Khutbah Idul Fitri 1435H: Buah Ketaqwaan

Khutbah Idul Fitri 1435H: Buah Ketaqwaan

Category : Featured , Semua , Wawasan

Khutbah Idul Fithri 1435 H
Masjid – PT YKK Indonesia – Cimanggis, 28 Juli 2014
Buah Ketaqwaan
Ferry Taufik Saleh

 

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Allahu Akbar 9x.

Muqaddimah

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Suara takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia, mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT. Segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang jiwa-jiwa kita semua berada dalam genggamanNya. Dzat yang dapat memberikan kemuliaan bagi siapa yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa saja yang dikehendakiNya. Seringkali manusia kufur atas segala nikmat Allah ketika diberinya, dan kembali ingat manakala Allah mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Karena memang sesuai sunnahNya, sedikit sekali manusia bersyukur, karena itulah mari kita bersama menjadi bagian dari manusia yang senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” [QS. Al Mulk: 23]

Sholawat serta salam selayaknya senantiasa tetap membasahi bibir-bibir kita atas sosok tauladan, junjungan mulia, Rasulullah saw. Pribadi yang sungguh mulia akhlaknya, santun dalam perangainya, indah dalam tutur katanya. Semoga kelak kita semua mendapatkan syafaat dari beliau Rasulullah saw. Sebagai seorang hamba Allah, Rasulullah adalah orang yang paling tekun beribadah. Ummul mukminin Aisyah  ra mengisahkan, saat shalat, Rasul menitikkan air mata. Air mata itu mula-mula hanya membasahi pipi, lalu jenggot beliau, sampai akhirnya membasahi tanah tempat beliau shalat. Rasul tak henti-hentinya menangis dalam shalat itu, hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh. Aisyah RA bertanya, “Mengapa engkau menangis seperti itu? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?” Rasul menjawab, “Sungguh, aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur!”

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Beribadah kepada Allah SWT adalah salah satu bentuk dari rasa syukur tersebut, sebagaimana yang telah Rasulullah SAW contohkan. Ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan amal sholih yang banyak ragamnya pada akhirnya memiliki konsepsi tujuan yang Allah tekankan berupa ketaqwaan. Bahkan di beberapa ayat Quran, Allah SWT memerintahkan, menasehati atau bahkan menanyakan kita untuk bertaqwa. Mari kita simak beberapa firman Allah SWT berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” [QS. Al Baqarah : 183]

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [QS. Al Baqarah : 21“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”. [QS. An Nisaa : 131]

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. [QS. Al Baqarah: 197]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Menurut Imam Nawawi rahimahullah, taqwa adalah menaati setiap perintah dan laranganNya. Ia dilakukan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, kaya maupun miskin. Sebagai contohnya adalah tatkala miskin atau sempit kita masih dapat melakukan berinfaq dengan sebutir kurma atau bersedekah dengan senyuman. Iringilah setiap kesalahan dengan kebaikan, niscaya ia akan menhapusnya. Seperti sabda Rasulullah saw.

 

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

 

Pertanyaannya adalah, mengapa Allah SWT menuliskan konsepsi tujuan setiap ibadah yang kita lakukan adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa? Mengapa Allah juga memerintahkan kita sebagai manusia untuk bertaqwa kepadaNya? Dan mengapa Allah SWT juga nyatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan?

 

Hal inilah yang mendasari alasan mengapa kaum muslimin di Gaza selalu bergembira menyambut seruan jihad, bahkan tak sedetik pun terpikir oleh mereka untuk lari dari negara mereka. Inilah pula yang melatarbelakangi kaum muslimin yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi bentuk negara yang sangat adil dan sejahtera. Inilah yang mendasari kaum muslimin banyak yang menjadi ilmuwan terkenal dan memberi andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Inilah yang membuat Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi kaum yang disenangi oleh teman dan disegani oleh lawan. Ya, jawabannya adalah karena mereka bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga kemudian Allah SWT senantiasa memuliakan kedudukan mereka baik di dunia maupun akhirat kelak.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” [QS. Al Hujurat : 13]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Menjalani ibadah sangatlah sulit rasanya, ibadah laksana buah yang pahit yang untuk memakannya butuh perjuangan yang sangat. Ibadah tidak lagi terasa sebagai buah yang manis yang ingin selalu kita kejar dan kita senantiasa tambah baik kuantitas maupun kualitasnya. Apabila ada hiburan rakyat dan pada saat yang sama ada pengajian rutin malam, maka akan lebih banyak orang yang menghadiri majlis hiburan tersebut daripada majlis ilmu. Tak bisakah kita melaksanakan ibadah selayaknya kita mengerjakan satu pekerjaan yang menghasilkan harta trilyunan atau pangkat jabatan yang tinggi? Hingga terkadang kita bekerja hingga lupa waktu, lembur dan kerja keras setiap waktu.

 

Padahal, buah dari ketaqwaan itu jauh lebih besar, jauh lebih indah dari semua kenikmatan dunia. Semoga dengan mengetahuinya, menjadikan kita semua yang hadir pada kesempatan ini lebih bersemangat dalam mengerjakan amalan sholih pada bulan-bulan lainnya selepas Ramadhan yang telah meninggalkan kita, dan buah dari ketaqwaan ini pun dapat menjadi ajang pembuktian apakah kita memang telah menjadi hamba Allah yang bertaqwa yang artinya telah berhasil melaksanakan ibadah Ramadhan dengan baik.

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang pertama dari ketaqwaan itu adalah keberkahan dari Allah SWT.  Allah SWT berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. [QS. Al A’raf : 96]

 

Keberkahan adalah ziyadatul khair, bertambahnya kebaikan. Pernahkah kita merasa memiliki banyak uang, namun ternyata uang itu membuat kita semakin sengsara? Pernahkah kita memiliki jabatan, namun ternyata jabatan itu justru malah memperangkap kita? Jawabannya adalah karena belum ada keberkahan atas apa yang kita miliki dari usaha kita. Harta kita meskipun sedikit, ia memiliki berkah, ketika harta itu akhirnya dapat menyekolahkan anak kita hingga ke perguruan tinggi. Rumah tangga memiliki berkah, tatkala suami dan istri hidup bahagia dengan anak-anaknya serta tetangganya. Mereka saling bantu dan saling memuliakan. Keberkahan adalah salah satu buah dari ketaqwaan. Lalu mengapa kita tidak juga bertaqwa?

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang kedua yang dapat kita nikmati setelah kita menjadi pribadi yang bertaqwa adalah Allah akan memberikan petunjuknya yang membimbing kita dalam membedakan arah yang baik dan arah yang buruk. Dengannya kelak langkah kita dalam menempuh kehidupan di dunia ini akan senantiasa berada dalam jalanNya yang lurus. Lalu mengapa kita tidak menjadi orang yang bertaqwa?

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. [QS. Al Anfal : 29]

Buah yang ketiga adalah Allah akan senantiasa memberikan kemudahan dalam hidup kita menjadi setiap kesulitan yang datang menjadi mudah untuk dilalui, menjadikan setiap problematika yang menerjang mendapatkan jalan keluarnya. Segala macam persoalan dalam kehidupan diberikan solusinya oleh Allah SWT. Lalu mengapa kita tidak menjadi pribadi yang bertaqwa?

 

Buah yang keempat adalah Allah akan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka dan Allah pun akan mencukupkan segala keperluannya. Lalu mengapa kita tidak menjadi pribadi yang bertaqwa?

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar

 

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu

 

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [QS. At Talaq : 2-4]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang kelima adalah Allah akan senantiasa menhapus segala kesalahannya dan melipatgandakan segala amal sholihnya. Lalu mengapa kita tidak menjadi hamba Allah yang bertaqwa?

“Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya” [QS. At Talaq : 5]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Telah banyak contoh nyata dalam kehidupan, bahwa ummat muslimin pastinya menjadi ummat yang berjaya, tatkala setiap pribadinya adalah pribadi yang bertaqwa. Janganlah menjadi ummat yang banyak dalam jumlah namun secara realita laksana buih yang mudah hilang dan tak memiliki tempat mulia di mata masyarakat umum. Namun, jadilah ummat yang  banyak secara kuantitas dan baik secara kualitas ketaqwaan sehingga Allah SWT menjadikan secara nyata kemuliaan ummat ini atas ummat-ummat yang lain. Kalau kita saja belum beribadah secara benar kepada Allah, menanamkan keikhlasan dalam hati, serta mengikuti segala syariahNya dalam Al Quran dan As Sunnah, lalu mengapa kita terus memaksakan Allah mengabulkan segala permohonan dan keinginan kita? Mengapa kita tidak berfikir? Sedangkan kita baru akan mendapatkan upah gaji pada saat telah menuntaskan pekerjaan kita dengan baik.

 

Untuk itu saudaraku muslimin dan muslimat, mari bersama kita jadikan momentun Idul Fithri ini, untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa, yang karenanya kelak Allah akan memuliakan kita di hadapannya dan dihadapan hamba-hambaNya yang lain. Yang dengan harta kita menjadi berkah, yang dengan kesulitan menjadi kemudahan, yang dengannya segala problematika mendapatkan jalan keluarnya, yang dengannya Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan pertolonganNya, yang dengannya kelak Allah akan meridhoi dan memasukkan kita semua ke dalam jannahNya. Lalu mengapa kita tak bersegera menjadi pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT?

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” [QS. Al Baqarah : 177]

 

”Bertaqwalah kalian kepada Allah, shalatlah yang lima waktu, puasalah di bulan kalian, tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan memasuki surga Tuhan kalian.” (Tirmidzi di Kitab Shalat, hadits hasan shahih).

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Mari kita akhiri khutbah Idul Fithri ini dengan menundukkan hati-hati kita, seraya bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan, menjadikan kita pribadi yang bertaqwa, dan menerima do’a kita di kesempatan yang mulia ini.

 

Ya Allah, kami memohon kepada Engkau petunjuk, ketaqwaan, iffah, dan kekayaan.

 

Taqabballahu minna wa minkum, kullu ‘aam wa antum bi khair.

Ja’alnallahu minal a’idin wal faidzin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 


Leave a Reply