Category Archives: Taushiyah

Beruntung atau Merugi (yang sebenarnya)

Category : Semua , Taushiyah

Marilah meraih kemenangan!

Ya, semua orang ingin menang, tak ada yang menginginkan kekalahan. Segala cara ditempuh, komitmen dan konsistensi pun diuji. Hingga akhirnya kemenangan itu diraihnya.

Bagi seorang muslim, tak penting menang atau kalah, kaya atau miskin, suka maupun duka, berat maupun ringan, karena yang terpenting adalah mendapat ridho Allah, sehingga semua urusannya dalam hidup di dunia adalah baik bagi dirinya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Allah SWT sampaikan bahwa setiap manusia berada dalam kerugian. Yakni mereka rugi atas waktu mereka yang terbuang percuma saat bermain video games, atau melamun, atau mengerjakan hal-hal mubah yang berlebihan, yang mengakibatkan waktu berlalu tanpa kesan. Atau mereka meraih sesuatu padahal secara substansi ia tak memberikan manfaat apapun bagi dirinya, seperti harta yang banyak, namun tak membuat hatinya tenang. Seperti polularitas yang tinggi namun hidupnya penuh dengan tekanan dan tuntutan tinggi. Atau bahkan tak mendapatkan yang seharusnya ia terima sebagai balasan baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT nyatakan bahwa ada 4 syarat agar kita tidak mengalami kerugian, dan kelak mendapatkan kemenangan yang hakiki, yaitu:

1. Beriman kepada Allah SWT.

Ingatkah kepada penemu lampu pijar? ya, Thomas Alfa Edison, nama yang populer di dunia mengingat jasanya dalam menciptakan lampu pijar yang digunakan oleh hampir setiap orang di muka bumi ini, menerangi gelapnya malam di seluruh penjuru dunia. Amalannya menjadi tersiakan karena ia tak beriman kepada Allah dan hari pembalasan. Ia hanya meraih manfaat sebatas di dunia, namu tak ada bagian bagi dirinya di akhirat kelak, di masa yang tak berujung.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَأُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS Hud 15-16)

2. Beramal sholeh

Amal tanpa iman adalah percuma dan iman tanpa amal adalah kehampaan semata. Iman adalah pondasi sedangkan amal adalah implementasi. Ingatlah bagaimana Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq mendatangi rumah Rasulullah saw untuk mendengarkan lantunan tilawah Al Quran, hati mereka mengimani apa yang ada dalam Al Quran, namun bukanlah amal sholih yang mereka lakukan, melainkan amalan tercela, sehingga menjadikan mereka merugi di akhirat, diberi azab yang pedih oleh Allah SWT.

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

3. Saling menasehati dalam kebenaran

Kehidupan ini teramat berat untuk dijalani seorang diri, terutama dalam era globalisasi saat ini. Sebuah motor tak selamanya dapat melaju dengan baik, ada saatnya rantainya kendur, olinya menghitam, remnya tak lagi pakem, dan lain sebagainya. Saat itulah motor tersebut berlu di tune-up kembali ke kondisi semula.

Iman manusia itu naik dan turun, naik karena amal sholih, dan turun karena sebab ma’shiyat. Ada saatnya diri menjadi futur. Maka pada saat itulah seseorang membutuhkan pengingat agar kembali semangat, membutuhkan pengingat agar dapat kembali menempuh jalan yang lurus.

4. Saling menasehati dalam kesabaran

Syarat yang terakhir membantu kita untuk senantiasa tegar dan sabar dan kokoh dalam menjalani kehidupan. Kesulitan yang menghadang, duka yang menghampiri, membuat diri menjadi rentan futur. Saat itulah, dibutuhkan untaian nasehat tentang kesabaran. Sabar adalah bersikap pro aktif untuk menjadi lebih baik.

Keempat syarat ini terdapat dalam Surah Al Ashr. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, “Seandainya saja al-Qur’an tidak diturunkan, niscaya satu surah ini cukup menjadi petunjuk manusia. Karena di dalamnya terkandung seluruh pesan-pesan al-Qur’an.”

Setelah mengetahui keempat syarat tersebut, saatnya untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin agar Allah menjadi ridho atas diri kita. Allah akan mempermudah jalan bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan itu ada atas dirinya…

Dalam sebuah hadits diceritakan:

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim lafazh ini milik Zuhair. Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami. Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Sa’ad bin ‘Ubaidah dari Abu ‘Abdur Rahman dari ‘Ali dia berkata; “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al Gharqad. Tak lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada kami. Lalu beliau duduk dan kami pun duduk mengelilingi beliau. Setelah itu Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya diatas tanah seraya berkata:

‘Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allah telah menentukan tempatnya di surga ataupun di neraka, serta ditentukan pula sengsaranya atau bahagianya.’.

Ali bin Abu Thalib berkata; ‘Kemudian seseorang bertanya:

‘Ya Rasulullah, kalau begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa harus berbuat apa-apa? ‘.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

‘Barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’.

Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‘Berbuatlah! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat sesuai dengan ketentuan sengsara dan bahagianya. Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Dan orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’.

Setelah itu Rasulullah pun membacakan ayat Al Qur’an:

‘Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.’ (Qs. A1-LaiI (92): 5-10).

(HR. Muslim nomor 4786).

Pertanyaannya, sudahkah terasa dalam diri kita kemudahan dari Allah SWT dalam melaksanakan amal sholih dan kebaikan?