu todak ada, maka seseorang tersebut dapat terpengaruhi seruan-seruan ke arah kema’shiyatan dan kejahatan yang akan menggiringnya kepada api neraka.

Hadis riwayat Hudzaifah Al-Yamani ra., ia berkata:

Orang-orang banyak yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebajikan, sedangkan aku justru bertanya kepada beliau tentang kejahatan karena takut aku terjerumus melakukannya. Maka aku bertanya: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami pernah mengalami zaman jahiliah dan kejahatan, lalu datanglah Allah dengan membawa kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebajikan ini nanti akan ada lagi kejahatan? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah setelah kejahatan itu datang lagi kebajikan? Beliau menjawab: Ya, tetapi banyak kekurangan. Aku bertanya: Apakah kekurangannya? Beliau menjawab: Akan ada suatu kaum yang mengikuti selain sunahku serta memberikan petunjuk dengan selain petunjukku, di antara mereka ada yang kamu kenal juga ada yang tidak kamu kenal. Aku bertanya lagi: Apakah setelah kebajikan itu nanti akan ada lagi kejahatan? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kelak akan muncul para dai yang berada di muka pintu-pintu neraka Jahanam. Siapa yang menuruti panggilan mereka, akan mereka lemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami sifat mereka itu! Rasulullah saw. menjawab: Baiklah. Mereka adalah kaum yang kulitnya sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah perintahmu jika aku mengalami hal itu? Rasulullah saw. menjawab: Tetap setialah kepada jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka. Aku bertanya: Kalau mereka tidak memiliki jemaah serta pemimpin? Rasulullah saw. menjawab: Maka jauhilah semua sekte-sekte yang ada itu meskipun kamu harus menggigit pangkal pohon sampai maut menjemputmu kamu tetap demikian. (Shahih Muslim No.3434)

Inilah kunci pertama untuk memahami persoalan IM. Kewajiban utama setiap muslim ialah memberikan kesetiaannya kepada jamaah dan imamnya. Kunci kedua untuk memahami IM dan dakwahnya adalah IM telah bekerja untuk menegakkan hukum Islam. Hal ini menunjukan bahwa keberadaanya dan tegaknya IM merupakan salah satu tuntutan yang harus diperjuangkan.

Keberadaan IM sesungguhnya menuntut pembaharuan  Islam, baik di bidang ilmu, amal, maupun realitasnya. Jika kita memahami IM dan dakwahnya, berarti kita memahami satu kunci lagi IM. Dakwah ikhwan merupakan simbol bagi berkibarnya panji politik Islam di banyak wilayah Islam.

Ada sejumlah prinsip umum dakwah ini agar dengannya kita dapat memahami kunci-kunci lain dari dakwah ikhwan dan permasalahannya.

  1. IM memahami bahwa dalam islam terdapat tujuan, sarana, khittah, system, kaidah-kaidah institusi, undang-undang dan peraturan yang islami. Dengan itulah IM menginginkan menjadi hizbullah dan tentara sejatiNya.
  2. Ikhwan pada hakekatnya menegakkan komitmen Islam selain mengakomodasi kepentingan zaman dan jangkauan operasional seluas mungkin.
  3. Memelihara opini umum, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, merupakan salah satu prinsip Islam, IM berpijak padanya dan memberikan ruang lingkup yang secukupnya untuk memahami dengan benar.
  4. Ada dua hal yang dapat dicatat berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan sebagai pegangan oleh ikhwan.

Pertama, ia harus dibenarkan oleh syariat.

Kedua, ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan.

  1. Prinsip yang menjadi pegangan ikhwan dalam kaitannya prinsip luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah, jika ada seseorang yang ingin berhubungan dengan kita atas dasar maslahah namun ditukar dengan prinsip maka harus ditolak.
  2. Semua wilayah pemerintahan Islam bagi ikhwan harus tunduk pada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
  3. Dalam pemerintahan Islam harus ada system sentralisasi untuk urusan global dan desentralisasi untuk urusan detailnya.

 

Berikut ini beberapa penjelasan tambahan tentang kunci dakwah ikhwan.

Pertama, hendaknya permasalan dakwah harus dipahami. Ada tiga persoalan yang perlu dicermati dengan baik; memahami dakwah, mendakwakannya, serta mentarbiyah dan menarik orang untuk mendukungnya.

Kedua, dalam dakwah yang harus disentuhkan ke semua orang adalah pembicaraan tentang ruh, jiwa, hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kebersihan, dan kebutuhan ruh akan pengabdian ikhlas kepada Allah.

Ketiga, dalam konteks pemahaman akan kapasitas intelektual orang yang akan diajak bicara pembicaraan dan dakwah berlangsung.

Itulah sebagai ringkasan sebagian dari kunci untuk memahami IM dan dakwahnya serta masalah-masalah besar yang dihadapi.

Tanggung jawab terbesar adalah melakukan tajdid [pembaharuan] dan naql [alih generasi]. Yakni pembaharuan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain.

  1. Tentang IM, melalui penjelasan ustadz Hasan Al Banna, ada dua fenomena;

Pertama, ikhwan sebagai sebuah jamaah memusatkan perhatian pada pelayan umum.

Dua, ikhwan sebagai gerakan pembaharuan, inilah fokus terpenting IM.

  1. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia.

Tanggung jawab pertama jamaah adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi jamaah. Dua tanggung jawab ini akan diketahui cara menunaikannya dengan benar setelah Risalah Ta‘lim dipahami.

 

Ustadz Hasan Al Banna mengatakan,’ingatlah selalu bahwa kalian memiliki 2 tugas pokok;

  1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing
  2. Menegakkan di atas tanah air ini negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.

 

Uraian yang dibahas dalam Risalah Ta’lim adalah hal yang harus diamalkan, bukan hanya sekedar dihafalkan, karena apabila hanya menjadi bagian pembicaraan semata, maka kebaikan prinsip dakwah IM tidak akan pernah membumi. Karena sekedar iman saja, percaya dan yakin terhadap jama’ah belumlah cukup untuk menyebarkan kebaikan dakwah IM kepada seluruh manusia.

 

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

 

Adapun tingkatan amal yang dituntut dari akh yang tulus adalah;

  1. Perbaikan diri sendiri
  2. Pembentukan keluarga muslim
  3. Bimbingan masyarakat
  4. Pembebasan tanah air dari setiap pengusa
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik
  6. Untuk mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam
  7. Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri.

 

TUJUAN IKHWAN SECARA RINCI

  1. Individu

Individu muslim yang kita inginkan adalah yang memiliki fisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusannya, bermanfaat bagi orang lain, mampu membimbing keluarga untuk menghormati fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenap kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.

Ia juga berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam-idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan dakwah Islam di seantero wilayahnya.

  1. Rumah tangga

Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami dan istri di dalamnya mengetahui hak dan kewajibanya masing-masing, lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam.

  1. Masyarakat muslim

Adalah masyarakat yang memiliki akal pikiran, hati dan perasaan islami, masyarakat yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

  1. Pemerintahan

Kita menghendaki tegaknya pemerintahan islami di semua kawasan islam. Tujuan ini memerlukan penjelasan rinci agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman.

Pertama, Hasan Al Banna mengatakan, pemerintahan islam adalah pemerintah yang anggotanya orang-orang muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat secara terang-terangan dan melaksakan hukum-hukum islam.

Kedua, Hasan Al Banna mengatakan, tidak apa mengunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan terpaksa, yang penting mereka tidak didudukan dalam posisi pemimpin.

Ketiga, Hasan Al Banna mengatakan, Bentuk dan jenis pemerintahan tidak menjadi persoalan sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan islam.

  1. Daulah Islamiyah

Adalah daulah inti. Menurut Hasan Al Banna daulah inti adalah daulah yang memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragan kaum muslimin, mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang di rampas. Maka penjelasan ini pula mencantumkan beberapa kewajiban daulah.

  1. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah

Hasan Al Banna menyebutkan beberapa kewajiban-kewajiban daulah islamiyah;

    1. mengamalkan hukum-hukum islam
    2. melaksanakan system sosial islam secara lengkap
    3. memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini
    4. menyampaikan dakwah islam dengan arif bijaksana

Yang perlu dicatat, Hasan Al Banna menganggap proklamasi khilafah secara resmi dilakukan pada tahap-tahap akhir saja demi memperoleh kemaslahatan yang banyak’

  1. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT

Hasan Al Banna berkata, kemudian daulah islamiyah itu mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dangan ajaran islam. Daulah islamiyah juga bertanggung jawab untuk menjadi’ guru’ bagi dunia seluruhnya dan menyebarkan dakwah islam sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.

 

Ketujuh hal tersebut diatas saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tegaknya suatu negara islam di suatu kawasan merupakan satu tahap untuk menegakkan pemerintah islam inti. Tahapan ini mempersiapkan tahapan berikutnya, yakni kesatuan islam, yang merupakan tahapan menuju tegakknya kekuatan islam internasional, dan ini merupakan tahapan bagi proses selanjutnya.

 

URAIAN TAMBAHAN

Kesimpulan uraian tambahan dalam beberapa poin berikut;

  1. Kita adalah umat yang tidak memiliki kehormatan dan kemuliaan kecuali dengan islam
  2. Islamlah satu-satunya jalan keluar bagi seluruh persoalan kita
  3. Hanya dengan islamlah setiap orang terpenuhi kebutuhannya
  4. Persoalan penjajahan terhadap suatu negara tidak akan terselesaikan kecuali dengan menegakkan panji-panji islam dan mobilisasi jihad
  5. Kehidupan yang baru akan segera terwujud di dunia ini dengan kehadiran islam
  6. Islam memberikan keadilan pada seluruh warga negara yang syah di negeri islam dan melarang sikap zalim kepadanya, meskipun dia bukan seorang muslim.
  7. Penerapan islam bukan berarti pemasungan kenikmatan dunia yang bermanfaat.
  8. Penerapan islam itulah satu-satunya sarana yang dapat menghimpun kadar produktivitasnya, pembagian kekayaan alam, dan rasa tanggung jawab.

 

Berjuang agar kalimat Allah menjadi tertinggi merupakan inti perjalanan hidup kita. Kita adalah jama‘ah yang berslogan; kebenaran, kekuatan dan kebebasan. Kebenaran tampak jelas dalam wahyu ilahiyah. Kekuatan, Allah swt. Memerintahkan kepada orang-orang beriman agar mempersiapkan kekuatan. Kebebasan, seperti yang diungkapkan para sahabat, kami datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan pada diri antar sesamanya menuju penghambaan kepada Allah, dari kezaliman agama-agama menuju keadilan islam.

 

Kita tahu dan memahami bahwa di dunia ini terdapat jama’ah minal jama’atul muslimin seperti yang telah diungkapkan Yusuf Qardhawy dalam bukunya ‘Ainal Khalal. Kepada mereka dinyatakan, sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam ushul isyrin IM:

      Perbedaan pendapat dalam soal yang kecil tidak sepatutnya menjadi sebab untuk berpecah. Perbedaan pendapat ini tidak sepatutnya menimbulkan permusuhan dan persengketaan karena setiap mujtahid akan mendapat pahalanya. Namun tidak salah untuk membuat kajian ilmiah dalam masalah-masalah yang dipertikaikan sepanjang ia dilakukan dalam suasana penuh kemesraan dan saling bekerjasama untuk mencari kebenaran. Dengan syarat ia tidak menimbulkan perselisihan yang tidak diingini.

 

Setiap jama’ah minal jama’atul muslimin pastilah memiliki tujuan, bisa sama atau bahkan berbeda sekali. Untuk mencapai tujuan tersebut, masing-masing memiliki program, dan sepanjang program itu sesuai dengan manhaj Islam yakni Al Quran dan As Sunnah, maka untuk mereka juga telah Allah sediakan ganjaran pahala atas kebaikan yang mereka usahakan. Inilah prinsip yang mengakhiri muqoddimah rislah ta’lim, yang menunjukkan kedewasaan dan berlepas dari kekerdilan cara berfikir bahwa jama’ah ini adalah yang paling sempurna, dan yang lain adalah salah.

Kepada mereka juga disediakan buku-buku, ceramah, dan bahan dakwah lainnya tentang IM agar mereka mengetahui dan memahami dakwah IM yng sesungguhnya, sehingga tiada hal yang meragukan bagi mereka lagi bahwa dakwah IM adalah salah satu dakwah yang sesuai dengan Quran dan Sunnah. Wallahu a’lamu bi showab…


Leave a Reply