Category Archives: Wawasan

Beruntung atau Merugi (yang sebenarnya)

Category : Semua , Taushiyah

Marilah meraih kemenangan!

Ya, semua orang ingin menang, tak ada yang menginginkan kekalahan. Segala cara ditempuh, komitmen dan konsistensi pun diuji. Hingga akhirnya kemenangan itu diraihnya.

Bagi seorang muslim, tak penting menang atau kalah, kaya atau miskin, suka maupun duka, berat maupun ringan, karena yang terpenting adalah mendapat ridho Allah, sehingga semua urusannya dalam hidup di dunia adalah baik bagi dirinya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw,

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (Hadits shohih. Diriwayatkan oleh Muslim, no. 2999 dari Abu Yahya Shuhaib bin Sinan radhiyallahu ‘anhu).

Allah SWT sampaikan bahwa setiap manusia berada dalam kerugian. Yakni mereka rugi atas waktu mereka yang terbuang percuma saat bermain video games, atau melamun, atau mengerjakan hal-hal mubah yang berlebihan, yang mengakibatkan waktu berlalu tanpa kesan. Atau mereka meraih sesuatu padahal secara substansi ia tak memberikan manfaat apapun bagi dirinya, seperti harta yang banyak, namun tak membuat hatinya tenang. Seperti polularitas yang tinggi namun hidupnya penuh dengan tekanan dan tuntutan tinggi. Atau bahkan tak mendapatkan yang seharusnya ia terima sebagai balasan baik di dunia maupun di akhirat.

Allah SWT nyatakan bahwa ada 4 syarat agar kita tidak mengalami kerugian, dan kelak mendapatkan kemenangan yang hakiki, yaitu:

1. Beriman kepada Allah SWT.

Ingatkah kepada penemu lampu pijar? ya, Thomas Alfa Edison, nama yang populer di dunia mengingat jasanya dalam menciptakan lampu pijar yang digunakan oleh hampir setiap orang di muka bumi ini, menerangi gelapnya malam di seluruh penjuru dunia. Amalannya menjadi tersiakan karena ia tak beriman kepada Allah dan hari pembalasan. Ia hanya meraih manfaat sebatas di dunia, namu tak ada bagian bagi dirinya di akhirat kelak, di masa yang tak berujung.

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لا يُبْخَسُونَأُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الآخِرَةِ إِلا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?” (QS Hud 15-16)

2. Beramal sholeh

Amal tanpa iman adalah percuma dan iman tanpa amal adalah kehampaan semata. Iman adalah pondasi sedangkan amal adalah implementasi. Ingatlah bagaimana Abu Jahal, Abu Lahab, dan Akhnas bin Syariq mendatangi rumah Rasulullah saw untuk mendengarkan lantunan tilawah Al Quran, hati mereka mengimani apa yang ada dalam Al Quran, namun bukanlah amal sholih yang mereka lakukan, melainkan amalan tercela, sehingga menjadikan mereka merugi di akhirat, diberi azab yang pedih oleh Allah SWT.

“Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman.” (HR. Ath-Thabrani).

3. Saling menasehati dalam kebenaran

Kehidupan ini teramat berat untuk dijalani seorang diri, terutama dalam era globalisasi saat ini. Sebuah motor tak selamanya dapat melaju dengan baik, ada saatnya rantainya kendur, olinya menghitam, remnya tak lagi pakem, dan lain sebagainya. Saat itulah motor tersebut berlu di tune-up kembali ke kondisi semula.

Iman manusia itu naik dan turun, naik karena amal sholih, dan turun karena sebab ma’shiyat. Ada saatnya diri menjadi futur. Maka pada saat itulah seseorang membutuhkan pengingat agar kembali semangat, membutuhkan pengingat agar dapat kembali menempuh jalan yang lurus.

4. Saling menasehati dalam kesabaran

Syarat yang terakhir membantu kita untuk senantiasa tegar dan sabar dan kokoh dalam menjalani kehidupan. Kesulitan yang menghadang, duka yang menghampiri, membuat diri menjadi rentan futur. Saat itulah, dibutuhkan untaian nasehat tentang kesabaran. Sabar adalah bersikap pro aktif untuk menjadi lebih baik.

Keempat syarat ini terdapat dalam Surah Al Ashr. Diriwayatkan bahwa Imam Syafi’i pernah berkata, “Seandainya saja al-Qur’an tidak diturunkan, niscaya satu surah ini cukup menjadi petunjuk manusia. Karena di dalamnya terkandung seluruh pesan-pesan al-Qur’an.”

Setelah mengetahui keempat syarat tersebut, saatnya untuk berbuat kebaikan sebanyak mungkin agar Allah menjadi ridho atas diri kita. Allah akan mempermudah jalan bagi siapa saja yang menginginkan kebaikan itu ada atas dirinya…

Dalam sebuah hadits diceritakan:

Telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dan Zuhair bin Harb dan Ishaq bin Ibrahim lafazh ini milik Zuhair. Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami. Sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur dari Sa’ad bin ‘Ubaidah dari Abu ‘Abdur Rahman dari ‘Ali dia berkata; “Kami pernah menguburkan jenazah di pemakaman Baqi Al Gharqad. Tak lama kemudian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada kami. Lalu beliau duduk dan kami pun duduk mengelilingi beliau. Setelah itu Rasulullah memegang sebuah batang kayu pendek dan beliau menggaris-gariskan dan memukul-mukulkannya diatas tanah seraya berkata:

‘Tidaklah seseorang diciptakan melainkan Allah telah menentukan tempatnya di surga ataupun di neraka, serta ditentukan pula sengsaranya atau bahagianya.’.

Ali bin Abu Thalib berkata; ‘Kemudian seseorang bertanya:

‘Ya Rasulullah, kalau begitu apakah sebaiknya kami berdiam diri saja tanpa harus berbuat apa-apa? ‘.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab:

‘Barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Sebaliknya barang siapa termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara, maka ia pasti akan mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’.

Selanjutnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

‘Berbuatlah! Karena masing-masing telah dipermudah untuk berbuat sesuai dengan ketentuan sengsara dan bahagianya. Orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang berbahagia akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang beruntung. Dan orang yang termasuk dalam golongan orang-orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengerjakan amal perbuatan orang-orang yang sengsara.’.

Setelah itu Rasulullah pun membacakan ayat Al Qur’an:

‘Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan adanya pahala yang terbaik, maka Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar.’ (Qs. A1-LaiI (92): 5-10).

(HR. Muslim nomor 4786).

Pertanyaannya, sudahkah terasa dalam diri kita kemudahan dari Allah SWT dalam melaksanakan amal sholih dan kebaikan?


eBook Productive Muslim

Category : eBook , Semua

productive muslim

eBook ini saya dapat dari productivemuslim.com, website yang menarik untuk menambah semangat mengkaji Islam. Sila download buku ini agar kamu terinspirasi bagaimana caranya menjadi muslim yang produktif.

Isinya antara lain loe bakalan jadi tahu kunci produktifitas tu apa aja, terus, setelahnya loe bakalan diajarin gimana caranya membangun kebiasaan produktif. Ditambah pula motivasi agar kita dapat menjalaninya dengan istiqomah. So guys, bukan hanya Islam di KTP, tapi tunjukkan kalau Loe bener-bener muslim produktif. Selamat membaca!

Download disini


Khutbah Idul Fitri 1435H: Buah Ketaqwaan

Category : Featured , Semua , Wawasan

Khutbah Idul Fithri 1435 H
Masjid – PT YKK Indonesia – Cimanggis, 28 Juli 2014
Buah Ketaqwaan
Ferry Taufik Saleh

 

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Allahu Akbar 9x.

Muqaddimah

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

Suara takbir berkumandang di seluruh penjuru dunia, mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT. Segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang jiwa-jiwa kita semua berada dalam genggamanNya. Dzat yang dapat memberikan kemuliaan bagi siapa yang dikehendakiNya dan menghinakan siapa saja yang dikehendakiNya. Seringkali manusia kufur atas segala nikmat Allah ketika diberinya, dan kembali ingat manakala Allah mencabut nikmat tersebut dari dirinya. Karena memang sesuai sunnahNya, sedikit sekali manusia bersyukur, karena itulah mari kita bersama menjadi bagian dari manusia yang senantiasa mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: “Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati”. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur” [QS. Al Mulk: 23]

Sholawat serta salam selayaknya senantiasa tetap membasahi bibir-bibir kita atas sosok tauladan, junjungan mulia, Rasulullah saw. Pribadi yang sungguh mulia akhlaknya, santun dalam perangainya, indah dalam tutur katanya. Semoga kelak kita semua mendapatkan syafaat dari beliau Rasulullah saw. Sebagai seorang hamba Allah, Rasulullah adalah orang yang paling tekun beribadah. Ummul mukminin Aisyah  ra mengisahkan, saat shalat, Rasul menitikkan air mata. Air mata itu mula-mula hanya membasahi pipi, lalu jenggot beliau, sampai akhirnya membasahi tanah tempat beliau shalat. Rasul tak henti-hentinya menangis dalam shalat itu, hingga Bilal mengumandangkan azan Subuh. Aisyah RA bertanya, “Mengapa engkau menangis seperti itu? Bukankah Allah telah mengampuni dosamu yang lalu maupun yang akan datang?” Rasul menjawab, “Sungguh, aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur!”

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Beribadah kepada Allah SWT adalah salah satu bentuk dari rasa syukur tersebut, sebagaimana yang telah Rasulullah SAW contohkan. Ibadah seperti sholat, puasa, zakat, dan amal sholih yang banyak ragamnya pada akhirnya memiliki konsepsi tujuan yang Allah tekankan berupa ketaqwaan. Bahkan di beberapa ayat Quran, Allah SWT memerintahkan, menasehati atau bahkan menanyakan kita untuk bertaqwa. Mari kita simak beberapa firman Allah SWT berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” [QS. Al Baqarah : 183]

“Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” [QS. Al Baqarah : 21“Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji”. [QS. An Nisaa : 131]

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal”. [QS. Al Baqarah: 197]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Menurut Imam Nawawi rahimahullah, taqwa adalah menaati setiap perintah dan laranganNya. Ia dilakukan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, kaya maupun miskin. Sebagai contohnya adalah tatkala miskin atau sempit kita masih dapat melakukan berinfaq dengan sebutir kurma atau bersedekah dengan senyuman. Iringilah setiap kesalahan dengan kebaikan, niscaya ia akan menhapusnya. Seperti sabda Rasulullah saw.

 

“Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad 21354, Tirmidzi 1987, ia berkata: ‘hadits ini hasan shahih’)

 

Pertanyaannya adalah, mengapa Allah SWT menuliskan konsepsi tujuan setiap ibadah yang kita lakukan adalah agar kita menjadi orang yang bertaqwa? Mengapa Allah juga memerintahkan kita sebagai manusia untuk bertaqwa kepadaNya? Dan mengapa Allah SWT juga nyatakan bahwa sebaik-baik bekal adalah ketaqwaan?

 

Hal inilah yang mendasari alasan mengapa kaum muslimin di Gaza selalu bergembira menyambut seruan jihad, bahkan tak sedetik pun terpikir oleh mereka untuk lari dari negara mereka. Inilah pula yang melatarbelakangi kaum muslimin yang saat itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz menjadi bentuk negara yang sangat adil dan sejahtera. Inilah yang mendasari kaum muslimin banyak yang menjadi ilmuwan terkenal dan memberi andil dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Inilah yang membuat Rasulullah saw dan para sahabatnya menjadi kaum yang disenangi oleh teman dan disegani oleh lawan. Ya, jawabannya adalah karena mereka bertaqwa kepada Allah SWT, sehingga kemudian Allah SWT senantiasa memuliakan kedudukan mereka baik di dunia maupun akhirat kelak.

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal” [QS. Al Hujurat : 13]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Lalu bagaimana dengan kita sekarang? Menjalani ibadah sangatlah sulit rasanya, ibadah laksana buah yang pahit yang untuk memakannya butuh perjuangan yang sangat. Ibadah tidak lagi terasa sebagai buah yang manis yang ingin selalu kita kejar dan kita senantiasa tambah baik kuantitas maupun kualitasnya. Apabila ada hiburan rakyat dan pada saat yang sama ada pengajian rutin malam, maka akan lebih banyak orang yang menghadiri majlis hiburan tersebut daripada majlis ilmu. Tak bisakah kita melaksanakan ibadah selayaknya kita mengerjakan satu pekerjaan yang menghasilkan harta trilyunan atau pangkat jabatan yang tinggi? Hingga terkadang kita bekerja hingga lupa waktu, lembur dan kerja keras setiap waktu.

 

Padahal, buah dari ketaqwaan itu jauh lebih besar, jauh lebih indah dari semua kenikmatan dunia. Semoga dengan mengetahuinya, menjadikan kita semua yang hadir pada kesempatan ini lebih bersemangat dalam mengerjakan amalan sholih pada bulan-bulan lainnya selepas Ramadhan yang telah meninggalkan kita, dan buah dari ketaqwaan ini pun dapat menjadi ajang pembuktian apakah kita memang telah menjadi hamba Allah yang bertaqwa yang artinya telah berhasil melaksanakan ibadah Ramadhan dengan baik.

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang pertama dari ketaqwaan itu adalah keberkahan dari Allah SWT.  Allah SWT berfirman:

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”. [QS. Al A’raf : 96]

 

Keberkahan adalah ziyadatul khair, bertambahnya kebaikan. Pernahkah kita merasa memiliki banyak uang, namun ternyata uang itu membuat kita semakin sengsara? Pernahkah kita memiliki jabatan, namun ternyata jabatan itu justru malah memperangkap kita? Jawabannya adalah karena belum ada keberkahan atas apa yang kita miliki dari usaha kita. Harta kita meskipun sedikit, ia memiliki berkah, ketika harta itu akhirnya dapat menyekolahkan anak kita hingga ke perguruan tinggi. Rumah tangga memiliki berkah, tatkala suami dan istri hidup bahagia dengan anak-anaknya serta tetangganya. Mereka saling bantu dan saling memuliakan. Keberkahan adalah salah satu buah dari ketaqwaan. Lalu mengapa kita tidak juga bertaqwa?

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang kedua yang dapat kita nikmati setelah kita menjadi pribadi yang bertaqwa adalah Allah akan memberikan petunjuknya yang membimbing kita dalam membedakan arah yang baik dan arah yang buruk. Dengannya kelak langkah kita dalam menempuh kehidupan di dunia ini akan senantiasa berada dalam jalanNya yang lurus. Lalu mengapa kita tidak menjadi orang yang bertaqwa?

“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar”. [QS. Al Anfal : 29]

Buah yang ketiga adalah Allah akan senantiasa memberikan kemudahan dalam hidup kita menjadi setiap kesulitan yang datang menjadi mudah untuk dilalui, menjadikan setiap problematika yang menerjang mendapatkan jalan keluarnya. Segala macam persoalan dalam kehidupan diberikan solusinya oleh Allah SWT. Lalu mengapa kita tidak menjadi pribadi yang bertaqwa?

 

Buah yang keempat adalah Allah akan memberikan rizki dari arah yang tiada disangka-sangka dan Allah pun akan mencukupkan segala keperluannya. Lalu mengapa kita tidak menjadi pribadi yang bertaqwa?

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar

 

Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu

 

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” [QS. At Talaq : 2-4]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Buah yang kelima adalah Allah akan senantiasa menhapus segala kesalahannya dan melipatgandakan segala amal sholihnya. Lalu mengapa kita tidak menjadi hamba Allah yang bertaqwa?

“Itulah perintah Allah yang diturunkan-Nya kepada kamu, dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menghapus kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya” [QS. At Talaq : 5]

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Telah banyak contoh nyata dalam kehidupan, bahwa ummat muslimin pastinya menjadi ummat yang berjaya, tatkala setiap pribadinya adalah pribadi yang bertaqwa. Janganlah menjadi ummat yang banyak dalam jumlah namun secara realita laksana buih yang mudah hilang dan tak memiliki tempat mulia di mata masyarakat umum. Namun, jadilah ummat yang  banyak secara kuantitas dan baik secara kualitas ketaqwaan sehingga Allah SWT menjadikan secara nyata kemuliaan ummat ini atas ummat-ummat yang lain. Kalau kita saja belum beribadah secara benar kepada Allah, menanamkan keikhlasan dalam hati, serta mengikuti segala syariahNya dalam Al Quran dan As Sunnah, lalu mengapa kita terus memaksakan Allah mengabulkan segala permohonan dan keinginan kita? Mengapa kita tidak berfikir? Sedangkan kita baru akan mendapatkan upah gaji pada saat telah menuntaskan pekerjaan kita dengan baik.

 

Untuk itu saudaraku muslimin dan muslimat, mari bersama kita jadikan momentun Idul Fithri ini, untuk menjadi hamba Allah yang bertaqwa, yang karenanya kelak Allah akan memuliakan kita di hadapannya dan dihadapan hamba-hambaNya yang lain. Yang dengan harta kita menjadi berkah, yang dengan kesulitan menjadi kemudahan, yang dengannya segala problematika mendapatkan jalan keluarnya, yang dengannya Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk dan pertolonganNya, yang dengannya kelak Allah akan meridhoi dan memasukkan kita semua ke dalam jannahNya. Lalu mengapa kita tak bersegera menjadi pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT?

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa” [QS. Al Baqarah : 177]

 

”Bertaqwalah kalian kepada Allah, shalatlah yang lima waktu, puasalah di bulan kalian, tunaikan zakat harta kalian, dan taatilah pemimpin kalian, niscaya kalian akan memasuki surga Tuhan kalian.” (Tirmidzi di Kitab Shalat, hadits hasan shahih).

 

Allahu Akbar 3x wa lillahil hamd.

Ma’asyiral Muslimin wal Muslimat Rahimakumullah,

 

Mari kita akhiri khutbah Idul Fithri ini dengan menundukkan hati-hati kita, seraya bermunajat kepada Allah SWT, semoga Allah SWT menerima segala amal ibadah kita di bulan Ramadhan, menjadikan kita pribadi yang bertaqwa, dan menerima do’a kita di kesempatan yang mulia ini.

 

Ya Allah, kami memohon kepada Engkau petunjuk, ketaqwaan, iffah, dan kekayaan.

 

Taqabballahu minna wa minkum, kullu ‘aam wa antum bi khair.

Ja’alnallahu minal a’idin wal faidzin.

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.

Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

 


Gebyar Lomba Ramadhan 1435 H – Kementerian Keuangan

Category : Featured , Informasi , Semua

Yth. Para Kepala Kantor Wilayah Di Lingkungan Ditjen Perbendaharaan

Sehubungan dengan datangnya Bulan Suci Ramadhan 1435 H, dengan ini disampaikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Pengurus Masjid Al-Amanah Kementerian Keuangan Jl. Lapangan Banteng Timur Jakarta Pusat mengadakan kegiatan Gebyar Lomba Ramadhan 1435 H. Lomba tersebut diperuntukkan bagi seluruh pegawai dan keluarga pegawai Kementerian Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
  2. Dalam rangka memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi seluruh pegawai dan keluarga pegawai dimaksud dari Sabang sampai Merauke, maka ketentuan lomba adalah dalam bentuk penqiriman file rekaman audio visual peserta dengan ketentuan sebagai berikut:
  • Peserta mengisiformulir pendaftaran melalui website http://bit.do/alamanahlomba;
  • Jenis lomba terdiri dari Lomba Murattal, Tilawah MTQ, Kultum, dan Adzan;
  • Peserta dapat mengikuti lebih dari 1 (satu) jenis lomba;
  • Karya lomba tersebut direkam dalam bentuk audio visual dan diupload ke google drive peserta kemudian di-share ke alamat email alamanahlomba<at>gmail<dot>com;
  • Panitia akan melakukan verifikasi dan memberikan konfirmasi melalui email apabila data yang disampaikan memenuhi persyaratan yang ditentukan;
  • Batas waktu penyampaian file rekaman audio visual peserta adalah tanggal 9 Juli s.d. 9 Agustus 2014;
  • Seluruh dokumen file rekaman audio visual peserta menjadi milik Panitia Gebyar Lomba Ramadhan 1435 H Masjid Al-Amanah Kementerian Keuangan;
  • Pemenang akan diumumkan pada tanggal 15 Agustus 2014 melalui website www.masjidalamanah.com;
  • Keputusan penetapan pemenang lomba bersifat final dan tidak dapat diganggu gugat;
  • Ketentuan lebih lanjut terkait Gebyar Lomba Ramadhan 1435 H Masjid Al-Amanah Kementerian Keuangan terlampir dan juga dapat diakses melalui website ww.masjidalamanah.com.
  1. Berkenaan dengan hal tersebut diatas, dimohon bantuan Bapa/lbu untuk kiranya dapat menginformasikan Kegiatan Gebyar Lomba Ramadhan 1435 H Masjid Al-Amanah Kementerian Keuangan kepada seluruh pegawai di lingkungan unit kerja masing- masing.

Demikian disampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terima kasih.


Studi Analitis Singkat Atas Konsep Da’wah Imam Asy Syahid Hasan Al Banna Dalam Muqoddimah Risalah Ta’lim

Category : Semua , Wawasan

Ferry Taufik Saleh

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah, Dzat yang mempergilirkan Siang dengan Malam, yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun, yang Maha Esa, yang benar janji-janjiNya, yang menolong hamba-hambaNya, yang menguatkan jundi-jundiNya, dan yang menaklukkan musuh-musuhNya sendirian.

Sholawat dan salam tercurah kepada uswatun hasanah, Rasulullah saw, yang berperangai agung, yang tiada bandingan, teladan bagi para pencari ilmu, da’i, dan mujahid yang berjuang di jalan Allah.

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushilat : 33)

Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, mujaddid di masanya, telah menyebarluaskan ide pemikiran dan konsepnya mengenai da’wah Islam di muka bumi. Disambut baik dengan telah banyaknya ikhwah di seluruh dunia bergabung ke dalam jama’ah yang dibentuknya, “Ikhwanul Muslimin (IM)”. Konsepnya mengenai dakwah telah banyak tersebar dalam berbagai tulisan beliau, salah satu diantaranya adalah Risalah Ta’lim.

Risalah Ta’lim, peninggalan paling berharga Hasan Al Banna, merupakan buah pandang yang bernash dan jitu terhadap perjalanan sejarah, realitas umat, dan pemahamannya yang akurat tentana nash-nash syariat. Risalah Ta’lim terdiri atas muqoddimah, dua bagian sub judul; ‘Rukun-rukun bai’at’ dan ‘kewajiban-kewajiban Seorang Mujahid’, dan penutup. Dalam dua bagian ini, Risalah Ta’lim merinci segala sesuatu yang diperlukan oleh setiap pribadi muslim dewasa ini, agar tidak mengulangi sejarah masa lalu, disamping memjelaskan petunjuk-petunjuk untuk meniti masa depan. Dengan begitu Risalah Ta’lim telah menetapkan starting point bagi setiap muslim untuk mencapai posisi, ‘hanya kalimat Allahlah yang tertinggi’ di bumi ini. Bahkan Risalah Ta’lim memberikan kunci untuk membuka pintu ‘dunia di tangan kaum muslimin’ jika mereka pandai beramal dan bergerak, insyallah. Memperhatikan risalah ini dari muqoddimah hingga penutup, dapatlah dipahami bahwa Risalah Ta’lim bersifat praktis.

Ustadz Hasan Al Banna sadar bahwa tidak semua orang muslim dewasa ini memiliki kesediaan untuk mewujudkan sikap komitmen atas keislaman yang tertinggi. Untuk tujuan itulah beliau membuat peringkat-peringkat keterikatannya kepada dakwah. Sungguh, Islam tidak akan bangkit dengan kelompok semacam ini.

Sungguh dengan memahami risalah ini maka ia akan mengenal dakwah ikhwan. Barang siapa tidak berpegang teguh dengannya maka ia bukan golongan IM, meskipun ia mengibarkan panjinya dan menda’wahkan diri dengannya. Berikut adalah studi analitis singkat terhadap muqoddimah Risalah Ta’lim, dengan sebelumnya menuliskan apa yang beliau sampaikan dalam muqoddimah tersebut.

Risalah Ta’lim

Oleh: Imam Syahid Hassan Al-Banna

Bismillahirrahmanirrahim

 

Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada imamnya para muttaqin, pemimpin para mujahid, junjungan kami Muhammad saw.; sebagai nabi yang ummi. juga semoga tercurahkan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang mengikuti petunjuknya hingga hari Kiamat. Amma ba’du.

 

Inilah risalahku untuk ikhwah mujahidin dari kalangan Ikhwanul Muslimin yang telah beriman kepada keluhuran dakwahnya dan kepada validitas fikrahnya. Mereka memiliki tekad yang tulus untuk hidup bersamanya dan mati atas namanya. Kepada mereka sajalah uraian ringkas ini kupersembahkan. Ia bukan pelajaran-pelajaran yang harus dihafal, tetapi merupakan petunjuk-petunjuk yang harus diamalkan. Marilah beraktivitas, wahai saudaraku yang berhati tulus!

 

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, Maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang Telah kamu kerjakan. (QS. At Taubah : 105)

 

Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al Anaam : 153)

 

Adapun selain mereka, kami sediakan untuknya ceramah-ceramah, buku-buku, makalah-makalah, dan training-training. Masing-masing dari mereka memiliki program yang sesuai dengan tuntutannya, dari semuanya dijanjikan oleh Allah pahala yang baik.

Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hasan Al-Banna

Pembahasan

Imam Asy Syahid Hasan Al Banna memulai Risalah Ta’limnya dengan pujian kepada Allah swt dan sholawat serta salam atas Rasulullah Muhammad saw, keluarganya, sahabatnya dan para pengikutnya yang istiqomah di jalan da’wah, hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya Allah swt yang Maha Kuasa atas segala sesuatunya adalah pemegang kunci keberhasilan dakwah, karena hanya dengan bersama Allah dakwah ini berhasil.

Mengikuti keteladanan Rasulullah saw dalam setiap langkah perbuatannya merupakan sebuah keniscayaan, karena Rasulullah saw adalah teladan yang terbaik dalam segala hal. Karena itulah, setiap mujahid dakwah hendaklah mengikuti segala sunnah Rasulullah saw, seperti yang dikehendaki Imam Asy Syahid Hasan Al Banna seperti yang tertuang dalam seruannya, Allahu Ghayatuna (Allah Tujuan Kami), Ar Rasul Qudwatuna (Rasul Teladan Kami), Al Quraan Dusturuna (Al Quran Pedoman Hidup Kami), Al Jihaadu Sabiiluna (Jihad Jalan Juang Kami), dan Al Mautu fii Sabilillah Asma Amanina (Mati di Jalan Allah adalah Cita-cita Kami Tertinggi).

Risalah Ta’lim ini ditujukan kepada Ikhwan mujahidin yang siap hidup dan mati di dalam jama’ah IM. Asy Syatibi memberi definisi tentang yang dimaksud jama’ah, yaitu:

1. Orang-orang Islam yang berhimpun dalam satu urusan.
2. Mayoritas orang-orang Islam

3. Kumpulan ulama mujtahidin.
4. Jama’atul muslimin jika berhimpun di bawah komando seorang amir (pemimpin).
5. Para sahabat yang diridhoi Allah dan tentu pada kondisi yang khusus.

6. Suatu jama’ah akan terbentuk bila ada musyawarah

 

Barangsiapa menolak ketaatan (membangkang) dan meninggalkan jama’ah lalu mati maka matinya jahiliyah, dan barangsiapa berperang di bawah panji (bendera) nasionalisme (kebangsaan atau kesukuan) yang menyeru kepada fanatisme atau bersikap marah (emosi) karena mempertahankan fanatisme (golongan) lalu terbunuh maka tewasnya pun jahiliyah. (HR. An-Nasaa’i)

 

Memberikan kesetiaan baik ketika hidup, maupun mati dalam keadaan berjama’ah adalah hal yang harus dipahami oleh setiap muslim. Karena apabila kesetiaan itu todak ada, maka seseorang tersebut dapat terpengaruhi seruan-seruan ke arah kema’shiyatan dan kejahatan yang akan menggiringnya kepada api neraka.

Hadis riwayat Hudzaifah Al-Yamani ra., ia berkata:

Orang-orang banyak yang bertanya kepada Rasulullah saw. tentang kebajikan, sedangkan aku justru bertanya kepada beliau tentang kejahatan karena takut aku terjerumus melakukannya. Maka aku bertanya: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya kami pernah mengalami zaman jahiliah dan kejahatan, lalu datanglah Allah dengan membawa kebaikan ini kepada kami. Apakah setelah kebajikan ini nanti akan ada lagi kejahatan? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah setelah kejahatan itu datang lagi kebajikan? Beliau menjawab: Ya, tetapi banyak kekurangan. Aku bertanya: Apakah kekurangannya? Beliau menjawab: Akan ada suatu kaum yang mengikuti selain sunahku serta memberikan petunjuk dengan selain petunjukku, di antara mereka ada yang kamu kenal juga ada yang tidak kamu kenal. Aku bertanya lagi: Apakah setelah kebajikan itu nanti akan ada lagi kejahatan? Rasulullah saw. menjawab: Ya. Kelak akan muncul para dai yang berada di muka pintu-pintu neraka Jahanam. Siapa yang menuruti panggilan mereka, akan mereka lemparkan ke dalamnya. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, terangkanlah kepada kami sifat mereka itu! Rasulullah saw. menjawab: Baiklah. Mereka adalah kaum yang kulitnya sama dengan kita dan berbicara dengan bahasa kita. Aku bertanya: Wahai Rasulullah, apakah perintahmu jika aku mengalami hal itu? Rasulullah saw. menjawab: Tetap setialah kepada jemaah kaum muslimin dan pemimpin mereka. Aku bertanya: Kalau mereka tidak memiliki jemaah serta pemimpin? Rasulullah saw. menjawab: Maka jauhilah semua sekte-sekte yang ada itu meskipun kamu harus menggigit pangkal pohon sampai maut menjemputmu kamu tetap demikian. (Shahih Muslim No.3434)

Inilah kunci pertama untuk memahami persoalan IM. Kewajiban utama setiap muslim ialah memberikan kesetiaannya kepada jamaah dan imamnya. Kunci kedua untuk memahami IM dan dakwahnya adalah IM telah bekerja untuk menegakkan hukum Islam. Hal ini menunjukan bahwa keberadaanya dan tegaknya IM merupakan salah satu tuntutan yang harus diperjuangkan.

Keberadaan IM sesungguhnya menuntut pembaharuan  Islam, baik di bidang ilmu, amal, maupun realitasnya. Jika kita memahami IM dan dakwahnya, berarti kita memahami satu kunci lagi IM. Dakwah ikhwan merupakan simbol bagi berkibarnya panji politik Islam di banyak wilayah Islam.

Ada sejumlah prinsip umum dakwah ini agar dengannya kita dapat memahami kunci-kunci lain dari dakwah ikhwan dan permasalahannya.

  1. IM memahami bahwa dalam islam terdapat tujuan, sarana, khittah, system, kaidah-kaidah institusi, undang-undang dan peraturan yang islami. Dengan itulah IM menginginkan menjadi hizbullah dan tentara sejatiNya.
  2. Ikhwan pada hakekatnya menegakkan komitmen Islam selain mengakomodasi kepentingan zaman dan jangkauan operasional seluas mungkin.
  3. Memelihara opini umum, baik di tingkat regional, nasional maupun internasional, merupakan salah satu prinsip Islam, IM berpijak padanya dan memberikan ruang lingkup yang secukupnya untuk memahami dengan benar.
  4. Ada dua hal yang dapat dicatat berkaitan dengan hal-hal yang dijadikan sebagai pegangan oleh ikhwan.

Pertama, ia harus dibenarkan oleh syariat.

Kedua, ia harus sebanding dengan senjata musuh dan dapat mencapai tujuan.

  1. Prinsip yang menjadi pegangan ikhwan dalam kaitannya prinsip luar negeri adalah prinsip maslahah dengan maslahah, jika ada seseorang yang ingin berhubungan dengan kita atas dasar maslahah namun ditukar dengan prinsip maka harus ditolak.
  2. Semua wilayah pemerintahan Islam bagi ikhwan harus tunduk pada kekuasaan amirul mukminin dan seluruh perangkat pemerintahan pusat dalam perspektif undang-undang yang berlaku.
  3. Dalam pemerintahan Islam harus ada system sentralisasi untuk urusan global dan desentralisasi untuk urusan detailnya.

 

Berikut ini beberapa penjelasan tambahan tentang kunci dakwah ikhwan.

Pertama, hendaknya permasalan dakwah harus dipahami. Ada tiga persoalan yang perlu dicermati dengan baik; memahami dakwah, mendakwakannya, serta mentarbiyah dan menarik orang untuk mendukungnya.

Kedua, dalam dakwah yang harus disentuhkan ke semua orang adalah pembicaraan tentang ruh, jiwa, hati akan dinamika, kebutuhan jiwa akan kebersihan, dan kebutuhan ruh akan pengabdian ikhlas kepada Allah.

Ketiga, dalam konteks pemahaman akan kapasitas intelektual orang yang akan diajak bicara pembicaraan dan dakwah berlangsung.

Itulah sebagai ringkasan sebagian dari kunci untuk memahami IM dan dakwahnya serta masalah-masalah besar yang dihadapi.

Tanggung jawab terbesar adalah melakukan tajdid [pembaharuan] dan naql [alih generasi]. Yakni pembaharuan ajaran Islam dan proses perubahan terhadap pribadi muslim dari satu kondisi ke kondisi yang lain dan perubahan umat Islam dari satu fase ke fase yang lain.

  1. Tentang IM, melalui penjelasan ustadz Hasan Al Banna, ada dua fenomena;

Pertama, ikhwan sebagai sebuah jamaah memusatkan perhatian pada pelayan umum.

Dua, ikhwan sebagai gerakan pembaharuan, inilah fokus terpenting IM.

  1. Mengubah umat sebagai prolog dari proses mengubah dunia.

Tanggung jawab pertama jamaah adalah membangkitkan perasaan muslim tentang eksistensi keislamannya dan eksistensi jamaah. Dua tanggung jawab ini akan diketahui cara menunaikannya dengan benar setelah Risalah Ta‘lim dipahami.

 

Ustadz Hasan Al Banna mengatakan,’ingatlah selalu bahwa kalian memiliki 2 tugas pokok;

  1. Membebaskan negeri Islam dari semua kekuasaan asing
  2. Menegakkan di atas tanah air ini negara Islam yang merdeka, yang memberlakukan hukum-hukum Islam, menerapkan undang-undang sosialnya, memproklamirkan prinsip-prinsip dan nilai-nilainya, dan menyampaikan dakwah Islam dengan bijaksana kepada seluruh umat manusia.

 

Uraian yang dibahas dalam Risalah Ta’lim adalah hal yang harus diamalkan, bukan hanya sekedar dihafalkan, karena apabila hanya menjadi bagian pembicaraan semata, maka kebaikan prinsip dakwah IM tidak akan pernah membumi. Karena sekedar iman saja, percaya dan yakin terhadap jama’ah belumlah cukup untuk menyebarkan kebaikan dakwah IM kepada seluruh manusia.

 

Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak pula menerima amal perbuatan tanpa iman. (HR. Ath-Thabrani)

 

Adapun tingkatan amal yang dituntut dari akh yang tulus adalah;

  1. Perbaikan diri sendiri
  2. Pembentukan keluarga muslim
  3. Bimbingan masyarakat
  4. Pembebasan tanah air dari setiap pengusa
  5. Memperbaiki keadaan pemerintah sehingga menjadi pemerintah Islam yang baik
  6. Untuk mempersiapkan seluruh aset negeri di dunia ini untuk kemaslahatan Islam
  7. Penegakkan kepemimpinan dunia dengan penyebaran dakwah Islam di seantero negeri.

 

TUJUAN IKHWAN SECARA RINCI

  1. Individu

Individu muslim yang kita inginkan adalah yang memiliki fisik kuat, mulia akhlaknya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusannya, bermanfaat bagi orang lain, mampu membimbing keluarga untuk menghormati fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenap kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.

Ia juga berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam-idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengan menyebarkan dakwah Islam di seantero wilayahnya.

  1. Rumah tangga

Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami dan istri di dalamnya mengetahui hak dan kewajibanya masing-masing, lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam.

  1. Masyarakat muslim

Adalah masyarakat yang memiliki akal pikiran, hati dan perasaan islami, masyarakat yang beriman dan beramal sholeh dan saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

  1. Pemerintahan

Kita menghendaki tegaknya pemerintahan islami di semua kawasan islam. Tujuan ini memerlukan penjelasan rinci agar tidak terjadi kerancuan dan kesalahpahaman.

Pertama, Hasan Al Banna mengatakan, pemerintahan islam adalah pemerintah yang anggotanya orang-orang muslim, melaksanakan kewajiban, tidak bermaksiat secara terang-terangan dan melaksakan hukum-hukum islam.

Kedua, Hasan Al Banna mengatakan, tidak apa mengunakan orang-orang non muslim jika dalam keadaan terpaksa, yang penting mereka tidak didudukan dalam posisi pemimpin.

Ketiga, Hasan Al Banna mengatakan, Bentuk dan jenis pemerintahan tidak menjadi persoalan sepanjang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dalam pemerintahan islam.

  1. Daulah Islamiyah

Adalah daulah inti. Menurut Hasan Al Banna daulah inti adalah daulah yang memimpin negara-negara Islam dan menghimpun ragan kaum muslimin, mengembalikan keagungannya, serta mengembalikan wilayah yang telah hilang dan tanah air yang di rampas. Maka penjelasan ini pula mencantumkan beberapa kewajiban daulah.

  1. Tegaknya Daulah dan Khilafah Islamiyah

Hasan Al Banna menyebutkan beberapa kewajiban-kewajiban daulah islamiyah;

    1. mengamalkan hukum-hukum islam
    2. melaksanakan system sosial islam secara lengkap
    3. memproklamasikan prinsip-prinsip yang tegas ini
    4. menyampaikan dakwah islam dengan arif bijaksana

Yang perlu dicatat, Hasan Al Banna menganggap proklamasi khilafah secara resmi dilakukan pada tahap-tahap akhir saja demi memperoleh kemaslahatan yang banyak’

  1. Dunia seluruhnya hanya tunduk kepada Allah SWT

Hasan Al Banna berkata, kemudian daulah islamiyah itu mengibarkan panji-panji jihad dan dakwah, sehingga dunia seluruhnya akan menjadi berbahagia dangan ajaran islam. Daulah islamiyah juga bertanggung jawab untuk menjadi’ guru’ bagi dunia seluruhnya dan menyebarkan dakwah islam sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama itu semata-mata bagi Allah.

 

Ketujuh hal tersebut diatas saling berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Tegaknya suatu negara islam di suatu kawasan merupakan satu tahap untuk menegakkan pemerintah islam inti. Tahapan ini mempersiapkan tahapan berikutnya, yakni kesatuan islam, yang merupakan tahapan menuju tegakknya kekuatan islam internasional, dan ini merupakan tahapan bagi proses selanjutnya.

 

URAIAN TAMBAHAN

Kesimpulan uraian tambahan dalam beberapa poin berikut;

  1. Kita adalah umat yang tidak memiliki kehormatan dan kemuliaan kecuali dengan islam
  2. Islamlah satu-satunya jalan keluar bagi seluruh persoalan kita
  3. Hanya dengan islamlah setiap orang terpenuhi kebutuhannya
  4. Persoalan penjajahan terhadap suatu negara tidak akan terselesaikan kecuali dengan menegakkan panji-panji islam dan mobilisasi jihad
  5. Kehidupan yang baru akan segera terwujud di dunia ini dengan kehadiran islam
  6. Islam memberikan keadilan pada seluruh warga negara yang syah di negeri islam dan melarang sikap zalim kepadanya, meskipun dia bukan seorang muslim.
  7. Penerapan islam bukan berarti pemasungan kenikmatan dunia yang bermanfaat.
  8. Penerapan islam itulah satu-satunya sarana yang dapat menghimpun kadar produktivitasnya, pembagian kekayaan alam, dan rasa tanggung jawab.

 

Berjuang agar kalimat Allah menjadi tertinggi merupakan inti perjalanan hidup kita. Kita adalah jama‘ah yang berslogan; kebenaran, kekuatan dan kebebasan. Kebenaran tampak jelas dalam wahyu ilahiyah. Kekuatan, Allah swt. Memerintahkan kepada orang-orang beriman agar mempersiapkan kekuatan. Kebebasan, seperti yang diungkapkan para sahabat, kami datang untuk mengeluarkan manusia dari penghambaan pada diri antar sesamanya menuju penghambaan kepada Allah, dari kezaliman agama-agama menuju keadilan islam.

 

Kita tahu dan memahami bahwa di dunia ini terdapat jama’ah minal jama’atul muslimin seperti yang telah diungkapkan Yusuf Qardhawy dalam bukunya ‘Ainal Khalal. Kepada mereka dinyatakan, sesuai dengan prinsip yang terdapat dalam ushul isyrin IM:

      Perbedaan pendapat dalam soal yang kecil tidak sepatutnya menjadi sebab untuk berpecah. Perbedaan pendapat ini tidak sepatutnya menimbulkan permusuhan dan persengketaan karena setiap mujtahid akan mendapat pahalanya. Namun tidak salah untuk membuat kajian ilmiah dalam masalah-masalah yang dipertikaikan sepanjang ia dilakukan dalam suasana penuh kemesraan dan saling bekerjasama untuk mencari kebenaran. Dengan syarat ia tidak menimbulkan perselisihan yang tidak diingini.

 

Setiap jama’ah minal jama’atul muslimin pastilah memiliki tujuan, bisa sama atau bahkan berbeda sekali. Untuk mencapai tujuan tersebut, masing-masing memiliki program, dan sepanjang program itu sesuai dengan manhaj Islam yakni Al Quran dan As Sunnah, maka untuk mereka juga telah Allah sediakan ganjaran pahala atas kebaikan yang mereka usahakan. Inilah prinsip yang mengakhiri muqoddimah rislah ta’lim, yang menunjukkan kedewasaan dan berlepas dari kekerdilan cara berfikir bahwa jama’ah ini adalah yang paling sempurna, dan yang lain adalah salah.

Kepada mereka juga disediakan buku-buku, ceramah, dan bahan dakwah lainnya tentang IM agar mereka mengetahui dan memahami dakwah IM yng sesungguhnya, sehingga tiada hal yang meragukan bagi mereka lagi bahwa dakwah IM adalah salah satu dakwah yang sesuai dengan Quran dan Sunnah. Wallahu a’lamu bi showab…


Mendakwahkan Islam ke Luar Arab dan Utusan Rasulullah

Category : Semua , Wawasan

Oleh: Ferry Taufik Saleh

Adelaide, 4 Juni 2011

 

Zhahirnya, perjanjian Hudaibiyah memuat pasal-pasal yang menguntungan kaum musyrikin. Namun, pada kenyataannya seperti firman Allah SWT dalam QS Al Fath ayat 1 yang telah Allah sampaikan dalam perjalanan pulang ke Madinah pasca umrah Hudaibiyah bahwa sesungguhnya kejadian ini adalah satu kemenangan yang nyata bagi kaum Muslimin. Salah satunya adalah kaum muslimin saat itu terbebas dari ancaman musuh. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh Rasulullah saw untuk menda’wahkan Islam lebih luas bahkan sampai ke luar Arab. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke 7 H sebelum fathu mekkah. Imam Bukhari dalam shahihnya menyebutkan bahwa pengiriman surat ini dilakuan sebelum perang Tabuk, yaitu pada tahun 9 H.

Rasulullah saw memberangkatkan 10 sariyah (pasukan kecil) untuk menunaikan tugas da’wah kepada Islam; jika  menolak, maka mereka akan diperangi. Berikut rangkumannya:

No

Nama Utusan

Penerima

Tujuan Risalah

Sikap Penerima

1

Dihyah bin Khalifah

Al Kalabi

Heraklius

(Kaisar Romawi)

Elia di Palestina Dia takut kehilangan kerajaannya dan tidak masuk Islam

2

Abdullah bin Hudzaifah as-Sahmi Kisra Raja Persia Mada’in di Irak Dia merobek surat Rasulullah saw dan Allah pun meruntuhkan kerajaannya

3

Amr bin Umayah

ad-Dhamri dan Ja’far bin Abi Thalib

Ashamah bin al Abhar (Raja Habasyah/Najasyi/Negus) Habasyah Dia masuk Islam dan meletakkan surat tersebut ke keningnya serta membalas surat Rasulullah saw

4

Hathib bin Abi Balta’ah Juraij bin Matta / Al Mauqauqis (Pemimpin Mesir) Iskandariyah di Mesir Dia tida masuk Islam, namun menghormati kedatangan surat Rasulullah saw dan membalas serta memberikan bingkisan, Maria al Qibtiyah dan saudarinya Sirin.

5

Al ‘Ala bin al Hadhrami Munzhir bin Sawi (Raja Bahrain) Hajir di Bahrain Dia masuk Islam bersama kaumnya

6

Salith bin Amr al Amiri Haudzah bin Ali (Amir Yamamah Yamamah di Najd Dia bersedia masuk Islam asal diangkat menjadi Gubernur

7

Syuja’ bin Wahb al Asadi Al Harits bin Abi Syamar Al Ghassani (Amir Kabilah Ghassanah) Hauran Dia mengancam akan memerangi Madinah

8

Amr bin Al Ash As Sahmi Jaifar dan Abd bin  al Jalandi (Penguasa Oman) Oman Masuk Islam

9

Muhajir bin Abu Ummayyah al-Makhzumi Al Harits Al Himyari (Pemimpin Yaman) Sana’a di Yaman Masuk Islam

10

Abu Musa al Asyari dan Muadz bin Jabal Penduduk Yaman Yaman Masuk Islam

Hikmah:

  1. Pemberangkatan sariyah tersebut menandai periode dakwah Perjuangan Politik dan Kemenangan da’wah.
  2. Pengakuan atas negara Islam.
  3. Sikap jihad ofensif dan bukan defensif.
  4. Karakteristik Dakwah Islam:
  5. Sistem yang seharusnya berlaku di dunia adalah sistem Islam.
  6. Tahapan dakwah dimulai dengan dakwah silmi (dakwah damai) dengan hikmah dan nasehat yang baik dalam waktu yang lama. Setelah itu pemaksaan (ilzam) dilakukan terhadap orang-orang atheis, musyrik, penyeru berhala dan pengikutnya. Prioritas dakwah adalah perbaikan diri dan sesama mereka (internal Islam), baru mendakwahkan Islam keluar ummat Islam.
  7. Dakwah Islam tidak memandang ras maupun golongan. Metode dakwah Rasulullah saw:
    • Bil hikmah dan Mauizhoh Hasanah (menyebut gelar, dan bahasa pergaulan)
    • Delegasi berkemampuan bahasa sama dengan kaum yang dikunjungi
    • Tidak serta merta mengambil kekuasaan
    • Bersikap tegas dan keras terhadap upaya negoisasi dengan kekafiran

 

Referensi:

  1. Sirah Nabawiyah Ramadan al Buthi
  2. Sirah Nabawiyah Shafiyurrahman al Mubarakfury
  3. Manhaj Haroki Syeih Munir Muhammad al Ghadban

Think Before You Think

Category : Featured , Semua , Wawasan

Saya memohon ampun kepada Allah, dan selayaknya kita pun memohon  ampun kepadaNya atas segala khilaf kata dan perbuatan, karena manusia memang tempatnya khilaf dan lupa. Bagaimana tidak? Rasulullah saw Al Ma’shum (yang dijaga dari dosa) saja beristighfar 70x dalam sehari[i] atau bahkan dalam riwayat yang lain sampai dengan 100x dalam sehari[ii]. Bagaimana dengan kita? Bahkan terkadang kita lupa ada Allah yang pengawasannya lebih dekat dari urat leher[iii]. Astaghfirullah.

 

Tak ada yang patut disombongkan dari pribadi kita sebagai manusia, bahkan ilmu yang ada di dunia ini hanya sekedar celupan jari kita di lautan yang luas… Allah lah yang berhak memakai baju kesombongan, dan bukannya kita manusia yang dapat Allah hinakan atau muliakan dalam sekejap…[iv]

 

Ikhwah fillah, saudaraku yang dimuliakan Allah.

Izinkan saya mecurahkan isi hati dalam tulisan ini. Semoga tulisan ini dapat bermakna dan bermanfaat untuk kita semua, terutama kepada saya yang mengungkapkan. Karena apalah arti berbicara apabila tidak terdapat kebaikan di dalamnya, dan bahkan dapat menjerumuskan kita dalam kema’shiyatan kepada Allah SWT. “Katakanlah yang benar atau diam”. Tulisan ini sebagiannya juga pernah saya sampaikan dalam khutbah Jumat di Flinders University.

 

Saudaraku yang diberkahi Allah,

Allah SWT berkali-kali menyebut akal dalam Al Quran, dan bahkan memerintahkan dan atau meminta kita untuk mempergunakannya, seperti: Afala ta’qiluun, afala tatadabbaruun, liqowmiy ya’qiluun, dsb. Akal inilah yang memang menjadikan kita berbeda dengan makhluk Allah lainnya. Dengan akal ini, kita akan mendapatkan kebaikan dan keberkahan, namun di sisi lain, akal juga dapat menjerumuskan kepada kezhaliman… Masya Allah.

 

THINK BEFORE YOU THINK

 

Saudaraku, berfikirlah sebelum kita berfikir atas sesuatu. Memang mudah sekali terlintas fikiran dan mudah sekali kita tergoda untuk melakukannya. Dari fikiran inilah banyak keluarga yang retak, organisasi yang hancur, dan negara yang rusak…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK THAT YOU CANNOT CHANGE.

 

Islam mengajarkan kepada kita untuk bersikap optimis terhadap masa depan. Disaat kondisi yang terjepit saat perang Khandaq (kondisi badai, lapar, dan dikepung musuh dari segenap penjuru selama berminggu-minggu), Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa Romawi dan Persia akan diktaklukkan[v]. Dan isyarat itu baru terwujudkan setelah 8 abad Rasulullah saw menyampaikan sabdanya. Adalah fitrah manusia dan menjadi sunnatullah perubahan itu. Siapa yang membantu kita merangkak, duduk, berdiri, berjalan, bahkan berlari? Adalah kita sendiri yang berupaya dan Allah yang mengqabulkannya. Kita berusaha dan Allah yang mewujudkannya. Tapi kalaulah kita diam dan hanya bersuara sana-sini, mimpi besar itu takkan pernah tercapai.

 

Bertahap saudaraku, bertahap… Siapa sangka komputer sebesar ruangan dapat berubah menjadi laptop seperti sekarang atau iPad yang lebih mungil lagi. Siapa kira kita dapat mengetahui apa yan terjadi di belahan bumi yang lain melalui dunia maya dalam sekejap. Bertahap saudaraku, bertahap…

Yang terpenting kita MULAI DARI DIRI SENDIRI, MULAI DARI YANG TERKECIL, DAN MULAI DARI SEKARANG[vi]. Manfaat apa yang dapat kita berikan bagi ummat (bukan hanya Islam tentunya, karena Islam rahmatan lil ‘alamiin), bukannya menunggu dan terlalu lama dalam pembahasan…

 

Perubahan itu dimulai dari diri sendiri, lantas darinya perubahan itu dimulai. Ummat Islam memiliki izzah (kemuliaan) di waktu lalu adalah karena kedekatan dan ketaqwaan mereka kepada Allah. Dari pribadi-pribadi yang unggul itulah masyarakat terwarnai dan akhirnya berubah, dan dari kumpulan masyarakat itulah akhirnya satu bangsa menjadi berjaya. Bagaimana ketika membaca kisah Umar ra sebagai seorang khalifah tidak memiliki baju yang memadai bahkan untuk dirinya sendiri[vii], bagaimana kisah masyarakat Umar bin Abdul Azis yang tidak mau dikategorikan miskin dan bahkan Baitul Mal kesulitan untuk mebagikan zakat yang berlimpah, bagaimana imam Ahmad mempertahankan aqidahnya di depan penguasa yang hendak membunuhnya? Adalah ketaqwaan jawabannya.. Mereka telah terbiasa bekerja profesional di siang hari, dan menjadi rahib di malam hari. Quran menjadi teman setianya, tahajud menjadi sarana mendekatkan dirinya, puasa menjadi benteng hawa nafsunya…. Mereka tahu ada Allah yang menyertai mereka… Sabar tatkala kesulitan melanda, Syukur tatkala kebahagiaan tiba… Jawabannya, mereka telah memiliki akal yang menuntun mereka kepada kebenaran, karena akal mereka dituntun oleh hati yang telah bersih suci… Bagaimana dengan kita… Mari kita berubah… Think before you think you cannot change.

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK NEGATIVELY OF ANYONE.

 

Saudaraku, jauhilah prasangka, karena dari prasangka itulah asy syaithan melakukan upayanya menjerumuskan kita.. Allah swt telah memerintahkan kita untuk menjauhi prasangka. Prasangka akan membawa kepada kehancuran, suami yang selalu mencuriai istrinya akan berakhir dengan keretakan rumah tangga, orang tua yang mencurigai anaknya, akan berakhir dengan pemutusan silaturahim, satu anggota organisasi mencurigai satu anggota organisasi yang lain akan berujung pada kehancuran organisasi tersebut. Banyaklah kisahnya tak perlu saya sebutkan.

 

Dalam Islam kita diajarkan untuk memberitahu istri kita apabila kita hendak pulang ke rumah. Ada dua kebaikan di dalamnya, pertama memberikan kesempatan istri kita untuk berhias dan memberikan pemahaman kepada istri kita bahwa kita tak mencurigai sedikitpun apa yang dilakukannya di dalam rumah. Bagaimana dengan kita? Saat kita dengar istri kita menelpon dengan sorang laki-laki, kita lantas curiga… membuka pintu dengan cepat seakan hendak memergokinya dan sebagainya. Berprasanka baik itu tak ada habisnya, bahkan apabila kita menemukan seribu indikasi tertentu atas saudara kita, kita harus mencari satu alasan untuk berprasangka baik terhadapnya.

 

Yang saya maksudkan disini bukanlah waspada, karena bersikap waspada menjadi bagian dari Islam. Waspada berarti melakukan pembenahan dalam diri organisasi, masyarakat, atau bangsa. Membenahi pemahamannya sehingga tidak terpengaruh dengan pemahaman luar dan sebagainya. Ilmu menjadi jawabannya. Semakin banyak ilmu yang dimiliki oleh seseorang, semakin bijaklah seseorang tersebut dalam mengambil keputusan, semakin bijak dalam memandang sesuatu. Semakin kuatlah pertahanan yang dimilikinya. Karena itulah Islam memerintahkan kita untuk menuntut ilmu. Tidak merasa cukup atas ilmu, terlebih lagi ilmu agama, karena yang kita miliki belum seberapa. Pertanyaan sederhana yang mungkin semua muslim belum tahu, apa bedanya najis dengan hadats? Bagaimana lalu jika pertanyaannya menyangkut aqidah? Akan semakin sulit bagi seseorang yang belum memiliki pemahaman mendalam terhadapnya untuk menangkis dan mempertahankannya… Masya Allah…

 

Hal terpenting berikutnya dari bagian ini adalah mengupayakan agar saudara kita tidak terjebak atas prasangka yang negatif terhadap kita. Dalam satu kisah, tatkala Rasulullah saw berjalan berdua dengan istrinya Ummu Salamah di malam yang gelap selepas sholat isya (saat itu belum ada penerangan jalan), berpapasanlah dengan cepat dua orang sahabat. Saat itu, Rasulullah saw memanggil kedua sahabat itu mendekat dan memberitahukan bahwa ia saat itu sedang berjalan dengan istrinya. Sahabat pun bingung, dan mempertanyakan kenapa Rasulullah menyampaikan hal tersebut karena mereka tahu ia adalah Rasulullah saw yang tak mungkin berma’shiyat. Rasululla menjelaskan bahwa ia lakukan itu agar syaithan tak mengambil kesempatan untuk melakukan tipu dayanya menerbarkan prasangka buruk.

 

Tabayunlah, cek dan ricek kebenaran informasi tersebut… Jangan sampai kita menjadi bagian penyebar fitnah, penyebar kedengkian… Kalaupun benar adanya, simpanlah itu, karena Allah akan menutup aib kita apabila kita berupaya menutup aib orang lain. Nasehatilah ia tidak di depan publik, berbicralah dengannya dari hati kehati. Kalaupun ia tidak mau berubah, niscaya akan kita dapati hikmah dibaliknya… Subhanallah… Think before you think negatively of anyone…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK THAT EVERYONE IS GENERALLY THE SAME.

 

Ketika kita dapati seseorang dalam satu organisasi melakukan perbuatan ma’shiyat, belum tentu semua orang dalam organisasi tersebut melakukan hal yang sama. Hal inilah yang terjadi ketika Islam diidentikan dengan terorisme. Seperti yang dosen saya (Pure Australian) di Uni Adelaide menceritakan tentang perlakuan terhadap orang Islam di Adelaide pasca serangan 11 September. Ada muslimah yang dilempar telur, ditarik jilbabnya dan seterusnya. Itulah yang terjadi ketika kita meng generalisir suatu hal… kehancuran dan permusuhan…

 

Buktikan saja sendiri, niscaya akan kau dapati bahwa mereka insya Allah ada bedanya…. Kita hanya bisa dapati tipikal kesukaan dan tingkah laku anggota satu organisasi tapi kita tetap tidak bisa mengatakan bahwa semua anggotanya memiliki kelakuan dan keinginan yang sama…

 

Saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK YOU CAN DO ALL BY YOURSELF.

 

Mobil hanya akan berjalan baik apabila ada Setir, Mesin, Oli, Ban, Bensin, dan seterusnya. Semuanya bekerja sama untuk berjalan. KH Zainuddin MZ pernah mencontohkan bahwa tangan yang satu apabila gatal, maka ia memerlukan tangan yang lain untuk membantu menggaruknya. Begitulah, kita diciptakan Allah saling bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan berbeda satu sama lain untuk bahu membahu mewujudkan kejayaan Islam. Rindu saat Islam berjaya di setiap lini ilmu pengetahuan, bahkan menjadi pionirnya.

 

Perdebatan hanya akan menimbulkan kerugian. Diskusi yang membangun itu yang diperlukan. Siapa saja dalam satu organisasi yang memiliki satu keahlian, dapat membaginya dengan yang lain. Niscaya, cahaya kebahagiaan dan cita-cita yang didamba Insya Allah dapat segera tercapai. Mari kita bangun kembali TPA-TPA di sekitar kediaman kita, jika tidak ada yang menggerakkan kita yang mulai, minta dukungan dari MIIAS, Ibu-ibu bahu membahu buat PKK di setiap unit untuk kesejahteraan ibu-ibu, bengkel atau tukang cukur, dan semua difasilitasi MIIAS… insya Allah dengan upaya ini dapat membiasakan kita berfikir produktif dan bermanfaat dengan berjamaah.

 

Ibarat motor, perlu ada perbaikan, tune up, dan sebagainya hingga ia dapat berjalan dengan mulus di jalan. Beraneka ragam peristiwa yang terjadi di kehidupan kita menyebabkan kita kadang lemah iman, futur (para sahabat dikatakan futur apabila tidak membaca satu Juz Al Quran dalam satu hari, dan umar merasa dirinya futur tatkala ketinggalan rakaat shalat berjamaah. Lalu futur kita?

 

Masihkah kita merasa aman dengan kebaikan yang kita miliki sekarang? Padahal Umar ra yang telah dijamin masuk surga menyatakan dirinya akan sangat baagia tatkala Kebaikan dirinya sama dengan keburukan dirinya? Lalu bagaimana dengan kita? Masihkah kita angkuh dengan titel yang kita miliki, gelar yang kita raih, jabatan yang kita duduki, ilmu yang kita punya? Semuanya akan percuma tatkala itu tak membantu menghantarkan kita ke surganya. Akal cerdas yang kita miliki takkan berarti tanpa ilmu dan iman yang kian bertambah. Berapa banyak sudah bukti orang-orang berilmu tanpa keimanan yang akhirnya menjatuhkan dirinya dalam lembah kehinaan namun kita masih tidak mau berfikir…

 

THINK saudaraku, THINK BEFORE YOU THINK…

 

Milis bukanlah sarana utama menambah ilmu, karena di dalamnya menurut yang saya amati berasal dari banyak sumber, yang mengakibatkan kita bingung untuk bersikap atau mengambil kesimpulan mana yang benar. Mengapa? Karena dasar pemahaman kita belum kuat.

 

Dalam mengkaji ilmu. Seharusnyalah kita mengikuti teladan Nabi Musa as yang memilih 12 orang naqib (yang memiliki ilmu lebih) untuk menuntun para sahabatnya dalam tiap kelompok[viii]. Yang mempersaudarakan satu muhajirin dengan satu anshar. Mengikuti salafus shalih seperti Syafii yang mengahi dari satu syaikh ke satu syaikh yang lain, tidak pada saat yang bersamaan. Karena setiap guru memiliki konsep yang berbeda, karena memiliki tahapan ilmu atau bahkan metodologi penyampaian yang berbeda. Bukankah kita dalam melakukan riset selalu hanya diawasi satu orang supervisor yang mengarahkan kita?

 

Lalu? Solusinya adalah kembalilah mengaji seperti seharusnya, dari satu guru yang memberikan pemahamannya atas satu ilmu, baru kepada yang lain. Jadikanlah rujukan-rujukan yang lain layaknya referensi bukan saran utama. Bukan begitu? Nah, dengan momentum ini saya mengajak diri saya untuk ikut bagian dalam berbagai pengajian… Kalau mau dengan saya setiap Sabtu, Maghrib berjamaah sampai satu jam selepas Isya di Payneham. Di situ akan dibahas dasar utama kita memahami Islam, Al Quran dan Kitabus Sunnah (Fiqh Sunnah) dan penekanan materi dasar keislaman. Saya menyebutnya liqo (pertemuan) karena bahasa liqo adalah bahasa Arab yang bahkan orang NU seperti saya mempergunakannya atau kalau mendengarkan radio Asy Syafiiyyah anda akan mendengarkan kata tersebut.

 

Atau saudaraku, ikutilah pengajian-pengajian lain yang ada di sekitar anda yang setidaknya diselenggarakan oleh MIIAS. Subhanallah, semangat organisasi ini berdakwah sungguh sangat luar biasa. Lalu mengapa kita tidak mencobanya dan membuktikan tudingan-tudingan miring atasnya… Pembuktian atas sesuatu akan meningkatkan kepercayaan kita terhadap sesuatu.

 

Terakhir, berhati-hatilah, semangatlah dan think before you think. Ayo semangat mengaji.

Ikhwah fillah, Ila liqo (sampai ketemu dalam pertemuan), insya Allah…

 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, Yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah Dia dan tegak Lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”[ix]

 

Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thariq.

 

Adelaide, September 2011

Ferry Taufik Saleh

 

 



[i] Riyadhus Shalihin, HR Bukhari, Hadits ke 1870

[ii] Riyadhus Shalihin, HR Muslim, Hadits ke 1869

[iii] Quran Surah Qaaf ayat 16

[iv] Quran Surah Ali Imran ayat 26-27

[v] Shafiyurrahman al Mubarakfury, Rahiqul Makhtum

[vi] KH. Abdullah Gymnastiar, 3M

[vii] Ibnu Katsir, Al Bidayah wa An Nihayah, Masa Khulafaur Rasyidin

[viii] Al Quran Surah Al Maaidah ayat 12

[ix] Al Quran Surah Al Fath ayat 29


Hak dan Kewajiban Suami Istri

Category : Featured , Semua , Wawasan

Ferry Taufik Saleh

 

MUQODDIMAH

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Dzat Yang Maha Kuasa atas segala. Allah telah menjadikan manusia berpasang-pasangan. Laki-laki dan perempuan saling menyatu, saling berpadu dalam bahtera rumah tangga, dalam keindahan cinta,  saling mengisi membagi dan memberi. Terciptalah ketenangan diantara keduanya. Terciptalah keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Islam telah memberikan penjelasan yang detil mengenai prinsip saling memberi dan membagi ini. Semuanya terwujudkan dalam hak dan kewajiban suami istri.

KEWAJIBAN SUAMI, HAK ISTRI

Di antara kewajiban-kewajiban dan hak-hak tersebut adalah seperti yang tersurat dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dari Shahabat Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiyallaahu ‘anhu bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:

  1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
  2.  Engkau memberinya pakaian apabila engkau ber-pakaian,
  3.  Janganlah engkau memukul wajahnya,
  4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
  5.  Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2142), Ibnu Majah (no. 1850), Ahmad (IV/447, V/3, 5), Ibnu Hibban (no. 1286, al-Mawaarid), al-Baihaqi (VII/295, 305, 466-467), al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (IX/159-160), dan an-Nasa’i dalam ‘Isyratun Nisaa’ (no. 289) dan dalam Tafsiir an-Nasa’i (no. 124). Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

 

[1]. ENGKAU MEMBERINYA MAKAN APABILA ENGKAU MAKAN

Memberi makan merupakan istilah lain dari memberi nafkah. Memberi nafkah ini telah diwajibkan ketika sang suami akan melaksanakan ‘aqad nikah, yaitu dalam bentuk mahar, seperti yang tersurat dalam Al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 233.

Allah berfirman

“Artinya : …Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka dengan cara yang patut. Seseorang tidak dibebani lebih dari kesanggupannya.” [Al-Baqarah : 233]

Bahkan ketika terjadi perceraian, suami masih berkewajiban memberikan nafkah kepada isterinya selama masih dalam masa ‘iddahnya dan nafkah untuk mengurus anak-anaknya. Barangsiapa yang hidupnya pas-pasan, dia wajib memberikan nafkah menurut kemampuannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Artinya : …Dan orang yang terbatas rizkinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya. Allah tidak membebani seseorang melainkan (sesuai) dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan setelah kesempitan.” [Ath-Thalaq : 7]

Ayat yang mulia ini menunjukkan kewajiban seseorang untuk memberikan nafkah, meskipun ia dalam keadaan serba kekurangan, tentunya hal ini disesuaikan dengan kadar rizki yang telah Allah berikan kepada dirinya.

Berdasarkan ayat ini pula, memberikan nafkah kepada isteri hukumnya adalah wajib. Sehingga dalam mencari nafkah, seseorang tidak boleh bermalas-malasan dan tidak boleh menggantungkan hidupnya kepada orang lain serta tidak boleh minta-minta kepada orang lain untuk memberikan nafkah kepada isteri dan anaknya. Sebagai kepala rumah tangga, seorang suami harus memiliki usaha dan bekerja dengan sungguh-sungguh sesuai kemampuannya.

Nafkah yang diberikan sang suami kepada isterinya, lebih besar nilainya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dibandingkan dengan harta yang diinfaqkan (meskipun) di jalan Allah ‘Azza wa Jalla atau diinfaqkan kepada orang miskin atau untuk memerdekakan seorang hamba.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Uang yang engkau infaqkan di jalan Allah, uang yang engkau infaqkan untuk memerdekakan seorang hamba (budak), uang yang engkau infaqkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau infaqkan untuk keluargamu, maka yang lebih besar ganjarannya adalah uang yang engkau infaqkan kepada keluargamu.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 995), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

Setiap yang dinafkahkan oleh seorang suami kepada isterinya akan diberikan ganjaran oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : …Dan sesungguhnya, tidaklah engkau menafkahkan sesuatu dengan niat untuk mencari wajah Allah, melainkan engkau diberi pahala dengannya sampai apa yang engkau berikan ke mulut isterimu akan mendapat ganjaran.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 1295) dan Muslim (no. 1628), dari Sa’ad bin Abi Waqqash radhiyallaahu ‘anhu.

Seorang suami yang tidak memberikan nafkah kepada isteri dan anak-anaknya, maka ia berdosa. Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menyia-nyiakan orang yang wajib ia beri makan (nafkah).” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1692), dari Shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahiih Sunan Abi Dawud (V/376, no. 1485).

[2]. ENGKAU MEMBERINYA PAKAIAN APABILA ENGKAU BERPAKAIAN

Seorang suami haruslah memberikan pakaian kepada isterinya sebagaimana ia berpakaian. Apabila ia menutup aurat, maka isterinya pun harus menutup aurat. Hal ini menunjukkan kewajiban setiap suami maupun isteri untuk menutup aurat. Bagi laki-laki batas auratnya adalah dari pusar hingga ke lutut (termasuk paha).

Sedangkan bagi wanita adalah seluruh tubuhnya, kecuali muka dan telapak tangannya. Termasuk aurat bagi wanita adalah rambut dan betisnya. Jika auratnya sampai terlihat oleh selain mahramnya, maka ia telah berbuat dosa, termasuk dosa bagi suaminya karena telah melalaikan kewajiban ini

Jika seorang suami malu dan risih dengan pakaian yang tidak menutup aurat -dengan celana pendek misalnya- untuk pergi ke kantor, maka hendaknya dia juga merasa risih ketika mengetahui bahwa isterinya pergi ke pasar, ke tempat umum atau keluar rumah dengan aurat terbuka. Sehingga orang-orang yang jahil dan berakhlak buruk turut melihat keindahan tubuh isteri yang dicintainya.

Seorang suami hendaknya memiliki rasa cemburu dalam masalah ini, karena kalau tidak, niscaya dia akan menjadi dayyuts (membiarkan kejelekan yang timbul dalam rumah tangganya), dan ini akan menjadi awal malapetaka yang dapat menghancurleburkan kehidupan rumah tangga yang telah dibangun dan dibinanya dengan susah payah.

Seorang suami hendaknya menasihati isterinya dalam masalah pakaian ini sehingga isterinya tidak melanggar batas-batas yang telah ditetapkan syari’at dan menyempurnakannya dengan pakaian terbaik menurut syari’at Islam. Hal ini supaya ia tidak terjebak pada istilah-istilah busana muslim yang modis dan trendi, yang justru pada hakikatnya merupakan busana yang terlaknat seperti hal-hal tersebut di atas.

 [3]. JANGAN ENGKAU MEMUKUL WAJAHNYA

Di antara hak yang harus dipenuhi seorang suami kepada isterinya ialah tidak memukul wajah isterinya, meski terjadi perselisihan yang sangat dahsyat, misalnya karena si isteri telah berbuat durhaka kepada suaminya. Memukul wajah sang isteri adalah haram hukumnya. Sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla.

“Artinya : Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (isteri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dan hartanya. Maka perempuan-perempuan yang shalih adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika (suami-nya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz , hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah mereka. Tetapi jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.” [An-Nisaa’ : 34]

Dalam ayat ini, Allah membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:

  1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at Islam.
  2.  Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.
  3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.

Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

“Artinya : Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1218 (147)), dari Shahabat Jabir bin ‘Abdillah radhiyallaahu ‘anhuma.

Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2146), Ibnu Majah (no. 1985), Ibnu Hibban (no. 1316 -al-Mawaarid) dan al-Hakim (II/188), dari Sahabat Iyas bin ‘Abdillah bin Abi Dzubab radhiyallaahu ‘anhu. Hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik, yaitu yang baik kepada isteri-isterinya.

Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang paling baik kepada isteriku” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thahawi dalam al-Musykilul Atsar (VI/343, no. 2523), Ibnu Majah (no. 1977), dari Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban (no. 1312 -al-Mawaarid) dan at-Tirmidzi (no. 3895), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.

“Artinya : Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya.” Hadits shahih lighairihi: Diriwayatkan oleh Ahmad (II/250 dan 472), at-Tirmidzi (no. 1162) dan Ibnu Hibban (no. 1311 -al-Mawaarid), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lihat Silsilah ash-Shahiihah (no. 284).

[4]. JANGANLAH SEKALI-KALI ENGKAU MENJELEKKAN ISTERI

Contoh ucapan yang dimaksud adalah “Semoga Allah menjelekkanmu” atau “Kamu dari keturunan yang jelek” atau yang lainnya yang menyakitkan hati sang isteri.

Seorang suami telah memilih isterinya sebagai pendamping hidupnya, maka kewajiban dia untuk mendidik isterinya dengan baik. Setiap manusia tidak ada yang sempurna, sehingga adanya kekurangan dalam kehidupan berumah tangga merupakan sesuatu yang wajar saja terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Terkadang isteri memiliki kekurangan dalam satu sisi, dan suami pun memiliki kekurangan dari sisi yang lain. Tidak selayaknya melimpahkan tumpuan kesalahan tersebut seluruhnya kepada sang isteri.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Artinya : Tidak boleh seorang mukmin menjelekkan seorang mukminah. Jika ia membenci satu akhlak darinya maka ia ridha darinya (dari sisi) yang lain.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1469), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

Seorang suami, sebagai kepala rumah tangga berkewajiban untuk membimbing dan mendidiknya dengan sabar sehingga dapat menjadi isteri yang shalihah dan dapat melayani suaminya dengan penuh keridhaan.

Islam mengajarkan kepada ummatnya untuk memanjatkan do’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla atas kebaikan tabiat isterinya dengan memegang ubun-ubunnya seusai ‘aqad nikah sambil membaca:

“Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang dibawanya.” Hadits hasan: Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 2160), Ibnu Majah (no. 1918), al-Hakim (II/185), al-Baihaqi (VII/148), dan al-Hakim menshahihkannya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma. Lihat Aadabuz Zifaaf (hal. 92-93).

Apabila isteri Anda salah, keliru atau melawan Anda, maka nasihatilah dengan cara yang baik, tidak boleh menjelek-jelekkannya, dan do’akanlah agar Allah memperbaikinya dan menjadikannya isteri yang shalihah.

[5]. TIDAK BOLEH ENGKAU MEMISAHKANNYA, KECUALI DI DALAM RUMAH

Jika seorang suami dalam keadaan marah kepada isterinya atau terjadi ketidakharmonisan di antara keduanya, maka seorang suami tidak berhak untuk mengusir sang isteri dari rumahnya. Islam menganjurkan untuk meninggalkan mereka di dalam rumah, di tempat tidurnya dengan tujuan untuk mendidiknya. Sang suami harus tetap bergaul dengan baik terhadap isterinya, seperti yang termaktub di dalam kitab suci Al-Qur-an yang mulia, Allah Ta’ala berfirman:

“Artinya : Dan janganlah kamu keluarkan mereka dari rumahnya dan janganlah (diizinkan) keluar kecuali jika mereka mengerjakan perbuatan keji yang jelas.” [Ath-Thalaq : 1]

Juga firman-Nya.

“Artinya : … Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak pada-nya.” [An-Nisaa’ : 19]

Pernikahan adalah ikatan yang kokoh “miitsaqon gholiidhoo”, tidak selayaknya hanya karena masalah yang kecil dan sepele kemudian tercerai-berai. Bahkan dalam masalah-masalah yang sangat besar pun, kita diperintahkan untuk bersabar menghadapinya, serta saling menasihati.

Akan menjadi sangat sulit bagi orang tua (suami dan isteri) untuk membimbing dan mendidik keturunannya agar menjadi anak yang shalih, manakala sang suami berpisah dengan isterinya. Sedangkan anak yang shalih merupakan salah satu aset yang sangat berharga, baik untuk kehidupan kedua orang tuanya di dunia terlebih di akhirat kelak.

[6]. MENGAJARKAN ILMU AGAMA

Di antara hak seorang isteri yang harus dipenuhi suaminya adalah memberikan pendidikan dan pengajaran dalam perkara agama. Dengan memahami dan mengamalkan agamanya, seseorang akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman.

“Artinya : Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya Malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [At-Tahrim : 6]

Menjaga keluarga dari api Neraka mengandung maksud menasihati mereka agar taat, bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan mentauhidkan-Nya serta menjauhkan syirik, mengajarkan kepada mereka tentang syari’at Islam, dan tentang adab-adabnya. Para Shahabat dan mufassirin menjelaskan tentang tafsir ayat tersebut sebagai berikut:

1. ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata, “Ajarkanlah agama kepada keluarga kalian, dan ajarkan pula adab-adab Islam.”

2. Qatadah rahimahullaah berkata, “Suruh keluarga kalian untuk taat kepada Allah! Cegah mereka dari berbuat maksiyat! Hendaknya mereka melaksanakan perintah Allah dan bantulah mereka! Apabila kalian melihat mereka berbuat maksiyat, maka cegah dan laranglah mereka!”

3. Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullaah berkata: “Ajarkan keluarga kalian untuk taat kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang (hal itu) dapat menyelamatkan diri mereka dari api Neraka.”

Untuk itulah, kewajiban seorang suami untuk membekali dirinya dengan thalabul ‘ilmi (menuntut ilmu syar’i) dengan menghadiri majelis-majelis ilmu yang mengajarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman Salafush Shalih -generasi yang terbaik, yang mendapat jaminan dari Allah-, sehingga dengan bekal tersebut dia mampu mengajarkannya kepada isteri dan keluarganya.

Jika ia tidak sanggup untuk mengajarkannya, hendaklah seorang suami mengajak isteri dan anaknya untuk bersama-sama hadir di dalam majelis ilmu yang mengajarkan Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, mendengarkan apa yang disampaikan, memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hadirnya suami-isteri di majelis ilmu akan menjadikan mereka sekeluarga dapat memahami Islam dengan benar, beribadah dengan ikhlas mengharapkan wajah Allah ‘Azza wa Jalla semata serta senantiasa meneladani Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Insya Allah, hal ini akan memberikan manfaat dan berkah yang sangat banyak karena suami maupun isteri saling memahami hak dan kewajibannya sebagai hamba Allah.

Oleh karena itu, kewajiban seorang suami harus memperhatikan pendidikan isteri dan anaknya, baik tentang Tauhid, shalat, bacaan Al-Qur’annya, pakaiannya, pergaulannya, serta bentuk-bentuk ibadah dan akhlak yang lainnya. Karena Islam telah mengajarkan semua sisi kehidupan, kewajiban kita untuk mempelajari dan mengamalkannya sesuai Sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

Begitu pula kewajiban seorang isteri adalah membantu suaminya mendidik anak-anak di rumah dengan baik. Seorang isteri diperintahkan untuk tetap tinggal di rumah mengurus rumah dan anak-anak, serta menjauhkan diri dan keluarga dari hal-hal yang bertentangan dengan syari’at Islam.

[7]. MENASIHATI ISTERI DENGAN CARA YANG BAIK

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewasiatkan agar berbuat baik kepada kaum wanita, berlaku lemah lembut dan sabar atas segala kekurangannya, karena mereka diciptakan dari tulang rusuk yang paling bengkok.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia
menyakiti tetangganya. Berwasiatlah kepada wanita dengan kebaikan. Sebab, mereka diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok adalah bagian atasnya. Jika engkau meluruskannya, engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, ia akan tetap bengkok. Oleh karena itu, berwasiat-lah kepada wanita dengan kebaikan.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5185-5186) dan Muslim (no. 1468 (62)), dari Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu.

[8]. MENGIZINKANNYA KELUAR UNTUK KEBUTUHAN YANG MENDESAK

Di antara hak isteri adalah suami mengizinkannya keluar untuk suatu kebutuhan yang mendesak, seperti pergi ke warung, pasar dan lainnya untuk membeli kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan hadits Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian (para wanita) keluar (rumah) untuk keperluan (hajat) kalian.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5237), dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha.

Tetapi, keluarnya mereka harus dengan beberapa syarat, yaitu:

  1. Memakai hijab syar’i yang dapat menutupi seluruh tubuh.
  2.  Tidak ikhtilath (berbaur) dengan kaum laki-laki.
  3.  Tidak memakai wangi-wangian (parfum).

Seorang suami pun dibolehkan untuk mengizinkan isterinya untuk menghadiri shalat berjama’ah di masjid apabila ketiga syarat di atas terpenuhi.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila isteri salah seorang dari kalian meminta izin untuk pergi ke masjid, janganlah ia menghalanginya.” Hadits shahih: Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5238), Muslim (no. 442 (134)), at-Tirmidzi (no. 570), an-Nasa-i (II/42) dan Ibnu Majah (no. 16), dari Ibnu ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Artinya : Janganlah kalian melarang para wanita hamba Allah mendatangi masjid-masjid Allah.”

 

KEWAJIBAN ISTRI, HAK SUAMI

  • Mena’ati suami selama hal itu bukan perbuatan maksiat.
  • Senantiasa menetap di rumah dan jika ke luar rumah seizin suami.
  • Jika berpuasa sunnah seizin suami jika suami di rumah.
  • Menjaga rumah dan harta suami serta dirinya ketika suami tidak ada di sisinya.
  • Hendaknya selalu bersyukur dan berterima kasih atas pemberian suami kepadanya dan senantiasa mendo’a-kannya.
  • Berbuat baik kepada keluarga suami dan kerabatnya.
  • Berhias untuk sang suami.
  • Memberikan waktu khusus bagi suami untuk keperluannya.
  • Tidak memberikan harta, kecuali atas izin suaminya.
  • Tidak menyebarkan rahasia suami dan menceritakan aibnya kepada orang lain.
  • Apalagi tentang hubungan suami istri, karena hal ini termasuk perkara yang sangat dilarang oleh syari’at.
  • Tidak menuntut cerai kepada suami tanpa alasan yang dibenarkan syari’at sebab nantinya ia akan diharamkan mencium bau surga.
  •  “Wanita manapun yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada alasan (yang benar) maka haram baginya (mencium) bau surga”. (HR. Ahmad, Abu Daud, At-Turmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ad Darimi, Al-Baihaqi, Al-Hakim)
  • Ridho dan iklash mengandung anak, menyusuinya selama dua tahun penuh dan memelihara serta mendidiknya sampai anaknya mencapai usia dewasa.
  • Menyenangkan suaminya ketika di rumah, memberikan pelayanan yang baik, dan mencari keridhaannya dengan memohon masuk surga kepada Allah Ta’ala.
    Rasulullah Shollalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
  •  “Setiap wanita yang meninggal dunia sedang suaminya ridha kepadanya, maka dia masuk syurga.” (HR. Ibnu Majah 1854 dan At-Turmudzi 1161).
  • Tidak menyakiti suami.
  • Suami yang beriman dan beramal sholih ditunggu oleh bidadari di syurga. Dari Muaz bin Jabal Radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di dunia, melainkan berkata istrinya dari bidadari di syurga, “Janganlah menyakitinya, semoga Alloh Subhanahu wa ta’ala mencelakakanmu karena sesungguhnya ia hanya semen-tara menemanimu dan akan meninggalkanmu untuk kembali kepada kami.” (HR. At-Turmudzi 1174, Ahmad 5/242, Hadits hasan).
  • Menjaga diri dan harta suaminya ketika suami tidak berada di rumah.

HAK BERSAMA SUAMI DAN ISTRI

  • Mensyukuri pernikahan sebagai anugrah dari Alloh Subhanahu wa ta’ala yang menjadikan halal dan sah sebagai suami istri.
  • Menjaga amanah berupa anak-anak. Mendidik dan merawat anak-anak semoga menjadi insan yang bertaqwa dan berbuat yang terbaik bagi kedua orang tuanya.
  • Bersama-sama menciptakan rumah tangga Islami. Kebiasaan dan keteladan yang baik dari orang tua akan ditiru oleh anak-anak mereka. Itulah akhlakul karimah dan merupakan cara memberikan pendidikan yang paling efektif.
  • Saling melindungi dan menjaga rahasia masing-masing. Sehingga kelemahan menjadi hilang dan kebaikan semakin tampak. Rumah tangga penuh dengan kedamaian dan keharmonisan serta kasih sayang. Rasul mengingatkan sebaik-baik kalian (para suami) adalah yang paling baik terhadap istrinya. Sebaik-baik wanita sholihah adalah yang taat dan melayani suami dan selalu membantunya dalam urusan akhirat dengan ikhlas.

KHOTIMAH

Allah dan Rasulullah Muhammad saw telah menggariskan hal-hal menyangkut kehidupan manusia. Dengan segala yang telah digariskan itu, insya Allah jika dilakukan, maka manusia tidak akan sesat selama-lamanya. Semoga kita semua bisa menjadi suami yang baik, dan istri yang baik. Semoga Allah swt meridhoi langkah-langkah kita.


We are The Future!

Category : Featured , Semua , Wawasan

A.     Karakteristik Pelajar (Pemuda)

Dalam  diri pemuda mempunyai karakteristik kritis, dinamis, reaktif, kreatif dan inovatif. Selain itu juga pemuda mempunyai jiwa yang relatif masih bersih dari polusi sekitar, karena mereka masih dalam proses memilih dan memilah hati dirinya untuk cita-cita masa depannya. Hal tersebut semua berpotensi ke arah kebenaran (keimanan) maupun ke arah kejahatan (kebathilan), tergantung apa dan bagaimana sikap dia terhadap input yang masuk padanya, serta di lingkungan mana dia dominan.

1.  Kritis

Para pemuda tidak mudah begitu saja menerima apa yang telah ada secara rutin terjadi di sekelilingnya. Hal itu bisa terlihat dengan sikap kritisnya terhadap apa yang terbiasa dilakukan generasi sebelumnya. Baik dengan cara mempertanyakan mengapa  dan bagaimana hal itu terjadi ataupun dengan cara mengabaikannya sama sekali karena merasa tidak memerlukannya.

 

Dan juga kecenderungan mereka terhadap sejarah, ada yang mensikapi sebagai berikut : bahan pengetahuan saja (sekedar memuaskan rasa ingin tahunya), mengambil pelajaran supaya tidak terulang (sejarah yang buruk) dan merubah/memperbaiki sejarah.

 

2.  Dinamis

Pemuda mempunyai sikap tidak mau/betah terhadap kestatisan, kejumudan maupun kemapanan. Pemuda lebih suka terhadap perubahan, baik itu perbaikan maupun penghancuran. Mereka senantiasa ingin bergerak, mengalir laksana air tidak tinggal diam karena ditunjang oleh emosi dan semangat dan bergelora.

 

3.  Reaktif

Seperti halnya teori aksi dan reaksi, para pemudalah yang mempunyai kepedilian (reaksi) terhadap aksi yang terjadi pada lingkungan sekitarnya baik dalam arti positif maupun dengan pengertian negatif.  Terhadap hal-hal yang bersifat ajakan, cegahan, pelanggaran maupun dukungan, bahkan sebagai ujung tombak kepedulian. Ini terjadi karena secara fisik masih kuat dan tingkat emosinya tinggi.

 

4.  Kreatif dan inovatif

Disamping itu pemuda senang pada sesuatu yang baru baik dari cara maupun isi, yang haq maupun yang bathil, tergantung kecenderungan dirinya ke arah mana ia berjalan. Mereka kreatif untuk mewujudkan konsep/kaidah-kaidah yang diyakininya, dan juga daya inovasinya tinggi untuk memperbaiki kreasi-kreasi yang telah ada sebelumnya. Mereka tidak kering dengan ide-ide segar untuk mewujudkan konsep/kaidah yang diyakininya tersebut, baik itu bersifat positif maupun negatif.

Karena pemuda masih dalam proses memilah dan memilih mana yang baik untuk dirinya, maka mereka terkadang plin-plan, kemana angin bertiup mereka ikut, (contoh : trend). Daya seleksi mereka tergantung dari lingkungan yang berada di sekitarnya, wawasan/pengetahuan yang dipunyainya, maupun kecenderungan moral yang biasa dengannya. Akan tetapi ketika telah menjatuhkan pilihannya mereka akan tegas mempertahankan keyakinannya. Mereka termasuk tahan banting terhadap resiko yang dihadapi; ketika sudah memilah dan memilih apa yang ia yakini dan harus diperjuangkannya.

 

Selain itu dalam diri pemuda pula terdapat berbagai potensi yang pada usia tersebut sedang klimaks, yaitu :

1.  Hamasah (semangat)

Dengan semangatnya Thomas Alfa Edison muda berhasil membuat penemuan besar. Dan dengan semangat dan keberanian pula pemuda masa lalu menggalang persatuan Nusantara dengan Sumpah Pemuda dan ngotot minta Soekarno dan Hatta segera melakukan Proklamasi. Begitu pula ketika Reformasi 28 Mei 1998.

2.  Quwwatul Jasad (kuat fisiknya)

Lihat bagaimana pemuda itu kuat fisiknya. Bandingkanlah dengan kekuatan fisik yang dimiliki oleh anak kecil maupun orang tua.

3.  Qolban Saliman  (masih bersih hatinya)

Pemuda adalah sosok yang polos, jujur, jernih dan tajam nuraninya, belum terlalu banyak dikotori oleh ambisi dan pikiran-pikiran culas. Sehingga jujur  dalam menyatakan kebenaran dan mengkritik kebathilan.

4.  Aqlan Dzakkiyan (cerdas akalnya)

Usia pemuda (pelajar) adalah usia yang sangat tepat untuk mempelajari segala ilmu penetahuan. Pada usia ini ingatan seseorang masih kuat, pikiran masih tajam, kreatif, dan inovatif. Maka benarlah jika ada pepatah mengatakan, Belajar di masa muda bagai melukis di atas batu, belajar di masa tua bagai melukis di atas air.

 

B.     Kondisi dan Lingkungan Pemuda

Jika kita memandang pada kondisi yang ada dewasa ini, di tengah derasnya arus globalisasi dan informasi, terlihat bahwa para pemuda tidak terarah pada tugas dan tanggung jawab yang ada pada pundaknya sebagai generasi yang kelak akan melanjutkan kehidupan masa depan, seharusnya selektif dan teliti terhadap arah dan dampak dari arus globalisasi tersebut.

Perhatian sebagian pemuda saat ini sudah tidak berorientasi kepada suatu usaha untuk menciptakan kondisi masyarakat yang mengindahkan kebenaran dan kebaikan, baik karena kondisi pribadi maupun karena rekayasa. Hal tersebut tidak hanya melanda pemuda-pemudi non muslim tapi juga sangat berdapak pada pola hidup pemuda-pemudi muslim.

Fenomena ini sangat gamblang terlihat pada saat kita menyaksikan betapa antusiasnya pemuda-pemudi muslim untuk hadir dalam setiap acara-acara yang jelas merupakan usaha untuk menjauhkan umat muslim dari pola hidup Islami.

Saat ini generasi muda disibukkan dengan film-film amoral, cerpen percintaan (picisan), pornografi (film, gambar, bacaan, pakaian, internet, dll), lagu-lagu yang melalaikan, frustasi, dan cengeng. Mengagumi artis yang berpenampilan glamour dan bermoral bejad, pecandu makanan/minuman terlarang. Dan kondisi-kondisi lain yang menipu, maupun penipuan-penipuan yang dilakukan secara sistematis dan terselubung.

Tema-tema remaja yang berisikan tentang sex, song, sport terasa mempunyai daya magnet tersendiri terhadap kehidupan remaja, tanpa terasa pemuda muslim berkerumum di sekelilingnya, tak ubahnya seperti laron-laron yang berkerumum di lampu neon yang sebenarnya justru membahayakan dirinya.

Kita harus sadar bahwa sebagian dari kita tertipu oleh lingkungan yang hanya terlihat secara lahir saja tetapi di dalamnya banyak hal yang melalaikan bahkan bejad.

Penyelewengan melanda di sekitar kita, termasuk pada keindahan/seni, fun, dan sport (olah raga) yang diselewengkan. Memang kita harus akui bahwa seni merupakan bagian dari keindahan atau justru keindahan itu adalah seni.

Hasil karya apapun, aspek keindahan/estetika/seni menjadi penentu dalam hal kesempurnaannya. Akan tetapi dunia seni sekarang bermakna rancu, dengan slogan “seni untuk seni” dijadikan alat bagi para seniman untuk berkelit dari seni-seni amoral. Misal : eksploitasi wanita telanjang sebagai obyek seni, tari-tarian erostis, syair-syair yang merangsang birahi, atau bahkan merongrong ke-Esaan Alloh SWT.

Kita juga bisa melihat kepada aspek sport yang kita terasa ternyata adalah media pamer aurot yang sebenarnya dengan pakaian layak pun tidak mengurangi keleluasaan bergerak.

Juga dalam bidang sosial, penyelewengan anti kebebasan dan sebuah kebinalan, pelestarian kebudayaan sebagai bungkus dari pelestarian norma-norma anti agama, dan penyelewengan ke-Maha Esaan Alloh SWT (kemusyrikan).

Dan juga penyelwengan bahasa, dari kata “demi kepentingan orang banyak” sebagai ganti kata keserakahan, kekuasaan untuk dirinya dan lain sebagainya.

Dalam kondisi pintu kejahatan (kebathilan) terbuka lebar dan kebenaran (keimanan) tertutupi kabut seperti itulah, para pemuda muslim hidup di lingkungan sekitarnya.

 

C.      Bagaimana Pemuda Muslim Bersikap

Dengan karakteristik kepemudaan yang telah dijabarkan pada bagian sebelumnya dan dengan tantangan kondisi dan lingkungan yang dihadapi oleh kita para pemuda muslim, maka selayaknyalah kita mawas diri terhadap sisi maka kita akan berpihak.

 

Pemuda Sebagai Generasi Penerus

Setiap keyakinan, setiap pola hidup, setiap konsepsi, setiap budaya selalu berkeinginan untuk terus menerus senantiasa hidup. Keinginan ini akan tampak dalam bentuk kekhawatiran generasi tua, apakah nilai-nilai yang mereka miliki akan diwarisi oleh generasi mudanya. Berkaitan dengan pewarisan nilai-nilai tersebut, maka pemuda akan menolak jika yang diwariskan itu nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai keimanan dan keislaman. Sebagaimana Ibrohim menolak untuk menyembah berhala buatan ayahnya.

 Ingatlah ketika Ibrohim berkata kepada Bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak dapat mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong sedikitpun ?” (QS. Maryam (19):42)

Ibrohim mengetahui bagaimana membuat berhala, ia juga tahu motivasi ayahnya membuat berhala semata-mata hanya motivasi ekonomi, dan Ibrohim tahu persis mengapa Namruz mengajarkan penyembahan berhala kepada kaumnya.

 

Pemuda Sebagai Generasi Pengganti

Dalam setiap perubahan yang ada di dunia ini selalu diawali dan digerakkan oleh para pemuda. Perubahan bisa menjurus ke arah kebenaran (keimanan) dan kesesatan. Islam memang memandang pemuda sebagai manusia yang penuh tanggung jawab yang harus melakukan perubahan ke arah kebenaran. Jika pada kenyataannya para pemuda tidak melakukan perubahan ke arah kebenaran, maka Alloh akan mendatangkan pemuda-pemuda lainnya yang lebih baik dengan kriteria sebagai berikut : (QS. An Nisaa 4:54)

  • Alloh cinta kepada mereka, mereka pun mencintai Alloh
  • Bersikap lembut terhadap sesama muslim dan bersikap keras kepada orang kafir
  • Tidak takut celaan orang-orang yang mencela

 

Pemuda Sebagai Generasi Pembaharu

Secara fithroh, orang-orang yang lemah akan mencari perlindungan kepada yang lebih kuat. Yang tergolong kepada orang-orang yang lemah antara lain : orang tua, wanita, dan anak-anak. Dan tentu saja kepada pemuda, yang diharapkan untuk menjadi seorang pemimpin. Untuk menjadi seorang pemimpin, pemuda harus mempunyai beberapa persyaratan sebagai berikut :

 

–      Keyakinan (Aqidah) yang Benar

Artinya bahwa para pemuda yang diharapkan menjadi generasi pembaharu (memperbaiki generasi sebelumnya) haruslah pemuda yang menjatuhkan pilihannya kepada keyakinan (aqidah) yang benar, yaitu aqidah Islamiyyah.

 

“Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku (pengabdianku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Alloh Robb semesta alam” (QS. Al An’am (6) : 162)

“Janganlah kamu bersikap lemah dan janganlah kamu bersedih hati, padahalkamu adalah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu benar-benar orang yang beriman (QS. Ali Imran (3) :139)

dengan aqidah (keyakinan) itulah para pemuda menjadikan titik tolak segala tingkah laku dan perbuatannya, arah perjuangannya dan pengorbanan dari resiko yang akan dihadapinya.

 

–      Pemikiran yang Cemerlang (wadhih)

Selain dari keyakinan, kematangan operasionalnya pun harus dipersiapkan. Yaitu dengan pola pikir yang cemerlang, jelas berwawasan ke masa depan, terutama ukhrowi dan juga dunia. Sehingga dengan demikian dapat memilah antara pemikiran kebenaran (keimanan) dengan alam pemikiran kejahatan (kebathilan). Jadi nilai-nilai yang haq dan yang bathil jelas terlihat di hadapannya, dan ia dapat mensikapinya bukan mencapuradukkannya.

        “Dan janganlah kamu campur adukkan yang haq dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang haq itu sedangkan kamu mengetahui” (QS. Al Baqoroh (2) : 42)

Tidak juga mensikapi nilai, hanya sekedar mengikutinya tanpa pengetahuan, dan tidak pula dengan mendiamkannya sebagai konsep belaka tanpa membudayakan pengalamannya. Karena aspek nilai harus ditunjang oleh budaya/lingkungan dan juga ilmu.

“Dan  janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungjawabannya” (QS. Al Isro’ (17) :36)

        Sedangkan budaya  tidak akan timbul  jika tidak ada orang-orang yang memelopori pengamalannya. Nilai tanpa budaya yang melingkupinya akan terjadi standar ganda terhadap nilai itu sendiri. Baik dengan pengamatan yang hanya sepotong-potong, ataupun akibat ketidakberdayaan kepada kondisi lingkungan yang dihadapi akan terjadi akulturasi nilai-nilai Islam.

 

–      Akhlaq yang terpuji

Pembaharu tidak akan memperbaiki keadaan jika akhlaq yang dibawanya atau dilakukannya bertentangan dengan yang aqidah diyakininya. Oleh karena akhlaq merupakan modal yang cukup penting untuk mewujudkan nilai-nilai al-Haq (Islam). Seseorang yang sudah berinteraksi dengan nilai-nilai Islam haruslah mempunyai kepribadian yang Islami. Seperti halnya akhlaq Rosululloh SAW yang merupakan contoh teladan bagi generasi muslim bahwa sistem hidup ajaran Islam yang utuh dapat diamalkan oleh manusia biasa.

 

–      Jasad (Fisik) yang Kuat

Selain faktor-faktor tersebut di atas, tentunya tidak akan berdiri kuat jika tidak ditopang oleh badan yang sehat, fisik yang kuat. Karena kelemahan fisik akan banyak mempengaruhi lancar tidaknya kegiatan yang dilakukan. 

“Mu’min yang kuat lebih dicintai Alloh daripada mu’min yang lemah” (Al Hadits)

 

Oleh karenanya Rosululloh SAW menganjurkan untuk berolah raga, yaitu olah raga berenang, berkuda (mengendari kendaraan), dan memanah (ketangkasan alat),

Di samping untuk menyehatkan fisik juga untuk membiasakan tangkas terhadap alat, perkakas maupun teknologi, juga terlatih untuk mengendarai  kendaraan.

Pemuda dengan segala potensi dan peranan yang diembannya membutuhkan suatu pendidikan dan pembinaan yang mengantarkan mereka kepada pemuda yang berjiwa militan, kuat dan shobar untuk merentas jalan da’wah yang berliku ini guna menegakkan Islam. Sehingga sosok syakhsiyyah islamiyyah yang mantap itu dapat senantiasa harum dan menjadi contoh baik kepada generasi berikutnya, amal sholih yang pahalanya mengalir sepanjang masa. Insya Alloh.

 

Tugas Pelajar Muslim

Untuk dapat berperan dalam posisinya secara benar, tentu saja pelajar muslim harus mempersiapkan diri hal-hal yang harus dipersiapkan, itulah yang menjadi tugas seorang pelajar muslim :

1.    Belajar dan menguasai IPTEK

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan muslim perempuan. (Al Hadits).

Hal ini merupakan konsekuensi kita seorang pelajar. Belajar di sini dalam arti seluas-luasnya, maksudnya bukan aktivitas duduk di depan meja, tenang, baca buku malam hari, atau jika perlu sampai pagi hari. Itu pengertian belajar yang sangat sempit sekali. Tujuan belajar itu adalah ilmu bertambah dan paham akan ilmu tersebut. Dengan kata lain, hakikat hidup ini adalah belajar. Mempelajari segala sesuatu yang ada di dalam dan di luar langit dan bumi ini untuk dikembangkan dan diambil mashlahat dan manfaatnya. Sebagaimana firman Allah

Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS.Ali Imran (3) :190)

2.    Belajar dan Memahami Islam (QS. 3:18, 35:28, 58:11)

Sebagai konsekuensi kita seorang muslim.

Pada dasarnya setiap manusia yang dilahirkan adalah fithrah (Islam), maka ia adalah seorang muslim. Dan konsekuensinya dia harus paham dengan apa yang dianutnya. Dengan demikian manusia harus belajar apa itu Islam dan apa saja yang dikandungnya, yaitu dengan mempelajari Al Qur’an dan Sunnah Rasul. Karena Islam memandang, bahwa umat Islam akan mengalami kemajuan dan kesuksesan, manakala umat Islam senantiasa merujuk Al Qur’an dan Sunnah Rosul dalam setiap tingkah laku di segala aspek kehidupan. Dan sebaliknya, seorang muslim akan mengalami kemunduran dan kehancuran ketika ia telah meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah Rosul sebagai pedoman hidupnya.

3.    Mengimani Segenap Ajaran Islam (QS. 24:51, 2:165, 3:31, 53:3-4)

Sebagai konsekuensi sebagai seorang muslim yang terpelajar

Tidak sekedar paham Islam saja, karena pahan itu tempatnya di otak dan itu semua butuh diyakini.

4.    Mengamalkan dan menda’wahkan Islam (QS. 103:1-3, 3:110, 2:44, 41:33)

Sebagai konsekuensi kefahaman dan keimanan seorang muslim yang terpelajar

Allah memberi balasan hanya kepada amal kita. Jadi meskipun ilmu kita setinggi langit, namun tidak diamalkan, percuma.

Ibnu Qoyyim pernah berteori tentang psikolog kognitif, beliau mengatakan “setiap hati kita akan jumpai lintasan atau pikiran dari melihat, mendengar, meraba, dll. Lalu dari situ termemorikan di otak. Jika lintasan itu sering lewat akan menjadi gagasan. Jika gagasan kuat dalam diri kita, maka akan menjadi keyakinan. Lalu bila keyakinan kuat, akan menjadi kemauan, sehingga kita akan melakukannya menjadi suatu tindakan. Dan bila sering dilakukan, maka akan menjadi kebiasaan, jika itu berlangsung lama akan menjadi watak. Jika sudah sampai yang akhir ini, maka akan susah dihilangkan.

Kemudian itu semua tidak cukup hanya untuk kita saja, sebisa mungkin untuk ditularkan atau mengajarkan atau menda’wahkan ilmu yang kita miliki ke orang-orng sekitar kita.

 

Shiroh Pemuda Pilihan

Kisah Ashabul Kahfi

Sikap tegas menolak paksaan dari  penguasa dzolim yang dilakukan oleh Raja Deqyanus memaksa para pemuda Ashabul Kahfi  agar bersedia mengikuti aliran kepercayaan menyembah sesembahan selain Alloh SWT. Para pemuda itu menolak dan berkata tegas “Tidak!”.  Sebagaimana dalam firman Alloh (artinya)

“Pada waktu mereka berdiri tegak (di hadapan raja yang dzolim) lalu mereka berkata : “Robb kami adalah Robb langit dan bumi, kami sekali-kali tidak menyembah Ilah selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran (QS. Al Kahfi 18:14)

Para pemuda Ashabul Kahfi tersebut tidak bersedia mengikuti perintah raja yang dzolim, mereka tidak mengikuti kepercayaan untuk menyembah berhala yang dipaksakan penguasa, mereka tetap menyembah Alloh Yang Mahakuasa.

 

Kisah Ibrohim AS

Sikap kritis yang ditunjukkan Nabi Ibrohim AS terhadap adat yang terjadi secara turun temurun dari kaumnya. Seperti dikisahkan dalam Al Qur’an, Asy Syu’aro (26) :70-80 berikut (artinya): 

“Ketika Ibrohim berkata kepada bapaknya dan kaumnya ‘Apakah yang kamu sembah?’”

Kemudian kaumnya menjawab dengan tegas, walaupun dari suatu keyakinan yang salah.

“Mereka (kaumnya) menjawab : ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa menyembahnya’”.

Dengan kritis Ibrohim AS menanyakan alasan (argumentasi mereka menyembah berhala dari segi kemanfaatan dan pengetahuannya).

“Berkata Ibrohim, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar (do’a)mu sewaktu kamu berdo’a (kepadanya) ? Atau dapatkan mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi mudhorot?’”

Ternyata dengan pertanyaan kritis seperti itu, mereka mengaku bahwa memang tidak ada pengetahuan atasnya.

“Mereka menjawab, ‘(Bukan karena itu) Sebenarnya kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian’”.

Kemudian Ibrohim AS memberikan penjelasan

“Ibrohim berkata, ‘Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu terdahulu ? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Robb semesta alam’”.

Kemudian Ibrohim menerangkan fungsi Robb semesta alam tersebut dengan perkataan :

“(yaitu Robb) Yang telah menciptakan aku, maka Dia-lah yang menunjuki aku, dan Robb-ku Dia-lah Yang memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit Dia-lah yang menyembuhkan aku dan yang akan mematikanku kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Dia-lah Yang amat aku inginkan mengampuni kesalahanku pada hari qiyamah”

Begitulah sikap kritis yang ditunjukkan Nabi Ibrohim As yang beliau memberikan contoh untuk tidak menerima begitu saja kebiasaan (adat) yang terjadi di lingkungan sekitarnya apalagi menyangkut eksistensi Pencipta.

 

Kisah Ismail AS

Sikap ikhlas dan shobar yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrohim dan puteranya Ismail AS ketika diuji Alloh seperti yang dikisahkan dalam Al Qur’an Ash Shoffat (37) : 102

Ibrohim berkata (artinya)

“Wahai anakku (Ismail) sesungguhnya aku lihat dalam mimpi bahwa aku akan menyembelihmu, maka fikirkanlah apa yang engkau putuskan ?”

Nabi Ismail AS dengan tho’at kepada Alloh SWT, shobar dan ikhlas menerima ujian dan tantangan hidup tidak ragu untuk memberikan keputusan

“Wahai bapakku! Kerjakanlah apa yang engkau perintahkan! Insya Allah akan engkau dapati aku termasuk orang-orang yang shobar”

 

Kisah Yusuf AS

Sikap tegas dan berani mengambil resiko seperti yang ditunjukan oleh Nabi Yusuf AS merupakan hal yang patut dicontoh, ketika ia menolak godaan dan rayuan dari Istri Raja Mesir, Siti Zulaikha padahal kesempatan itu ada di depannya. Dalam Al Qur’an Suroh Yusuf (32) :12.


Urgensi Ilmu dan Pentingnya Mengaji

Category : Featured , Semua , Wawasan

Pendahuluan

Sebuah persoalan besar yang menjadi salah satu kelemahan utama umat Islam pada saat ini adalah tidak adanya kebiasaan dan budaya tarbiyah dalam kehidupan keseharian mereka. Ketiadaan tarbiyah pada umat Islam sama halnya dengan ketiadaan kekuatan ruh yang menjiwai aktifitas kehidupan keseharian mereka. Sedangkan generasi masa Rasulullah adalah generasi yang menjadikan tarbiyah sebagai bagian dari kehidupan mereka. Mereka adalah generasi rabbani yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya sebagaimana yang Allah firmankan di dalam Q. Ali Imran:79 : Tetapi jadilah kalian orang-orang rabbani, disebabkan kamu selalu mengajarkan Al Quran dan disebabkan kamu senantiasa mempelajarinya”.

 

Umat Islam saat ini sudah sangat jarang berinteraksi dengan Al Quran dan semakin menjauhinya. Akibat menjauh dari Al Quran maka akan jauh dari tarbiyah dan berdampak terhadap kekebalan Islam, Berarti pula mereka telah kehilangan kekebalan dalam menghadapi berbagai serbuan dari kaum kafir dan musyrik yang menggunakan berbagai pola dan sistem untuk menghancurkan umat Islam. Interaksi dengan Al Quran akan membawa keselamatan. Allah berfirman dalam Q. Al Maidah:16, “Dengan kitab (Al Quran) itu Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaanNya ke jalan-jalan keselamatan. Dan dengan (Al Quran) itu Allah mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizinNya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus”. Sedangkan menjauh dari Al Quran akan membawa kesempitan. Allah berfirman dalam Q. 20:124, “Barangsiapa berpaling dari peringatanKu maka baginya sungguh ada kehidupan yang sempit”. Adapun sistem rabbani yang telah membentuk kekuatan dan kekebalan bagi kaum muslimin adalah seperti yang dijalankan oleh Rasulullah SAW yaitu mentarbiyah kaum muslimin yang terdiri dari tarbiyah ruhiyah, tarbiyah aqliyah dan tarbiyah amaliyah.

 

Tanpa tarbiyah, umat menjadi lemah dan berpecah sehingga mengakibatkan pemimpin umat Islam tidak berdaya. Adanya krisis kepemimpinan dalam tubuh umat Islam yang ditandai oleh tiadanya khilafah Islam merupakan posisi terendah tahapan perjuangan umat pada saat ini. Kemerdekaan yang menghasilkan negara yang terkotak-kotak telah menyebabkan sebagian kaum muslimin bersyukur dengan kemerdekaan negara yang diperolehnya. Hal ini ternyata menjadi sarana invasi pemikiran dan pemurtadan yang berhasil merubah keadaan umat Islam. Mereka semakin tidak mengetahui hakikat Islam dan tidak sedikit yang keluar dari Islam (berpindah agama). Sementara kebanggaan terhadap ideologi kaum kafir merupakan hal yang biasa dilihat di negara-negara yang telah merdeka. Adapun negara-negara muslim yang merdeka tersebut ternyata kebanyakan justru tidak dipimpin oleh orang-orang yang dikenal komitmennya terhadap Islam. Maka jadilah negara itu lemah dan tidak berdaya menghadapi serbuan kaum kafir dalam melakukan perang pemikiran dan pemurtadan.

 

Membentuk Kepribadian Muslim dan Dai

 

Hal utama yang mesti dilakukan oleh umat Islam pada saat ini adalah berupaya semaksimal mungkin kembali kepada ajaran Islam, yang dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan selanjutnya adalah terbentuknya masyarakat Islam. Hal ini seperti yang difirmankan Allah dalam Q. Ali Imran: 102, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benar takwa dan janganlah kamu mati melainkan dalam keadaan berserah diri(Islam) “. Tarbiyah adalah solusi yang mampu menyelamatkan muslim sekaligus menjadi media untuk pembentukan pribadi, keluarga dan masyarakat Islam. Tarbiyah merupakan sebuah kewajiban dari Allah kepada umat Islam untuk mengajak manusia kembali kepada Islam. Pembinaan yang terus menerus serta adanya kaderisasi adalah jalan untuk membentuk umat yang Islami. Hal ini seperti yang difirmankan Allah dalam Q. Ali Imran:104, “Dan hendaklah ada di antara kanuc satu umat _yang mengajak kepada kebaikan, yang menyuruh mengerjakan yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung”.

 

Rumus Ajaib (Iman + Ilmu = Sukses!)

 

Saya punya sebuah rumus nih, nah dengan rumus ini, insya Allah kita jadi lebih tahu akan pentingnya ilmu.

1. Iman – Ilmu = tertipu

Orang yang memiliki iman yang kuat belum tentu akan sukses apabila ia tidak memiliki ilmu yang kuat untuk mendasarinya. Makanya, ia akan menjadi orang yang akan selalu tertipu di dunia. Contoh: orang yang selalu beribadah kuat, dan sewaktu-waktu ia keluar ke pasar untuk membeli bayam, ia diberitahu, harga bayam 10000, padahal harganya hanya 3000, atau contoh yang lain.

2. Ilmu – Iman = penipu

Contoh orang yang memiliki ilmu tentang akuntansi akan membuat kecurangan dalam pelaporan keuangan karena lemahnya iman, orang yang memiliki kemampuan tentang perkuncian, karena lemahnya iman ia akan menduplikasi kunci untuk kemudian dipergunakannya untuk membobol rumah orang.

3. (-) iman – ilmu = rugi dunia akhirat

Ah, yang ini sudah pasti

4. Iman + ilmu = sukses

Yang ini yang dicari, makanya, cari ilmu dan pertinggi keimanan.

Kecerdasan duniawi bisa didapat di bangku sekolah, namun waktu yang singkat dalam mempelajari agama tidak cukup untuk memperkuat keimanan kita. Nah disinilah pentingnya tarbiyah Islamiyah. Tunggu apa lagi, mari kita tingkatkan keilmuan dan keimanan kita.