Fiqh Prioritas – Yusuf Qardhawi

Fiqh Prioritas – Yusuf Qardhawi

Category : Semua , Wawasan

BEDAH BUKU

FIQH PRIORITAS

Oleh : Diah Nurhayati Nufus

Pendahuluan

Fiqh Prioritas  ialah meletakkan segala sesuatu pada peringkatnya dengan adil, dari segi hukum, nilai, dan pelaksanaannya. Pekerjaan yang mula-mula dikerjakan harus didahulukan, berdasarkan penilaian syari’ah yang shahih, yang diberi petunjuk oleh cahaya wahyu, dan diterangi oleh akal. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT:

“Dan Allah SWT telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (ar-Rahman:7-9)

Dasarnya ialah bahwa sesungguhnya nilai, hukum, pelaksanaan, dan pemberian beban kewajiban menurut pandangan agama ialah berbeda-beda satu dengan lainnya. Semuanya tidak berada pada satu tingkat. Ada yang besar dan ada pula yang kecil; ada yang pokok dan ada pula yang cabang; ada yang berbentuk rukun dan ada pula yang hanya sekadar pelengkap; ada persoalan yang menduduki tempat utama (esensi) tetapi ada pula yang hanya merupakan persoalan pinggiran; ada yang tinggi dan ada yang rendah; serta ada yang utama dan ada pula yang tidak utama. Sebagaimana firman Allah :

“Apakah orang-orang yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan ibadah haji dan mengurus Masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah; dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum Muslim yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah, 19-20)

Di samping itu Rasulullah saw juga bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh cabang lebih; yang paling tinggi di antaranya ialah ‘la ilaha illa Allah,’ dan yang paling rendah ialah ‘menyingkirkan gangguan dari jalan.’

 

Kebutuhan umat kita sekarang akan fiqh prioritas

Sesungguhnya ilmu pengetahuanlah yang menjelaskan mana perbuatan yang diterima dan mana perbuatan yang ditolak; mana perbuatan yang diutamakan dan mana pula yang tidak diutamakan. Ilmu pengetahuan juga menjelaskan perbuatan yang benar dan juga perbuatan yang rusak; perbuatan yang dikabulkan dan yang ditolak; perbuatan yang termasuk sunnah dan perbuatan yang termasuk bid’ah. Setiap perbuatan disebutkan “harga” dan nilainya, menurut pandangan agama. Seringkali kita menyaksikan orang-orang menyibukkan diri dengan perbuatan yang tidak kuat (marjuh), dan mereka menganggapnya sebagai amalan yang kuat (rajih). Mereka sibuk dengan perbuatan yang bukan utama

(mafdhul) dan melalaikan perbuatan yang utama (fadhil).

Kadang-kadang, satu perbuatan itu pada suatu masa dinilai sebagai perbuatan yang utama (fadhil), tetapi pada masa yang lain ia bukan perbuatan yang utama (mafdhul); atau pada suatu suasana tertentu perbuatan itu bisa dinilai kuat (rajih), dan pada kondisi yang lain tidak bisa diterima (marjuh). Akan tetapi, karena pengetahuan dan pemahaman mereka sangat sedikit, maka mereka tidak mampu membedakan antara dua masa dan suasana yang berlainan itu.

Pada masa-masa kemunduran, banyak kaum Muslimin yang terjebak pada suatu perbuatan yang hingga hari ini masih mereka lakukan; di antaranya ialah:

  1. Mereka tidak mengindahkan –sampai kepada suatu batas yang sangat besar– fardhu-fardhu kifayah yang berkaitan dengan umat secara menyeluruh.
  2. Di samping itu, mereka juga mengabaikan sebagian fardhu ‘ain, atau melaksanakannya tetapi tidak sempurna.
  3. Perhatian mereka tertumpu kepada sebagian rukun Islam lebih banyak dibanding perhatian mereka kepada sebagian rukun yang lain.
  4. Mereka memperhatikan sebagian perbuatan sunnah lebih daripada perhatian mereka terhadap perbuatan yang fardhu dan wajib;
  5. Mereka memiliki kecenderungan yang lebih besar untuk memperdulikan ibadah-ibadah individual, seperti shalat dan zikir, dibanding perhatian yang diberikan kepada ibadah-ibadah sosial yang besar sekali faidahnya, seperti jihad, fiqh, memperbaiki jalinan silaturahim di antara manusia
  6. Akhir-akhir ini kebanyakan di antara mereka memiliki kecenderungan untuk mempedulikan masalah-masalah furu’iyah dan mengabaikan masalah-masalah pokok.
  7. Di antara kesalahan yang mereka lakukan juga ialah kesibukan kebanyakan manusia dalam memerangi hal-hal yang makruh dan syubhat lebih banyak dibandingkan dengan kesibukan mereka memerangi hal-hal yang diharamkan dan telah menyebar luas di kalangan mereka atau mengembalikan kewajiban yang telah hilang.

 

Hubungan antara fiqh proritas dan fiqh pertimbangan

Peran terpenting yang dapat dilakukan oleh fiqh pertimbangan

Dalam menentukan fiqh prioritas  ialah:

1) Memberikan pertimbangan antara berbagai kemaslahatan dan manfaat dari berbagai kebaikan yang disyariatkan. Fiqh mengharuskan kita:

* Mendahulukan dharuriyyat atas hajjiyyat, apalagi terhadap tahsinaf;

* Dan mendahulukan hajjiyyat atas tahsinat dan kamaliyyat.

Dalam memberikan pertimbangan terhadap berbagai kepentingan tersebut, kita dapat mempergunakan kaidah berikut ini:

  1. Mendahulukan kepentingan yang sudah pasti atas kepentingan yang baru diduga adanya, atau masih diragukan.
  2. Mendahulukan kepentingan yang besar atas kepentingan yang kecil.
  3. Mendahulukan kepentingan sosial atas kepentingan individual.
  4. Mendahulukan kepentingan yang banyak atas kepentingan yang sedikit.
  5. Mendahulukan kepentingan yang berkesinambungan atas kepentingan yang sementara dan insidental.
  6. Mendahulukan kepentingan inti dan fundamental atas kepetingan yang bersifat formalitas dan tidak penting.
  7. Mendahulukan kepentingan masa depan yang kuat atas kepentingan kekinian yang lemah.

2) Memberikan pertimbangan antara berbagai bentuk kerusakan, madharat, dan kejahatan yang dilarang oleh agama.

Volume, intensitas, dan bahaya yang ditimbulkan oleh kerusakan dan madharat itu berbeda-beda tingkatannya. Atas dasar inilah, para fuqaha menetapkan sejumlah kaidah yang baku mengenai

hukum yang penting; antara lain.

  1. “Tidak ada bahaya dan tidak boleh membahayakan.”
  2. “Suatu bahaya sedapat mungkin harus disingkirkan.”
  3. “Suatu bahaya tidak boleh disingkirkan dengan bahaya yang sepadan atau yang lebih besar.”
  4. “Bahaya yang lebih ringan, dibandingkan dengan bahaya lainnya yang mesti dipilih, boleh dilakukan”
  5. “Bahaya yang lebih ringan boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang lebih besar.”
  6. “Bahaya yang bersifat khusus boleh dilakukan untuk menolak bahaya yang sifatnya lebih luas dan umum.”

3) Memberikan pertimbangan antara maslahat dan kerusakan, antara kebaikan dan kejelekan apabila dua hal yang bertentangan ini bertemu satu sama lain.

Di antara kaidah penting dalam hal ini ialah:

  1. “Menolak kerusakan harus didahulukan atas pengambilan manfaat.”
  2. “Kerusakan yang kecil diampuni untuk memperoleh, kemaslahatan yang lebih besar.”
  3. “Kerusakan yang bersifat sementara diampuni demi kemaslahatan yang sifatnya berkesinambungan.”
  4. “Kemaslahatan yang sudah pasti tidak boleh ditinggalkan karena ada kerusakan yang baru diduga adanya.”

 

Memprioritaskan kualitas atas kuantitas

Allah lebih mengutamakan kualitas ibadah dibandingan kuantitasnya. Sebagai contoh adalah kemenangan kaum muslim dalam perang badar walau dengan pasukan yang sangat sedikit namun dengan kualitas keimanan yang sangat baik.

 

Prioritas ilmu atas amal

Prioritas ilmu atas amal

Di antara pemberian prioritas yang dibenarkan oleh agama ialah prioritas ilmu atas amal. Ilmu itu harus didahulukan atas amal, karena ilmu merupakan petunjuk dan pemberi arah amal yang akan dilakukan. Dalam hadits Mu’adz disebutkan, “ilmu, itu pemimpin, dan amal adalah pengikutnya.”

Fiqh prioritas dasar dan porosnya ialah ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan kita

dapat mengetahui apa yang mesti didahulukan dan apa yang harus diakhirkan. Tanpa ilmu pengetahuan kita akan kehilangan arah, dan melakukan tindakan yang tidak karuan.

 

Prioritas pemahaman atas hafalan

Ilmu yang hakiki ialah ilmu yang betul-betul kita fahami dan kita cerna dalam otak kita. Itulah yang sebenarnya diinginkan oleh Islam dari kita; yaitu pemahaman terhadap ajaran agama, dan bukan sekadar belajar agama; sebagaimana dijelaskan di dalam firman Allah SWT:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (at-Taubah: 122)

Dalam sebuah hadits yang shahih disebutkan, “Barangsiapa dihendaki Allah mendapatkan kebaikan, maka Dia akan memberinya pemahaman tentang agamanya”

 

Prioritas Maksud dan Tujuan atas Penampilan Luar

Di antara persoalan yang termasuk di dalam fiqh prioritas ini ialah tujuan. Yakni menyelami pelbagai tujuan yang terkandung di dalam syari’ah, mengetahi rahasia dan sebab-sebabnya, mengaitkan antara satu sebab dengan sebab yang lain, mengembalikan cabang kepada pokoknya, mengembalikan hal-hal

yang parsial kepada yang universal, dan tidak menganggap cukup mengetahui penampakan dari luar, serta jumud di dalam memahami nash-nash syari’ah tersebut.

 

Prioritas Ijtihad atas Taqlid

Taqlid adalah sikap mengikuti dalam pengamalan agama tanpa mengetahui ilmu dari hal tersebut. Ijtihad lebih diutamakan untuk hal-hal yang baru muncul sekarang ini dan belum ada hukumnya pada masa yang lalu. Ijtihad lebih diutamakan dari taqlid karena untuk melakukan ijtihad dibutuhkan pemahaman lebih. Sehingga hukum yang lahir juga merupakan buah dari pemahaman bukan hanya mengikuti semata (taqlid).

 

Prioritas Studi dan Perencanaan pada Urusan Dunia

Seharusnya orang yang paling dahulu melakukan perencanaan hari esok mereka ialah para aktivis gerakan Islam, sehingga merekatidak membiarkan semua urusan mereka berjalan tanpa perencanaan; tanpa memanfaatkan pengalaman di masa yang lalu; tanpa mencermati realitas yang terjadi pada hari ini; tanpa menimbang benar dan salahnya ijtihad yang pernah dilakukan; tanpa menilai untung-ruginya perjalanan umat kemarin dan hari ini; tanpa memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai kemampuan dan fasilitas yang dimiliki oleh umat, baik yang berbentuk material maupun spiritual, yang tampak dan yang tidak tampak, yang produktif dan yang tidak produktif. Perencanaan yang mereka buat itu mesti memperhatikan sumber kekuatan dan titik-titik kelemahan yang dimiliki oleh umat kita dan musuh-musuh kita;

 

Prioritas dalam Pendapat-pendapat fiqh

Seluruh al-Qur’an tidak diragukan lagi bahwa ketetapannya bersifat pasti, akan tetapi kebanyakan ayat-ayatnya penunjukannya bersifat zhanni; dan inilah yang menyebabkan para fuqaha berbeda pendapat dalam mengambil suatu kesimpulan hukum. Akan tetapi untuk masalah-masalah yang besar, seperti masalah ketuhanan, kenabian, pahala, pokok-pokok aturan ibadah, pokok-pokok aturan moralitas (yang berkaitan dengan perbuatan baik maupun perbuatan yang buruk), hukum-hukum mendasar mengenai keluarga dan warisan, hudud dan qisas, dan lainnya telah dijelaskan dalam ayat yang muhkamat, yang tidak dapat dipertentangkan lagi, sehingga semua orang memiliki pandangan yang sama.

Umat Islam harus lebih memprioritaskan hal yang penunjukkannya bersifat qath’I daripada yang bersifat zhanni. Bagi yang mengingkari dan melalaikan hal yang bersifat qath’I, maka sebagian ulama menganggapnya telah kafir sebagai contoh orang yang melalaikan larangan minum khamr.

 

Prioritas dalam bidang fatwa dan Da’wah

Memprioritaskan persoalan yang ringan dan mudah atas persoalan yang berat dan sulit

Allah SWT berfirman: “… Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…” (al-Baqarah: 185)

‘Aisyah berkata, “Rasulullah saw tidak diberi pilihan terkadap dua perkara kecuali dia mengambil yang paling mudah di antara keduanya selama hal itu tidak berdosa. Jika hal itu termasuk dosa maka ia adalah orang yang paling awal menjauhinya.”

sebagai contoh adalah orang yang berpuasa di tengah perjalanan. Apabila berpuasa lebih mudah baginya, maka dipersilakan melanjutkan puasanya, namun apabila berbuka lebih mudah untuknya karena beratnya perjalanan, maka Allah memberikan rukhsah untuk berbuka dalam perjalanan dengan syarat puasanya diganti di lain hari.

 

Pengakuan terhadap kondisi darurat

Salah satu kemudahan yang sangat dianjurkan ialah mengakui kondisi darurat yang muncul dalam kehidupan manusia, baik yang bersifat individual maupun sosial. Syariat agama ini telah menetapkan hukum yang khusus untuk menghadapi kondisi darurat; yang membolehkan kita melakukan sesuatu yang biasanya dilarang dalam kondisi biasa; dalam hal makanan, minuman, pakaian, perjanjian, dan muamalah. Lebih daripada itu, syariat agama kita juga menurunkan ketetapan hukum dalam kasus tertentu dan pada masa-masa tertentu  yang sama dengan hukum darurat, demi memudahkan umat dan untuk menghindarkan mereka dari kesulitan.

Yang menjadi dasar bagi hal itu ialah penjelasan yang terdapat di dalam al-Qur’an setelah menyebutkan tentang makanan yang diharamkan pada empat tempat di dalam al-Qur’an, yang menyatakan bahwa tidak berdosa orang-orang yang dalam keadaan terpaksa untuk memakan makanan tersebut:

“… tetapi barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 173)

 

Mengubah fatwa karena perubahan waktu dan tempat

Pentingnya pengetahuan tentang perubahan kondisi manusia, baik yang terjadi karena perjalanan waktu, perkembangan masyarakat, maupun terjadinya hal-hal yang sifatnya darurat, sehingga para ahli fiqh yang biasanya mengeluarkan fatwa harus mengubah fatwa yang telah lalu untuk disesuaikan dengan perubahan zaman, tempat, tradisi dan kondisi masyarakatnya; berdasarkan petunjuk para sahabat dan apa yang pernah dilakukan oleh para khulafa rasyidin, suri tauladan yang kita disuruh untuk mengambil petunjuk dari ‘sunnah’ mereka dan berpegang teguh kepadanya. Yaitu sunnah yang sesuai dengan sunnah Nabi saw dan dapat diterima oleh al-Qur’an;

 

Menjaga sunnah pentahapan (marhalah) dalam da’wah

Kalau kita hendak mendirikan “masyarakat Islam yang hakiki”, maka kita jangan berangan-angan bahwa hal itu akan dapat terwujud hanya dengan tulisan, atau dikeluarkannya keputusan dari seorang raja, presiden, atau ketetapan dewan perwakilan rakyat (parlemen). Pendirian masyarakat Islam akan terwujud melalui usaha secara bertahap; yakni dengan mempersiapkan rancangan pemikiran, kejiwaan, moralitas, dan masyarakat itu sendiri, serta menciptakan hukum alternatif sebagai ganti hukum lama yang berlaku pada kondisi tidak benar yang telah berlangsung lama. Oleh karena itu sangat penting untuk menjaga sunnah pentahapan dalam da’wah.

 

Meluruskan budaya kaum muslimin

Yang terpenting dan yang lazim pada hari ini dalam mendidik dan membekali pemahaman ajaran agama terhadap kaum Muslimin ialah memberikan pengetahuan kepada mereka apa yang patut mereka kerjakan terlebih dahulu dan apa yang mesti mereka akhirkan; serta apa yang seharusnya disingkirkan dari budaya kaum Muslimin.

 

Ukuran yang benar: perhatian terhadap isu-isu yang disorot oleh al-Qur’an

Kita selayaknya mengetahui apa yang sangat dipedulikan oleh al-Qur’an dan sering diulang-ulang di dalam surat dan ayat-ayatnya, dan apa pula yang ditegaskan dalam perintah dan larangannya, janji dan ancamannya. Itulah yang harus diprioritaskan, didahulukan, dan diberi perhatian oleh pemikiran, tingkah laku, penilaian, dan penghargaan kita. Yaitu seperti keimanan kepada Allah SWT, kepada para nabi-Nya, hari akhirat, pahala dan siksaan, surga dan neraka.

 

Prioritas dalam berbagai bidang amal

Prioritas amal yang kontinyu atas amal yang terputus-putus

Penjenjangan ini tidak dilakukan secara ngawur, tetapi didasarkan atas nilai-nilai dan dasar-dasar yang dipatuhi. Inilah yang hendak kita bahas. Di antara ukurannya ialah bahwa jenis pekerjaan ini harus pekerjaan yang paling langgeng (kontinyu); di mana pelakunya terus-menerus melakukannya dengan penuh disiplin. Sehinggaperbuatan seperti ini sama sekali berbeda tingkat dengan perbuatan yang dilakukan sekali-sekali dalam suatu waktu tertentu. Sehubungan dengan hal ini dikatakan dalam sebuah hadits shahih:

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang paling langgeng walaupun sedikit.”

 

Prioritas amalan yang luas manfaatnya atas perbuatan yang kurang bermanfaat

Di antara prioritas yang sebaiknya diterapkan dalam pekerjaan manusia ialah prioritas terhadap perbuatan yang banyak mendatangkan manfaat kepada orang lain. Sebesar manfaat yang dirasakan oleh orang lain, sebesar itu pula keutamaan dan pahalanya di sisi Allah SWT. Oleh sebab itu, jenis perbuatan jihad adalah lebih afdal daripada ibadah haji, karena manfaat ibadah haji hanya dirasakan pelakunya, sedangkan manfaat jihad dirasakan oleh umat. Sehubungan dengan hal ini, Allah SWT berfirman:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan haji dan mengurus masjid al-Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah, dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah

dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (at-Taubah: 19-20)

 

Prioritas terhadap amal perbuatan yang lebih lama manfaatnya dan lebih langgeng kesannya

Setiap kali suatu perbuatan itu lebih lama manfaatnya maka pekerjaan itu lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah SWT. Oleh karena itu, shadaqah yang lama manfaatnya lebih diutamakan. Di situlah letak kelebihan shadaqah jariyah, yang manfaatnya terus dirasakan walaupun orang yang memberikannya sudah tiada. Seperti harta wakaf, yang telah dikenal oleh kaum Muslimin sejak zaman Nabi saw; di mana ketika itu peradaban Islam memiliki keunggulan karena kekayaannya yang melimpah dan sangat banyak, sehingga Islam menguasai seluruh bidang kebajikan dalam kehidupan manusia, yang memberikanperkhidmatan kepada seluruh umat manusia, bahkan terhadap binatang.

 

Prioritas beramal pada zaman fitnah

Prioritas yang sangat dianjurkan ialah tetap bekerja pada saat terjadinya fitnah, cobaan, dan ujian yang sedang menimpa umat. Amal shaleh merupakan dalil kekuatan beragama seseorang, dan keteguhannya dalam berkeyakinan dan memegang kebenaran. Keperluan untuk melakukan amal shaleh pada masa seperti ini lebih ditekankan daripada masa-masa yang lain. Dalam sebuah hadits shahih disebutkan “Ibadah yang dilakukan pada walau terjadinya fitnah pembunuhan (al-haraj), adalah sama dengan hijrah

kepadaku.

 

Prioritas amalan hati atas amalan anggota badan

Di antara amalan yang sangat dianjurkan menurut pertimbangan agama ialah amalan batiniah yang dilakukan oleh hati manusia. Ia lebih diutamakan daripada amalan lahiriah yang dilakukan oleh anggota badan, dengan beberapa alasan.

Pertama, karena sesungguhnya amalan yang lahiriah itu tidak akan diterima oleh Allah SWT selama tidak disertai dengan amalan batin yang merupakan dasar bagi diterimanya amalan lahiriah itu, yaitu niat; sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw:

“Sesungguhnya amal perbuatan itu harus disertai dengan niat.”

Kedua, karena hati merupakan hakikat manusia, sekaligus menjadi poros kebaikan dan kerusakannya. Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwasanya Nabi saw bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh manusia ada segumpal darah, apabila dia baik maka baiklah seluruh tubuhnya, dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh tubuhnya. Ketahuilah bahwa segumpal darah itu ialah hati.

 

Perbedaan tingkat keutamaan sesuai dengan tingkat perbedaan waktu, tempat dan keadaan

Setiap profesi dalam kehidupan memiliki keutamaan tergantung pada waktu, tempat, dan keadaan. Sebagai contoh, ketika yang diperlukan adalah banyaknya bahan pangan, maka menjadi petani lebih utama daripada menjadi pengusaha. Beberapa ibadah dapat dikatakan lebih utama daripada ibadah yang lain tergantung pada waktu, tempat, dan keadaan. Contohnya Ibadah yang paling utama pada waktu shalat fardhu yang lima ialah bersungguh-sungguh melaksanakannya sesempurna mungkin, dan segera melaksanakannya pada awal waktunya. Keluar menuju masjid, dan semakin jauh tempatnya maka semakin utama.

Amalan yang paling utama setiap waktu ialah mengutamakan pencapaian keridhaan Allah SWT pada setiap waktu dan keadaan, memusatkan perhatian terhadap kewajiban, dan tugas kita setiap waktu.

 

Prioritas dalam perkara yang diperintahkan

Prioritas perkara pokok atas perkara cabang

Perhatian utama yang harus kita berikan dalam perkara yang diperintahkan ini ialah memberikan prioritas kepada perkara pokok atas cabang. Yaitu mendahulukan perkara-perkara pokok, mendahulukan hal-hal yang berkaitan dengan iman dan tauhid kepada Allah, iman kepada para malaikatNya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir; yang dikatakan sebagai rukun iman. perkara paling utama untuk didahulukan dan harus diberi perhatian yang lebih daripada yang lainnya  adalah meluruskan aqidah, memurnikan tauhid, memberantas kemusyrikan dan khurafat, mengokohkan benih-benih keimanan dalam hati,sehingga membuahkan hasil yang bisa dinikmati dengan izin dari tuhannya, yang akhirnya kalimat tauhid “La ilaha illa Allah”dapat bersemayam di dalam jiwa, menjadi cahaya hidup, menerangi gelapnya pemikiran manusia dan kegelapan perilakunya.

 

Prioritas fardhu atas sunnah dan nawafil

Kita harus mendahulukan hal yang paling wajib atas hal yang wajib, mendahulukan hal yang wajib atas mustahab, dan kita perlu menganggap mudahhal-hal yang sunnah dan mustahab serta harus mengambil berat terhadap hal-hal yang fardhu dan wajib. Kita mesti menekankan lebih banyak terhadap perkara-perkara fardhu yang mendasar daripada perkara yang lainnya; khususnya shalat dan zakat sebagai contoh Nabi saw melarang wanita untuk melakukan puasa sunnah ketika suaminya berada di rumah, tidak bepergian jauh, kecuali dengan izin suaminya. Karena sesungguhnya suami mempunyai hak atas dirinya yang lebih wajib dia Iakukan daripada puasa sunnah.

 

Prioritas fardhu ‘ain atas fardhu kifayah

Kita yakin betul bahwa fardhu ain harus didahulukan atas fardhu kifayah. Karena fardhu kifayah kadangkala sudah ada orang yang melakukannya, sehingga orang yang lain sudah tidak menanggung dosa karena tidak melakukannya. Sedangkan fardhu ain tidak dapat ditawar lagi, karena tidak ada orang lain yang boleh menggantikan kewajiban yang telah ditetapkan atas dirinya.

Contoh yang paling jelas untuk itu ialah perkara yang ada kaitannya dengan berbuat baik terhadap kedua orangtua dan berperang membela agama Allah, ketika perang merupakan fardhu kifayah, karena peperangan untuk merebut suatu wilayah dan bukan mempertahankan wilayah sendiri; yaitu peperangan untuk merebut  suatu wilayah yang diduduki oleh musuh. Kita harus melakukan peperangan ketika tampak tanda-tanda musuh mengintai kita dan hendak merebut wilayah yang lebih luas dari kita. Dalam hal seperti ini hanya sebagian orang saja yang dituntut untuk melakukannya, kecuali bila pemimpin negara menganjurkan semua rakyatnya untuk pergi berperang. Dalam peperangan seperti ini, berbakti kepada kedua orangtua dan berkhidmat kepadanya adalah lebih wajib daripada bergabungkepada pasukan tentara untuk berperang. Dan inilah yang diingatkan oleh Rasulullah saw.

 

Prioritas hak hamba atas hak Allah semata-mata

Fardhu ain yang berkaitan dengan hak Allah semata-mata mungkin dapat diberi toleransi, dan berbeda dengan fardhu ain yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya. Ada seorang ulama yang berkata, “Sesungguhnya hak Allah dibangun di atas toleransi sedangkan hak hamba-hamba-Nya dibangun di atas aturan yang sangat ketat.”

Oleh sebab itu, ibadah haji misalnya, yang hukumnya wajib, dan membayar utang yang hukumnya juga wajib; maka yang harus didahulukan ialah kewajiban membayar utang. Orang Islam yang mempunyai utang tidak boleh mendahulukan ibadah haji sampai dia membayar utangnya; kecuali bila dia meminta izin kepada orang yang mempunyai piutang, atau dia meminta pembayaran utang itu ditunda, dan dia meyakinkannya bahwa dia mampu membayar utang itu tepat pada waktunya.

 

Prioritas hak masyarakat atas hak individu

Suatu prioritas yang mesti kita berikan perhatian ialah kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai yang harus kita dahulukan atas kewajiban yang berkaitan dengan hak individu. Sesungguhnya seorang individu tidak akan dapat mempertahankan dirinya tanpa orang ramai, dan dia juga tidak dapat hidup sendirian; karena sesungguhnya manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk bermasyarakat; seperti yang dikatakan oleh para ilmuwan Muslim terdahulu.

Manusia adalah makhluk sosial sebagaimana dikatakan oleh ilmuwan modern. Seseorang akan sedikit nilainya kalau dia sendirian, dan akan banyak nilainya kalau dia bersama-sama orang ramai. Bahkan dia dianggap tiada ketika dia sendirian, dan baru dianggap ada ketika dia dengan kumpulannya. Atas dasar itu, kewajiban yang berkaitan dengan hak orang ramai atau umat harus lebih diutamakan daripada kewajiban yang berkaitan dengan hak individu.

 

Prioritas wala’ (loyalitas) kepada umat atas wala’ terhadap kabilah dan individu

Makna ungkapan tersebut ditegaskan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi saw yang menganjurkan kepada kita untuk mendahulukan wala’ kepada jamaah, serta memberikan ikatan emosional terhadap umat, daripada memberikan wala’ kepada kelompok dan keluarga. Sesungguhnya dalam Islam tidak ada individualisme,fanatisme kelompok, dan pemisahan dari jamaah Islam.

“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut agama Allah itulah yang pasti menang.” (al-Ma’idah: 55-56)

 

Prioritas dalam perkara-perkara yang dilarang

Prioritas dalam perkara yang dilarang

Terdapat perbedaan tingkat pada perkara-perkara yang dilarang, karena sesungguhnya perkara-perkara yang dilarang tidak berada pada tingkat yang sama. Ia juga memiliki berbagai tingkat yang sangat berbeda. Yang paling tinggi ialah kufur kepada Allah SWT dan yang paling rendah ialah perkara yang makruh tanzihi, atau yang dikatakan dengan khilaf al-awla (bila kita meninggalkannya, maka hal ini adalah lebih baik).

Kekufuran kepada Allah juga memiliki tingkatan. Berikut adalah tingkatan kekufuran dari yang paling ringan hingga yang paling berat :

  1. Kekufuran atheis, kekufuran ini terjadi karena ketidakpercayaan manusia akan adanya Allah, hari akhir, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan agama
  2. Kekufuran musyrik, pada kekufuran ini, pelakunya menyekutukan Allah dengan sesuatu hal yang lain.
  3. Kekufuran ahli kitab, kekufuran jenis ini lebih berat karena sesungguhnya telah datang kitab dan wahyu Allah kepada Ahli kitab, namun mereka mengingkarinya.
  4. Kekufuran orang murtad, kekufuran jenis ini tergolong berat karena orang yang murtad pada awalnya telah diberikan hidayah dan petunjuk oleh Allah untuk beriman kepadanya. Namun orang murtad mengingkari nikmat tersebut dengan kufur kepada Allah dan keluar dari Islam.
  5. Kekufuran orang munafik, kekufuran jenis ini paling berat karena orang munafik tidak hanya menipu Allah namun juga menipu umat islam dengan menyatakan dirinya beriman padahal sesungguhnya dia kufur kepada Allah.

 

Membedakan antara Kekufuran, Kemusyrikan, dan Kemunafiqan yang Besar dan yang Kecil

Hal yang sangat penting di sini ialah kemampuan untuk membedakan tingkat kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan. Setiap bentuk kekufuran, kemusyrikan dan kemunafiqan ini ada

tingkat-tingkatnya. Akan tetapi, nash-nash agama menyebutkan kekufuran, kemusyrikan, dan kemunafiqan hanya dalam satu istilah, yakni kemaksiatan; apalagi untuk dosa-dosa besar. Kita mestimengetahui penggunaan istilah-istilah ini sehingga kita tidak mencampur adukkan antara berbagai istilah tersebut, sehingga kita menuduh sebagian orang telah melakukan kemaksiatan berupa kekufuran yang paling besar (yakni ke luar dari agama ini) padahal mereka sebenarnya masih Muslim. Dengan menguasai penggunaan istilah itu, kita tidak menganggap suatu kelompok orang sebagai musuh kita, lalu kita menyatakan perang terhadap mereka, padahal mereka termasuk kelompok kita, dan kita juga

termasuk dalam kelompok mereka; walaupun mereka termasuk orang yang melakukan kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Kekufuran yang paling besar ialah kekufuran terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, Sedangkan kekufuran yang kecil ialah kekufuran yang berbentuk kemaksiatan terhadap agama ini, bagaimanapun kecilnya. Kemusyrikan kecil adalah seperti riya’, memamerkan diri kepada makhluk Allah, bersumpah dengan selain Allah. Kemunafiqan besar adalah kemunafiqan yang berkaitan dengan aqidah, yang mengharuskan pelakunya tetap tinggal selama-lamanya di dalam neraka. Bentuknya ialah menyembunyikan kekufuran dan menampakkan Islam. kemunafiqan kecil ialah kemunafiqan dalam amal perbuatan dan perilaku, yaitu orang yang berperilaku seperti perilaku orang-orang munafiq, meniti jalan yang dilalui oleh mereka, walaupun orang-orang ini sebenarnya memiliki aqidah yang benar.

Setelah kekufuran dan berbagai tingkatannya, maka di bawahnya ada kemaksiatan, yang terbagi menjadi dosa-dosa besar, dan dosa-dosa kecil. Dosa besar ialah dosa yang sangat berbahaya, yang dapat menimbulkan kemurkaan, laknat Allah, dan neraka Jahanam. Orang yang melakukannya kadang-kadang harus dikenai hukum had di dunia ini.

Termasuk dalam kategori dosa besar ini ialah meninggalkan perkara-perkara fardu yang mendasar, seperti: meninggalkan shalat, tidak membayar zakat, berbuka tanpa alasan di bulan Ramadhan, dan tidak mau melaksanakan ibadah haji bagi orang yang memiliki kemampuan untuk pergi ke tanah suci.

 

Kemaksiatan Besar yang Dilakukan oleh Hati Manusia

Amalan yang dilakukan oleh hati manusia adalah lebih besar dan lebih utama daripada amalan yang dilakukan oleh anggota tubuhnya. Begitu pula halnya kemaksiatan yang dilakukan oleh hati manusia juga lebih besar dosanya dan lebih besar bahayanya.

 

Bid’ah dalam Aqidah

Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada kemaksiatan, karena hal itu bertentangan dengan ajaran agama. Di samping itu, orang yang melakukan bid’ah tidak merasa perlu bertobat, dan kembali kepada jalan yang benar. Bahkan dia malah mengajak orang lain untuk menjalankan bid’ah itu bersama-sama. Seluruh

isi bid’ah itu bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah dan Rasul-Nya. bid’ah menolak semua ajaran agama yang dibenarkan. Ia memberi dukungan kepada orang yang memusuhi agama, dan memusuhi orang yang mendukung agama ini. Ia menetapkan apa yang di-nafi-kan oleh agama, dan me-nafi-kan apa yang telah ditetapkan oleh agama.

Bid’ah yang berat ialah bid’ah yang dapat menjadikan pelakunya sampai kepada tingkat kekufuran. Semoga Allah SWT memberikan perlindungan kepada kita dari perbuatan tersebut. Misalnya, kelompok-kelompok yang keluar dari pokok-pokok ajaran agama ini, dan memisahkan diri dari umat; seperti: Nashiriyah, Druz, Syi’ah Ekstrim dan Ismailiyah yang beraliran kebatinan, dan lain-lain

Bid’ah berat yang tidak sampai membuat pelakunya termasuk ke dalam kekufuran tetapi hanya sampai kepada kefasiqan. Yaitu kefasiqan dalam bidang aqidah dan bukan kefasiqan dalam perilaku mereka. Bid’ah yang termasuk kategori bid’ah yang ringan, yang sebabnya berasal dari kesalahan dalam melakukan ijtihad, atau salah dalam mempergunakan dalil, bid’ah seperti ini sama dengan dosa-dosa kecil dalam kemaksiatan. Di samping itu, ada pula bid’ah yang masih diperselisihkan. Artinya, sesuatu kaum yang menetapkan bahwa suatu perkara termasuk bid’ah tetapi kaum Muslimin yang lainnya tidak

mengatakannya bid’ah. Contohnya, bertawassul dengan Nabi saw, hamba-hamba Allah yang salih.

 

Syubhat

Setelah tingkatan perkara-perkara kecil yang diharamkan, maka di bawahnya adalah syubhat. Yaitu perkara yang tidak diketahui hukumnya oleh orang banyak, yang masih samar-samar kehalalan maupun keharamannya. Perkara ini sama sekali berbeda dengan perkara yang sudah sangat jelas pengharamannya.

Oleh sebab itu, orang yang memiliki kemampuan untuk berijtihad, kemudian dia melakukannya, sehingga memperoleh kesimpulan hukum yang membolehkan atau mengharamkannya, maka dia harus melakukan hasil kesimpulan hukumnya. Dia tidak dibenarkan untuk melepaskan pendapatnya hanya karena khawatir mendapatkan celaan orang lain. Karena sesungguhnya manusia melakukan penyembahan terhadap Allah SWT berdasarkan hasil ijtihad mereka sendiri kalau memang mereka mempunyai keahlian untuk melakukannya. Apabila ijtihad yang mereka lakukan ternyata salah, maka mereka dimaafkan, dan hanya mendapatkan satu pahala. Dan barangsiapa yang hanya mampu melakukan taklid kepada orang lain, maka dia boleh melakukan taklid kepada ulama yang paling dia percayai. Tidak apa-apa baginya untuk tetap mengikutinya selama hatinya masih mantap terhadap ilmu dan agama orang yang dia ikuti.

Barangsiapa yang masih ragu-ragu terhadap suatu perkara, dan belum jelas kebenaran baginya, maka perkara itu dianggap syubhat, yang harus dia jauhi untuk menyelamatkan agama dan kehormatannya.

 

Makruh

Bagian paling rendah dalam rangkaian perkara-perkara yang dilarang adalah perkara makruh; yaitu makruh tanzihi. Sebagaimana diketahui, makruh ini ada dua macam; makruh tahrimi dan makruh tanzihi. Makruh tahrimi ialah perkara makruh yang lebih dekat kepada haram; sedangkan makruh tanzihi

ialah yang lebih dekat kepada halal. Dan itulah yang dimaksudkan dengan istilah makruh pada umumnya.

 

Prioritas dalam bidang reformasi

Memperbaiki Diri sebelum Memperbaiki Sistem

Di antara prioritas yang dianggap sangat penting dalam usaha perbaikan (ishlah) ialah memberikan perhatian terhadap pembinaan individu sebelum membangun masyarakat; atau memperbaiki diri sebelum memperbaiki sistem dan institusi. Yang paling tepat ialah apabila kita mempergunakan istilah

yang dipakai oleh al-Qur’an yang berkaitan dengan perbaikan diri ini; yaitu:

“…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (ar-Ra’d: 11)

Inilah sebenarnya yang menjadi dasar bagi setiap usaha perbaikan, perubahan, dan pembinaan sosial. Yaitu usaha yang dimulai dari individu, yang menjadi fondasi bangunan secara menyeluruh. Karena kita tidak bisa berharap untuk mendirikan sebuah bangunan yang selamat dan kokoh kalau batu-batu fondasinya keropos dan rusak.

 

Pembinaan Sebelum Jihad

Inilah yang menjadikan para pembaharu pada hari ini menyerukan wajibnya mendahulukan pendidikan daripada peperangan, mendahulukan pembentukan pribadi daripada menduduki pos-pos yang penting.

Yang kami maksudkan dengan pendidikan dan pembentukan di sini ialah membina manusia mu’min, yang dapat mengemban misi da’wah; bertanggung jawab menyebarkan risalah Islam; tidak kikir terhadap harta benda; tidak sayang kepada jiwanya dalam melakukan perjuangan di jalan Allah. Pada saat yang sama dia merupakan contoh hidup yang dapat menerapkan nilai-nilai agama dalam dirinya, sekaligus menarik orang lain untuk melakukan hal yang sama. Dalam dirinya orang melihat Islam yang

benar-benar hidup. Perjuangan yang terakhir ialah perjuangan bersenjata, berjuang dengan pedang dan tombak. Sedangkan perjuangan dengan da’wah dan memberikan penjelasan kepada manusia, dan perjuangan dengan al-Qur’an adalah perjuangan yang harus dilakukan sejak hari pertama.

 

Mengapa Pembinaan lebih Diberi Prioritas?

Pertama, sesungguhnya peperangan dalam Islam bukan sembarang perang. Ia adalah peperangan dengan niat dan tujuan yang sangat khusus. Ia adalah peperangan dalam membela agama Allah SWT. “Barangsiapa berperang untuk menegakkan kalimat Allah, maka dialah yang berada di jalan Allah.” Sikap melepaskan diri dari berbagai dorongan duniawi tidak dapat muncul dengan tiba-tiba, tetapi harus melalui pembinaan yang cukup panjang, sehingga dia melakukan ajaran agamanya hanya untuk Allah.

Kedua, sesungguhnya hasil perjuangan yang ingin dinikmati olehorang-orang Islam yang ikut berperang ialah kemenangan merekaatas kekafiran. Kemenangan dan kekuasaan ini tidak akan diberikan kecuali kepada orang-orang yang beriman dan melaksanakan tugas serta kewajibannya. Sesungguhnya orang-orang yang diberi kedudukan dan kemenangan oleh Allah sebelum pembinaan mereka ‘matang,’ seringkali malah melakukan berbagai kerusakan di muka bumi daripada melakukan perbaikan.

Ketiga, menurut sunnatullah, kedudukan itu tidak akan dapat terwujudkan, kecuali setelah orang yang berhak memperolehnya lulus dari berbagai ujian Allah terhadap hati mereka, sehingga dapat dibedakan antara orang yang buruk hatinya dan orang yang baik hatinya.

 

Prioritas Perjuangan Pemikiran

Yang juga patut kita beri perhatian dalam usaha perbaikan masyarakat ialah mendahulukan segala hal yang berkaitan dengan pelurusan pemikiran, cara pandang, dan cara bertindak mereka. Tidak diragukan lagi bahwa kita memerlukan suatu landasan yang sangat kuat untuk melakukan perbaikan di dalam masyarakat. Karena sangat tidak masuk akal, bahwa amal perbuatan dapat meniti jalan yang benar, kalau pemikirannya tidak lurus. Oleh sebab itu, barangsiapa yang pandangannya tidak baik terhadap suatu perkara, maka perilakunya yang berkaitan dengan perkara itu juga tidak akan baik. Karena sesungguhnya perilaku itu sangat dipengaruhi oleh pandangannya, baik ataupun buruk.

Golongan yang memiliki pemikiran moderat dan lurus memiliki prinsip-prinsip berikut ini:

  1. Memahami ajaran agama dengan pemahaman yang menyeluruh, seimbang, dan mendalam;
  2. Memahami kehidupan nyata tanpa meremehkan atau takut kepadanya. Yaitu kehidupan nyata kaum Muslimin dan kehidupan nyata musuh-musuh mereka;
  3. Memahami sunnatullah dan hukum-hukum-Nya yang tetap dan tidak berubah-ubah, khususnya hukum yang berkaitan dengan masyarakat manusia;
  4. Memahami tujuan syariah, dengan amalan lahiriah yang tidak stagnan;
  5. Memahami masalah prioritas, yang berkaitan dengan fiqh pertimbangan;
  6. Memahami perselisihan pendapat dan tata caranya, serta menghadapinya dengan sifat yang diajarkan oleh Islam (bekerja sama dalam masalah yang disepakati dan memberikan toleransi kepada orang yang berselisih pendapat dengannya);
  7. Mempertimbangkan antara perkara-perkara syariah yang tetap dengan perubahan zaman;
  8. Menggabungkan antara pendapat salaf dan khalaf (antara pendapat yang orsinil dan pendapat yang modern);
  9. Percaya kepada adanya perubahan pemikiran, kejiwaan dan perilaku yang didasarkan kepada perubahan budaya manusia;
  10. Mengemukakan Islam sebagai proyek peradaban yang sempurna, untuk membangkitkan umat dan menyelamatkan manusia dari filsafat materialisme modern;
  11. Mengambil jalan yang paling mudah dalam memberikan fatwa dan memberikan kabar gembira dalam melakukan da’wah;
  12. Memunculkan nilai-nilai sosial dan politik dalam Islam, seperti: kebebasan, kehormatan, musyawarah, keadilan sosial, dan menghormati hak asasi manusia;
  13. Mau berdialog dengan orang lain dengan cara yang baik, yaitu dengan para penentang dari orang-orang bukan Islam, atau orang Islam yang inferior secara pemikiran dan keruhanian; dan
  14. Mempergunakan jihad sebagai jalan untuk mempertahankan kehormatan kaum Muslimin dan negeri mereka.

 

Fiqh prioritas dalam warisan pemikiran

Fiqh Prioritas dalam Warisan Pemikiran Kita perkara-perkara yang besar lebih diutamakan daripada perkara yang kecil.

Sebagian ulama mengatakan, “Meninggalkan larangan lebih penting daripada melakukan perintah.” Mereka mengeluarkan pernyataan itu berdasarkan dalil hadits shahih yang disepakati keshahihannya, yang disebutkan oleh al-Nawawi dalam al-Arbain-nya, dan.juga disebutkan dalam Syarh Ibn Rajab dalam

Jami’-nya; yaitu:

“Apabila aku melarangmu dari sesuatu, maka jauhilah dia; dan apabila aku memerintahkanmu tentang suatu perkara maka kerjakanlah dia sesuai dengan kemampuanmu.”

Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa larangan lebih diutamakan daripada perintah, karena sesungguhnya dalam larangan tidak dikenal adanya keringanan (rukhshah) dalam suatu perkara, sedangkan perintah dikaitkan dengan kemampuan orang yang hendak mengerjakannya. Pendapat ini diriwayatkan dari Imam Ahmad

“Manakah yang lebih utama dan lebih banyak pahalanya, kaya tetapi bersyukur ataukah miskin tetapi bersabar? kaya tetapi mau bersyukur adalah lebih utama. Untuk menjadi orang kaya tetapi mau bersyukur adalah sesuatu yang tidak mudah, sebagaimana dugaan orang banyak. Allah SWT berfirman:

“… Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih… (Saba’: 13)


3 Comments

Jebel Firdaus

Maret 29, 2017 at 2:14 am

Great..Thanks for your inspiring writing.

Anonim

Maret 30, 2018 at 1:36 pm

Assalamu’alaikum mba… Masya Allaah… syukran y mba..

Indah heluth, ambon

Maret 30, 2018 at 1:38 pm

السلام عليكم ورحمة الله…
جزاكم الله خيرا.. Mba..

Leave a Reply